Kamis, 18 Safar 1441 / 17 Oktober 2019

Kamis, 18 Safar 1441 / 17 Oktober 2019

Jejak Islam si Honduras

Ahad 07 Apr 2019 23:41 WIB

Red: Agung Sasongko

Pantai cantik di pesisir Honduras.

Pantai cantik di pesisir Honduras.

Foto: flickr
Beberapa sumber kesejarahan merekam kehadiran umat Islam di Honduras.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Sejarah dunia kerap mengagungkan nama Christopher Columbus sebagai orang pertama yang menemukan Benua Amerika. Akan tetapi, beberapa sumber kesejarahan merekam kehadiran umat Islam dari Timur Tengah dan Afrika yang telah berlangsung sejak berabad silam ke wilayah tersebut.

Baca Juga

Adalah putra Columbus sendiri, yang bernama Ferdinand, mengungkapkan temuan ayahnya ketika sampai di wilayah utara dan timur Honduras. Kala itu, sang penjelajah asal Spanyol menyaksikan keberadaan orang-orang hitam asal Afrika. Mereka kerap disebut sebagai orang Jaras dan Guabas. Nama ini kemungkinan memiliki kaitan dengan nama sebuah kota di Ghana, yakni Jarra.

Kata Guabas, menurut sejumlah sejarawan, bisa dikaitkan dengan kata Ka’bah atau Kubba, yang notabene merupakan kiblat umat Muslim yang terletak di Tanah Suci Makkah. Karena itu, sangat beralasan bila penduduk asal Afrika itu adalah pendatang dari Mali yang sudah memeluk agama Islam. Mereka datang setelah kejatuhan Andalusia (Spanyol).

Beberapa komunitas Muslim di Honduras pada abad ke-16 dan ke-17 kerap menyebut diri mereka dengan istilah Almamys. Ini merujuk pada tempat asal mereka dari Spanyol. Mereka tampaknya juga memiliki kaitan erat dengan penduduk Muslim asal Afrika yang ditemui Columbus di kawasan utara dan timur.

Sejarawan Giles Cauvet dalam Les Berberes de l'Amerique melakukan studi perbandingan etnografi antara pendatang dari Afrika, Timur Tengah, dan warga asli Amerika. Menurutnya, komunitas yang menamakan diri sebagai Almamys hanya sedikit menjalin kontak dengan ekspedisi Columbus. Istilah itu sendiri dapat ditemukan pada literatur-literatur Islam kuno dari abad ke-12.

Bila merujuk pada bahasa Mandinka Mali kuno, istilah tadi memiliki pertautan dengan kata al Immamu yang berarti seorang imam atau pemimpin,” tandas Giles Cauvet lagi.

Demikian pula buku terkenal berjudul Nuzhat al-Musthaq fi Isthiraq al-Afaq karya sejarawan Muslim terkemuka al Idrisi pada abad ke-12 yang menceritakan perjalanan laut satu kelompok umat Islam berjumlah delapan orang. Mereka berlayar dari Afrika Utara dan singgah di Lisbon, Portugal.

Setelah menempuh perjalanan selama 31 hari, akhirnya mereka sampai di wilayah yang diyakini sebagai Kepulauan Karibia. Selanjutnya, mereka mengembara kembali sebelum sampai ke wilayah Amerika Tengah. 

sumber : Islam Digest Republika
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA