Jumat 29 Jun 2012 04:00 WIB

Rasul Cemaskan Syirik Kecil

Rep: Hannan Putra/ Red: Ajeng Ritzki Pitakasari
Ilustrasi
Foto: kebunhidayah.wordpress.com
Ilustrasi

Oleh: Abdul Aziz Bin Abdullah Bin Baz

REPUBLIKA.CO.ID, Saat beribadah di Tanah Suci, jangnkankan prbuatan, segala bentuk ungkapan atau ucapan dalam bentuk kemusyrikan harus dihindari. Seorang yang beribadah pun harus meminta orang lain untuk menjauh dari bentuk-bentuk kemusyrikan itu.

Nabi SAW bersabda, "Orang yang mengambil sumpah dengan nama seseorang dan bukan Allah adalah kufr atau musyrik." (HR.Ahmad, Abu Dawud, dan At- Tirmidzi). Dalam sebuah hadis sahih yang diriwayatkan Umar RA, Nabi SAW bersabda, "Orang yang mengambil sumpah harus melakukannya dengan nama Allah, dan jika tidak, diamlah."

Beliau menambahkan, "Orang yang mengambil sumpah atas nama kebenaran bukanlah dari golongan kami." (HR.Abu Dawud). Kemudian Nabi SAW bersabda, Yang aku khawatirkan dari kalian adalah syirik kecil. Ketika Nabi SAW ditanya perihal syirik kecil, Nabi SAW menjawab, “Kemunafikan”.

Nabi SAW juga bersabda, "Jangan katakan apa yang diinginkan Allah dan si fulan. Tetapi kamu harus mengatakan apa yang Allah inginkan dan kemudian apa yang si fulan inginkan.

Semua hadis dengan jelas menunjukkan bahwa Nabi SAW menegakkan tauhid, dan menjauhkan umat dari syirik besar maupun kecil. Nabi SAW terikat untuk menegakkan keimanan umat, dan melindungi umat dari azab dan hu­kuman Ilahi.

Nabi SAW menyampaikan pesan Allah, menjadikan umat takut terhadap Allah, dan ia memberikan contoh kepada hamba-hamba Allah. S.

Ketentuan itu mengikat haji yang terpelajar dan berilmu untuk menyampaikan syariat kepada semua Muslim, dan menjauhkan mereka dari syirik besar dan kecil, dan segala sesuatu yang dilarang Allah. Mereka harus membuat persoalan ini mudah dipahami dengan cara yang jelas dan mudah dimengerti, sehingga dapat mem­bawa manusia dari kegelapan kepada cahaya.

Rasul menekankan harus menjalankan tugas pengajaran menyebarkan keimanan kepada yang lainnya. Allah berfirman,"Dan (ingatlah) ketika Allah mengambil janji orang yang diberi Al-Kitab, “Hendaklah kamu menerangkannya kepada manusia dan jangan kamu menyembunyikannya." (QS. Ali 'Imran; 187).

Ayat suci di atas memperingatkan ulama dan umat agar mereka tidak mengikuti perbuatan melawan hukum orang-orang Ahli Kitab, dengan menyembunyikan kebenaran dengan tujuan memperoleh keuntungan duniawi ketimbang berupaya memperoleh keuntungan di Hari Kemudian.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement