Wednesday, 16 Rabiul Awwal 1441 / 13 November 2019

Wednesday, 16 Rabiul Awwal 1441 / 13 November 2019

Urgensi Ibadah

Rabu 19 Jun 2019 04:04 WIB

Red: Agung Sasongko

Umat Islam saat beribadah di Masjid Lautze, Sawah Besar, Jakarta (ilustrasi)

Umat Islam saat beribadah di Masjid Lautze, Sawah Besar, Jakarta (ilustrasi)

Foto: Republika/Putra M. Akbar
Ibadah adalah identitas keislaman dan keimanan seseorang kepada Allah SWT.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Attabik Luthfi

"Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku." (QS adz-Dzariyat: 56).

Era kehidupan yang terus berkembang sangat dinamis, membutuhkan tuntunan yang mengarahkan dan menyadarkan perilaku manusia untuk lebih dekat dengan kehendak Sang Maha Kuasa. Kehendak itu dalam bentuk ibadah mengabdi kepada-Nya dalam seluruh aktivitas kehidupan. Jika tidak, dikhawatirkan semakin berat beban kehidupan yang harus dipikul karena kemaksiatan dan ketidakpatuhan yang semakin menggejala. 

Kehidupan serbabebas, liar, dan tanpa kendali merupakan fakta nyata semakin jauhnya kehidupan manusia dari rel yang telah digariskan oleh Sang Maha Pencipta. Akibatnya, kehidupan ini kerap dihantui dengan bencana, musibah, dan malapetaka yang datang silih berganti, sebagai buah dari pengingkaran dan keengganan manusia mengikuti petunjuk dan kehendak Allah SWT. 

Ayat di atas layak untuk direnungkan bersama sebagai bahan muhasabah secara kolektif atas perilaku kehidupan manusia sehari-hari. Ayat ini termasuk ayat iradatullah, dalam arti kehendak dan ketentuan Allah SWT yang bersifat mengikat—siapa pun dari bangsa jin dan manusia. Iradah Allah sudah ada sebelum penciptaan seluruh makhluk, termasuk manusia dan jin. Kedua makhluk ini ditentukan dengan iradah Allah bahwa tujuan penciptaan mereka dalam kehidupan ini adalah semata-mata untuk mengabdi beribadah kepada Allah.

Imam Ibnu Katsir menuturkan, secara filosofis matalamat penciptaan jin dan manusia dalam ungkapannya, "Sesungguhnya Aku menciptakan mereka agar Aku perintahkan mereka beribadah kepada-Ku. Bukan karena hajat-Ku kepada mereka." Pandangan ini diperjelas dengan ayat setelahnya yang menjadi ciri khas metode Ibnu Katsir, "Aku tidak menghendaki rezeki dari mereka, dan tidak pula Aku menghendaki agar mereka memberi makan kepada-Ku." (QS adz-Dzariyat: 57).

Ayat ini penting untuk dikemukakan secara korelatif. Ketaatan atau ketundukan seseorang umumnya identik dengan dorongan faktor kebutuhan atau kepentingan. Karena itu, Allah SWT menafikan hal tersebut, bahkan menyatakan sebaliknya: Dialah justru Yang Maha Memberi lagi Mahakuat (QS adz-Dzariyat: 58).

Di ayat yang lain, Allah SWT menegaskan sifat fakir manusia, dalam arti sangat berhajat dan bergantung kepada Allah SWT dalam segala hal, sedang Allah Maha Mencukupi seluruh kebutuhan hamba-Nya lagi Maha Terpuji. "Hai sekalian manusia, kalianlah yang sangat fakir (membutuhkan) kepada Allah. Dan Allah Dialah Yang Mahakaya lagi Maha Terpuji." (QS Fathir: 15)

Ketiga deklarasi Alquran di atas merupakan argumentasi yang tak terbantahkan bahwa memang seharusnya manusia hanya tunduk, taat, dan mengabdi kepada Allah SWT dalam seluruh kehidupannya, sebagai hak dan konsekuensi mendasar dari tujuan utama penciptaan. Jika tidak, berarti manusia sudah keluar dari ketentuan azali yang bersifat mengikat tersebut.

Rasulullah SAW membahasakan ibadah sebagai hak Allah yang harus dipenuhi oleh seluruh hamba-Nya. Sebagai timbal baliknya, Allah tidak akan mengazab mereka yang taat beribadah dengan tidak melakukan syirik dalam semua peribadatan mereka. Dalam ruang kehidupan yang luas dan variatif, menunaikan Ibadah kepada Allah dalam maknanya yang komprehensif memiliki tingkat urgensi yang tinggi dalam kehidupan seorang Muslim. 

Pertama, ibadah adalah identitas keislaman dan keimanan seseorang kepada Allah SWT. Identitas ibadah inilah yang akan menjadi pembeda antarseseorang, kelompok masyarakat, maupun umat dalam kehidupan. 

Kedua, ibadah merupakan simbol dan tanda ketundukan seseorang di hadapan Sang Pencipta. Kesalahan iblis yang mendasar adalah keengganan untuk tunduk dan patuh kepada Allah SWT dalam bentuk sujud kepada Nabi Adam AS. Karena itu, iblis layak menerima hukuman yang bersifat permanen: terlaknat dan dijauhkan dari rahmat Allah SWT.

Ketiga, ibadah merupakan media meraih keberkahan. Kehidupan yang sangat beragam dan luas cakupannya jika tidak dilandasi dengan ibadah maka tidak bernilai apa pun di sisi Allah SWT. Pekerjaan yang digeluti oleh seseorang, kekayaan yang dimilikinya, keluarga yang dibinanya, masyarakat yang berdampingan dengannya, dan seluruh anugerah Allah kepada dirinya merupakan ujian ubudiyyah kepada Allah SWT. Ketika lulus dari ujian ini, maka kehidupan seluruhnya bernilai keberkahan yang membawa kepada ketenangan dan kebahagiaan. 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA