Senin 18 Apr 2022 10:53 WIB

Ibnu Qudamah: Sang Penghulu Tafsir dan Hadis (Bag 2)

Ibnu Qudamah: Sang Penghulu Tafsir dan Hadis (Bag 2)

Rep: Nidia Zuraya/ Red: Heri Ruslan
Ilustrasi Hadist
Foto: MGROL100
Ilustrasi Hadist

REPUBLIKA.CO.ID, Ketika bermukim di Damaskus, Ibnu Qudamah menjadi  imam penduduk Suriah.  Ia begitu disegani dan dihormati karena ilmu-ilmu agama yang dikuasainya. Salah seorang keponakannya, Ad-Dhiya' al-Maqdisi, menyebut Ibnu Qudamah sebagai penghulu di bidang tafsir, hadis, dan masalah-masalah peliknya.

Dalam bidang fikih (Mazhab Hanbali, red) ia adalah  orang nomor satu  di zamannya. Masalah khilafiyah ia kuasai. Dalam ilmu faraid, ia jagonya. Sementara dalam bidang usul fikih, nahwu, hisab dan ilmu kosmografi, Ibnu Qudamah bisa dikatakan merupakan imamnya.

Tak heran jika al-Manni, gurunya, memuji kehebatan ilmu Ibnu Qudamah dengan sebuah kalimat, ‘’Bila kau pergi dari Baghdad maka tak ada yang bisa menggantikanmu.’’ Karena pengetahuannya yang luas itu, tak mengherankan jika majelis yang diselenggarakannya selalu sesak oleh kalangan fuqaha (ahli fikih), muhadditsin (ahli hadits) dan pecinta ilmu.

Setiap hari, Ibnu Qudamah mengajar dari pagi hingga siang hari. Setelah waktu zuhur, pengajian ini diteruskan hingga senja.  Para santri yang mengikuti pengajian Ibnu Qudamah tidak pernah merasa bosan. Sebagai seorang pendidik, ia dikenal telaten mendidik murid-muridnya itu. Ia juga kerap menyelingi pengajiannya dengan cerita dan humor.

 

Kesan pertama yang didapat oleh orang yang melihat Ibnu Qudamah adalah decak kekaguman. Dalam buku "Guruku di Pesantren" dipaparkan bahwa postur tubuh Ibnu Qudamah sulit dicari tandingannya. "Berperawakan sempurna, kulit putih, wajah ganteng bersinar, seakan cahaya menyorot dari wajahnya, kening lebar, jenggot panjang, hidung mancung, kedua alis menyatu, kepala kecil, ramping, tangan dan telapak kakinya lembut,'' begitu Ad-Dhiya' mengungkap ciri-ciri lahiriyah Ibnu Qudamah dalam biografinya yang ia karang sebanyak dua juz.

Bukan cuma penampilan lahir saja yang patut diacungi jempol. Kepribadian Ibnu Qudamah juga pantas dibanggakan. Dia berotak jenius, berhati bersih, wara', penyabar, pendiam, pemalu, lemah lembut, tidak senang dunia, rendah hati, dermawan, mencintai anak kecil dan orang miskin. Karena akhlaknya yang mulia ini sejarawan Yusuf Sibth al-Jauzi, dalam "Mir'ah as-Zaman" berkata, ‘’Siapa yang melihat Ibnu Qudamah bagaikan melihat seorang sahabat Nabi.’’

Senyum selalu tersungging di bibirnya, bahkan ketika ia berdebat sekalipun. Setiap hari Jumat, Ibnu Qudamah membuka acara perdebatan mengenai bermacam-macam permasalahan umat kala itu bertempat di Masjid Amawi, Damaskus. Ia tidak berdiksusi kecuali senyum dengan tersimpul di bibirnya. Bahkan ketika ia mengalahkan lawan bicaranya pun dengan senyuman itu. (bersambung)

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement