Selasa, 13 Zulqaidah 1440 / 16 Juli 2019

Selasa, 13 Zulqaidah 1440 / 16 Juli 2019

Menafsirkan Mimpi, Bolehkah?

Kamis 24 Des 2015 19:22 WIB

Rep: Hanan Putra/ Red: Agung Sasongko

Bermimpi/Ilustrasi

Bermimpi

Foto:

Pendapat Ullama

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Setelah syariat Nabi Muhammad SAW, mimpi tidak bisa lagi menjadi hujjah untuk sebuah hukum sebagaimana terjadi pada zaman Nabi Ibrahim AS.

Imam Asy-Syathibi menegaskan, "Sesungguhnya mimpi dari selain para Nabi secara syar'i tidak boleh dijadikan landasan untuk menghukumi perkara apa pun, kecuali setelah ditimbang dengan hukum syariat. Apabila diperbolehkan maka bisa diamalkan. Bila tidak diperbolehkan maka wajib ditinggalkan dan berpaling darinya. Faidah dari mimpi tersebut hanyalah memberi kabar gembira atau peringatan; adapun menentukan sebuah hukum dengannya maka tidak boleh sama sekali." Demikian dipaparkannya dalam Al-I'tisham (2/78).

Abdurrahman bin Yahya Al-Mu'allimi juga menambahkan, para ulama telah bersepakat bahwa mimpi tidak bisa dijadikan hujjah (dalil). Jadi mimpi hanyalah sebatas memberi kabar gembira atau peringatan. Di samping itu bisa juga menjadi ibrah (pelajaran) apabila sesuai dengan dalil syar'i yang sahih. Demikian sebagaimana ia tulis dalam  At-Tankiil (2/242).

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA