Rabu 20 Jun 2018 06:00 WIB

Idul Fitri tak Membawa Sukacita Bagi Pengungsi Rohingya

Para pengungsi Rohingya di Bangladesh teringat masa bahagia mereka di Rakhine.

Rep: mgrol105/ Red: Andi Nur Aminah
Para pengungsi Rohingya di Bangladesh melaksanakan Shalat Idul Fitri di masjid kecil di kamp-kamp kumuh.
Foto: Arabnews
Para pengungsi Rohingya di Bangladesh melaksanakan Shalat Idul Fitri di masjid kecil di kamp-kamp kumuh.

REPUBLIKA.CO.ID, DHAKA -- Lebih dari 1 juta pengungsi Rohingya di Cox's Bazar, Bangladesh, merayakan Idul Fitri pada hari Sabtu (16/6) lalu. Dilansir dari Arabnews, mereka melakukan Shalat Idul Fitri di lebih dari 500 masjid kecil di kamp-kamp kumuh. “Ini adalah hari Idul Fitri yang cerah di Cox's Bazar, tetapi kami tidak dapat menikmati momen ini,” kata Iman Ali, seorang pengungsi di kamp Kutupalang.

Dia mengatakan, tahun lalu saat Idul Fitri (di negara bagian Rakhine di Myanmar), dia memberikan pakaian baru kepada semua anggota keluarga dan kerabat dekat. "Tetapi tahun ini untuk mendapatkan pakaian baru untuk ketiga anak saya saja sangat sulit,” kata Ali.

Morium Begum, seorang pengungsi di kamp Balukhali, tidak bisa menahan air matanya. Hari yang fitri ini mengingatkannya pada masa-masa bahagia di Rakhine. Suaminya, Joinal Abedin, seorang pengusaha, ditembak mati tentara Myanmar September lalu. Hal ini yang mendorongnya melarikan diri ke Bangladesh dengan kelima anaknya. "Tahun ini, hidup saya sepenuhnya tergantung pada bantuan dan pertolongan," kata Begum.

Begum mengatakan, tidak ingin Idul Fitri berikutnya masih berada di kamp pengungsian. "Saya ingin kembali ke rumah dengan hak penuh dan martabat saya,” katanya.

Idul Fitri seharusnya menjadi acara yang menyenangkan. Tetapi anak-anak yang kekurangan gizi di kamp terlihat suram. “Ayah saya hanya mendapatkan tiga potong pakaian baru untuk ketiga saudara laki-laki dan perempuan saya. Dia tidak bisa membeli apa pun untuk dirinya sendiri atau pun ibu saya,” kata Ekhlas Miah, seorang anak di Balukhali.

Ekhlas mengatakan, Idul Fitri tahun lalu adalah saat yang membahagiakan bagi keluarganya. "Paman, kakek dan nenek mengunjungi kami. Saya mendapat hadiah berharga dari paman-paman saya,” kata Ekhlas.

Shahana Akhter, seorang anak lain di Balukhali, mengatakan dia tidak merasa senang saat Idul Fitri. Padahal biasanya, hari raya ini dipenuhi dengan pakaian baru dan makanan lezat. Dia kehilangan ayahnya di Rakhine Oktober lalu, dan melarikan diri bersama ibu dan adik lelakinya ke Bangladesh.

"Tadi malam, saya perhatikan ibu saya menangis karena dia tidak bisa membeli baju baru untuk saya atau saudara saya untuk Idul Fitri ini," kata Akhter. "Kami ingin pulang ke rumah. Berada di kamp pengungsian bukanlah sebuah kehidupan," kata Akhter.
 
 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement