Rabu, 10 Jumadil Awwal 1440 / 16 Januari 2019

Rabu, 10 Jumadil Awwal 1440 / 16 Januari 2019

Berlapang Dada Menerima Kebenaran

Selasa 08 Jan 2019 14:05 WIB

Red: Agung Sasongko

Takwa (ilustrasi).

Takwa (ilustrasi).

Foto: alifmusic.net
Hanya orang-orang beriman dengan kualitas terbaiklah yang bisa melakukannya.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Feri Nugraha

Berlapang dada menerima kebenaran adalah hal yang tidak bisa dilakukan sembarangan orang. Hanya orang-orang beriman dengan kualitas terbaiklah yang bisa melakukannya.

Kita sering menolak suatu kebenaran hanya karena tak suka pada orang yang mengatakannya. Kita pun kerap mengeluarkan alasan-alasan pembenar untuk menolak kebenaran tersebut. Padahal, kebenaran yang sumbernya dari mana saja adalah mutiara dan hikmah yang hilang. Oleh karena itu, kita tidak boleh diam ketika kebenaran itu datang apalagi menolaknya.

Sahabat Abdullah ibn Mas'ud pernah berkata, "Siapa yang datang membawa kepadamu kebenaran maka terimalah walaupun datang dari tempat yang jauh atau bersumber dari orang yang engkau benci. Siapa yang datang membawa kesesatan kepadamu maka tolaklah walaupun datang dari orang yang engkau cintai dan dari tempat yang dekat."

Sesungguhnya tugas kita adalah melihat esensi dan substansi suatu kebenaran. Kita tidak perlu terlalu dipusingkan dengan orang yang menyampaikan kebenaran tersebut. Semua perkara ada kemungkinan bisa diterima atau ditolak, kecuali perkataan dan nasihat Rasulullah yang mulia yang harus benar-benar kita terima dengan keimanan.

Dikisahkan bahwa suatu hari Al-Hajjaj pernah menyampaikan khotbah di depan orang banyak dengan perkataan, "Sesungguhnya Allah memerintahkan kepada kita mencari kehidupan akhirat dan merasa cukup dengan apa yang kita miliki di dunia. Semoga bekal akhirat telah kita penuhi sehingga kita mencari bekal dunia."

Mendengar isi khotbah tersebut, kemudian ulama sufi bernama Al-Hasan Al-Bashri berkata, "Ambillah hikmah yang baik ini walaupun datang dari seorang yang fasik (maksudnya Al-Hajjaj) karena hikmah merupakan barang hilang milik orang beriman."

Dianjurkan bagi orang beriman untuk mencari dan menerima kebenaran dengan apa adanya dan berlapang dada. Juga tidak dianjurkan untuk mengabaikan suatu kebenaran yang datang hanya karena si penyampai kebenaran adalah dianggap kurang baik akhlaknya. Bahkan, kalau perlu, kita menggali kebenaran itu dari binatang.

Diriwayatkan dari Buzurjimhari bahwa dia berkata, "Aku menerima hal-hal bermanfaat dari mana saja. Hingga akhirnya, aku selesai mengambil hikmah dari seekor anjing, kucing, babi, dan burung gagak." Dia pun ditanya, "Apa yang engkau terima dari seekor anjing?" Lalu, dia menjawab, "Penyayang kepada tuannya dan ganas kepada musuhnya."

Dia ditanya lagi, "Pelajaran apa yang engkau ambil dari burung gagak?" Dia pun menjawab, "Sikap waspada dan siaga yang tinggi." Kemudian, dia ditanya lagi, "Pelajaran apa yang engkau ambil dari seekor babi?" Dia menjawab, "Semangat dalam mencapai keinginannya."

Lalu, ditanya lagi, "Pelajaran apa yang engkau ambil dari seekor kucing?" Dia pun kembali menjawab dengan mantap, "Persahabatannya yang senantiasa akrab ketika terjadi masalah, bukan teriakannya (mengeongnya)."

Sejatinya hidup akan menjadi suatu kebahagiaan tak terhingga apabila kita sudah pandai mengambil hikmah dan kebenaran yang datang dan yang tertimbun di mana dan dari mana saja. Kebenaran adalah cahaya dan petunjuk yang tidak boleh diabaikan dengan alasan apa pun. Kebenaran tetaplah akan menjadi kebenaran meskipun diubah ke dalam bentuk apa pun karena berasal dari Zat Hakiki, Allah Yang Esa. Wallahu a'lam.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES