Friday, 16 Rabiul Akhir 1441 / 13 December 2019

Friday, 16 Rabiul Akhir 1441 / 13 December 2019

Keburukan di Atas Keburukan

Sabtu 16 Feb 2019 04:04 WIB

Red: Agung Sasongko

Takwa (ilustrasi).

Takwa (ilustrasi).

Foto: blog.science.gc.ca
Kehadiran Islam bertujuan untuk melahirkan manusia berkeadaban.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Ustaz Hasan Basri Tanjung

Baca Juga


Sejatinya Islam adalah agama kedamaian yang mendatangkan keselamatan bagi setiap insan dan semesta alam. Sebab, makna dasar Islam adalah damai, selamat, dan tunduk kepada Allah SWT yang Mahakasih dan Mahasayang.

Kehadiran Islam bertujuan untuk melahirkan manusia berkeadaban. Tentu peradaban hanya akan lahir dari orang-orang yang beradab, yakni bertauhid kepada Allah SWT, mencintai Rasulullah SAW, memuliakan ulama, orang tua dan menabur benih-benih kebajikan.

Nabi Muhammad SAW adalah seorang pendidik sejati yang diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia yang rusak oleh kemusyrikan, keangkuhan, dan keserakahan (HR Bukhari). Pendidikan Islam mesti bermuara pada adab mulia. Keadaban ini tengah terciderai, yang menurut Prof Naquib Al-Attas disebut sebagai loss of adab (kehilangan adab).

Seperti kejadian memilukan di Gresik, Jawa Timur, baru-baru ini, yakni seorang murid SMP mencekik leher gurunya saat ditegur karena merokok di dalam kelas.

Imam Al-Gazali dalam buku Akhlak Seorang Muslim menukil sebuah dialog menarik antara Nabi SAW dan sahabat tentang kelakuan buruk manusia. Nabi SAW: "Maukah aku beri tahu tentang orang yang paling buruk di antara kalian?" Sahabat: "Ya, mau ya Rasulullah."

Nabi SAW: "Seburuk-buruk kamu ialah orang yang hidup dalam kesendirian, lalu memukuli budaknya dan tidak memberi apa pun padanya. Maukah aku beri tahu orang yang lebih buruk dari itu?"

Sahabat: "Ya, kami mau ya Rasulullah." Nabi SAW: "Seseorang yang membenci orang lain dan mereka pun membencinya. "Maukah kalian aku beri tahu orang yang lebih buruk dari itu?"

Sahabat: "Ya, mau ya Rasulullah." Nabi SAW: "Orang yang tidak mau mengakui kesalahan dan tidak mau menerima permintaan maaf, bahkan tidak mau memaafkan. Maukah aku beri tahu orang yang lebih buruk dari itu?"

Sahabat: "Ya, mau ya Rasulullah." Nabi SAW: "Dialah orang yang tidak dapat diharapkan kebaikannya dan tidak merasa aman dari keburukannya." (HR. Ath-Tabrani). Perbincangan Nabi SAW (Mahaguru) dengan sahabat (murid) mengandung banyak pelajaran dalam menanamkan adab dan ilmu kepada anak-anak kita.

Pertama, dalam proses pembelajaran, mestilah tercipta suasana akrab dan hangat sehingga nilai dan pesan kebaikan dapat diresapi. Hubungan yang harmonis antara orang tua (guru) dan anak (murid) pun mestilah terjaga dengan baik, dan mencegah terjadinya perilaku yang buruk sekecil apa pun.

Kedua, penyampaian pesan dakwah harus dilakukan secara bertahap dan berjenjang sehingga lebih mudah dipahami dan merasuk kalbu. Seperti rangkaian pesan Nabi SAW di atas, yakni dimulai dari perilaku yang paling buruk, yang lebih buruk, lalu yang lebih buruk lagi. Sehingga terurai dengan jelas keburukan sosial yang harus dihindari.

Ketiga, intisari pesan yang disampaikan harus pula runtut cakupannya, yakni mulai dari keburukan yang kecil dampaknya hingga sikap dan tindakan yang besar dampak kerugiannya (dosa sosial). Keburukan sosial yang paling berbahaya adalah ketika tak bisa lagi diharapkan kebaikannya dan tak bisa pula selamat dari keburukannya (HR At-Turmudzi).

Akhirnya, tiada jalan lain kecuali kita semua menjaga kesantunan sosial, agar menjadi model yang baik bagi anak-anak kita. Jangan karena perbedaan pilihan politik, lalu kita kehilangan akal sehat dan putus urat malu di hadapan penerus dakwah. Jika hal ini terjadi, mereka akan hampa keadaban dan terjerumus dalam keburukan di atas keburukan (QS 66:6). Allahu a'lam bishawab.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA