Senin 29 Aug 2016 18:30 WIB

Arti Nama Aljaferia

Rep: c62/ Red: Agung Sasongko
Bagian dalam Istana Aljaferia, Zaragosa, Spanyol.
Foto: flickr.com
Bagian dalam Istana Aljaferia, Zaragosa, Spanyol.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Istana ini didirikan pada periode Muluk at-Tawa'if (raja-raja kelompok atau golongan) antara tahun 1046-1081, yang disebut Aljaferia. Istana Aljaferia adalah bekas istana kediaman raja-raja dinasti Bani Hud, penguasa Muslim di Zaragoza.

Istana ini dibangun pada pertengahan abad ke-11 M. Namun, sejak kota ini jatuh ke tangan tentara salib, bangunan istana yang megah ini digunakan sebagai tempat tinggal resmi Raja Kristen Spanyol beserta keluarganya, yang dimulai oleh Raja Pedro IV dari Aragon.

(Baca: Keindahan Istana Aljaferia Spanyol)

Sejak dibangun, Istana Aljaferia mengalami beberapa kali renovasi. Andrew Petersen dalam Dictionary of Islamic Architecture mengungkapkan, perbaikan pertama kali dilakukan pada zaman kekuasaan Islam, yakni terhadap dinding bagian luar istana. Renovasi selanjutnya tercatat dilaku kan pada 1492. Kemudian pada 1593, beberapa bagian bangunan dalam kompleks istana ini dikonversi menjadi pangkalan militer.

Aljaferia diambil dari nama pendirinya, Abu Ja'far Ah mad bin Sulaiman (1049- 1083). Abu Ja'far merupakan penguasa Zaragoza dari Bani Hud, salah satu dari raja-raja kecil (Muluk at-Tawa'if) yang berkuasa di Andalusia, Spanyol. Dinasti ini berkuasa pada kurun waktu 1039- 1118 M.

Dinasti Bani Hud mulai me  nancapkan kekuasaannya di wilayah Zaragoza setelah berhasil mengalahkan saingan me reka, yakni Bani Tujibi. Di ba wah pimpinan Sulaiman bin Hud al-Judhami yang bergelar al-Mustain I, pasukan Bani Hud berhasil merebut Zaragoza dari tangan tentara Bani Tujibi pada 1039.

Al-Mustain I memerintah hing ga 1046. Sepeninggalnya, tak hta kerajaan diambil alih oleh putranya yang bernama Abu Ja'far Ahmad bin Sulaiman yang bergelar al-Muqtadir. Ia berkuasa dari 1046 hingga 1081.

Setelah kepemimpinannya, ia digantikan oleh Yusuf al- Mutamin (1081-1085). Ahmad bin Yusuf (1085-1110) yang bergelar al-Mustain II memegang tampuk pemerintahan menggantikan al- Mutamin. Ketiga pemimpin Bani Hud ini dikenal sebagai pencinta budaya dan seni.

Kendati memiliki kedaulatan penuh atas wilayah Zaragoza, da lam perjalanannya penguasa Bani Hud dipaksa untuk tunduk kepada penguasa Kristen dari Ke rajaan Kastilia. Sejak awal 1055, mereka juga diwajibkan untuk membayar upeti kepada penguasa Kastilia.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement