Kamis, 18 Safar 1441 / 17 Oktober 2019

Kamis, 18 Safar 1441 / 17 Oktober 2019

Keistimewaan Istighfar, Memohon Ampun kepada Allah

Ahad 26 Mei 2019 21:39 WIB

Red: Hasanul Rizqa

Munajat (ilustrasi).

Munajat (ilustrasi).

Foto: Wordpress.com
Seorang mukmin sangat dianjurkan untuk memohon ampun kepada Allah, atau istighfar

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Deden Zaenal Muttaqien     

Baca Juga

Manusia tak luput dari kesalahan, baik vertikal maupun horizontal. Vertikal berarti seorang hamba terhadap Tuhannya dan horizontal berarti terhadap sesama manusia.

Manusia memang diciptakan dalam keadaan lemah. Tapi, ia diberi kemampuan oleh Allah SWT untuk memilih mana yang baik dan mana yang buruk. Sebagai manusia, Nabi Adam AS sempat tergoda oleh rayuan iblis untuk mendekati buah khuldi yang dilarang Allah SWT.

Namun, karena Adam AS tidak terlena dengan kesenangan sesaat, ia kembali pada fitrahnya. Adam bertobat kepada Allah SWT. Nabi Muhammad SAW pernah bersabda tentang tobat ini. "Setiap anak Adam adalah bersalah dan sebaik-baiknya orang yang melakukan kesalahan adalah mereka yang mau bertobat." (HR Bukhari).

Salah satu jalan untuk memohon ampunan-Nya adalah istighfar. Istighfar berasal dari istaghfara, yastaghfiru, dan kata dasarnya adalah ghafara yang artinya 'tutup.'

Secara bahasa, istighfar adalah memohon perlindungan, pertolongan, atau pengampunan (maghfirah) atas segala dosa yang dilakukan oleh seorang hamba dengan upaya untuk tidak mengulangi perbuatan tersebut sehingga kembali kepada fitrah kemanusiaan. Hal ini dapat dilakukan, baik dengan perkataan maupun perbuatan.

Dalam asmaul husna, kita menemukan kata Alghafur, Alghaffar, dan Alghafir yang artinya Zat Yang Maha Menutup Dosa para hamba-Nya serta mengampuni kesalahan-kesalahan dan dosa mereka.

Karena itu, Nabi SAW mengajarkan kita untuk beristighfar. Bahkan, dalam banyak riwayat, Rasulullah SAW beristighfar minimal 70 kali dalam sehari. Padahal, Nabi  Muhammad adalah maksum (yang dijamin suci dari dosa).

Pernah suatu hari, seorang ulama tabiin, Hasan Al Bashri, didatangi banyak orang untuk meminta nasihat agama dan berbagai persoalan. Di antara mereka, ada yang mengeluhkan sawah yang mengering. Kemudian, Hasan Al Bashri menyuruhnya agar ia beristighfar. Ada juga yang mengeluhkan kemiskinan, belum dikaruniai anak, ladangnya gagal panen, dan banyak persoalan lainnya. Namun, Hasan Al Bashri lagi-lagi menyuruh mereka untuk beristighfar.

Hal ini tentu membuat seorang Ar-Robi' bin Shabih bertanya kepada Hasan Al Bashri, "Mengapa setiap kali engkau ditanya tentang segala persoalan, engkau menyuruh mereka untuk beristighfar?"

Hasan Al Bashri menjawab dengan tenang, "Sungguh, jawabanku itu bukanlah berasal dariku. Sebenarnya, Allah SWT telah berfirman, 'Beristighfarlah (mohon ampun) kepada Tuhanmu. Sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat dan membanyakkan harta dan anak-anakmu serta mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai." (QS Nuh:10-12).

sumber : Pusat Data Republika
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA