Rabu 06 Feb 2019 17:17 WIB

Merayakan Takdir Kemanusiaan

Setiap manusia dilahirkan setara, yang membedakan hanyalah ketakwaannya.

Takwa (ilustrasi).
Foto: blog.science.gc.ca
Takwa (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Mohammad Farid Fad

Pada hari tasyrik di Mina, Rasulullah SAW pernah berkhutbah: "Wahai manusia, bukankah Tuhanmu satu, bapakmu satu, tidak ada keutamaan antara orang Arab dengan orang asing, antara kulit hitam dengan kulit merah kecuali tentang ketakwaannya. Apakah kalian sudah menyampaikan pesanku?" Kemudian para sahabat menjawab: "Kami sudah menyampaikannya, wahai Rasul."

Dapat dipahami, esensi kemanusiaan adalah menginsafi dan menginternalisasi kesadaran etis tentang hakikat kesetaraan antarsesama manusia. Relasi atasanbawahan, senior-junior, kaya-miskin hanyalah atribut sementara. Adalah eksemplar yang amat gamblang, andai kekuasaan, senioritas, dan kekayaan menjadi tolok ukur utama, mengapa narasi Fir'aun, Iblis, dan Qarun malah berakhir kehancuran?

Allah SWT berfirman: "Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kalian saling mengenal. Sesung guhnya orang yang paling mulia diantara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal." (QS al- Hujurat [49]: 13).

Perlu disadari, pada hakikatnya setiap manusia dilahirkan setara, yang membedakan hanyalah fungsionalitas organis ketakwaannya. Imperatif moral ayat di atas, bila prinsip musawah terpenuhi, kanon taaruf akan berlaku. Artinya, dalam tahap operasionalisasinya, melalui segenap kesadaran diri dengan menyulam empati dalam balutan tempurung akal sehat untuk bersikap pantang menyakiti (harmlessness) antarsesama. Disebabkan hulu dari prinsip taaruf ialah saling menenggang perbedaan.

Diriwayatkan dari Qais bin Sa'ad dan Sahal bin Hunaif, suatu ketika rombongan pengiring jenazah melewati Rasulullah SAW. Beliau pun berdiri menghormati. Ketika dikatakan, itu jenazah orang Yahudi. Beliau pun menyahut, "Bukankah ia juga manusia?" (HR Muslim).

Dialog ini mengajarkan, tiap individu ibarat sebuah sel aktif dalam keterjalinan organ kemanusiaan hingga disadari bahwa kita semua harus rukun dan bekerjasama. Melimpahnya takdir keberagaman, bukan menjadi justifikasi yang sah untuk saling merendahkan, apalagi menistakan.

Di tengah teriknya iklim politik, ruh kemanusiaan tak boleh kehilangan daya hidupnya. Jangan sampai silang selisih dan perdebatan di ruang publik menghalangi proses pemberadaban (civilising process) bangsa ini. Disebabkan pada hakikatnya, kita adalah lingkaranlingkaran kemanusiaan yang saling bertautan.

Habib Ali al-Jufri menegaskan, keintiman antara keimanan dengan kemanusiaan lewat rumusannya alinsaniyyah qabla at-tadayyun (berkemanusiaan terlebih dahulu sebelum beragama), yang bersandar pada hadis Nabi bahwa risalahnya dibangun atas fondasi silaturahim, meniadakan pertumpahan darah, mewujudkan keamanan, menghancurkan berhala dan berujung menyembah hanya kepada Allah.

Sayyidina Ali pun pernah berkata: "Kalau seseorang bukanlah saudaramu seagama, maka ingatlah bahwa ia adalah saudaramu sekemanusiaan." Saatnya lebih mengutamakan titik temu ketimbang titik tengkar, lebih memperbesar energi persatuan sembari memperkecil volume perbedaan agar echo kemanusiaan tidak berdenging sumbang. Wallahu a'lam.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement