Rabu, 10 Jumadil Awwal 1440 / 16 Januari 2019

Rabu, 10 Jumadil Awwal 1440 / 16 Januari 2019

Kontroversi Masjid Turki di Kosovo

Kosovo dan Trauma Arsitektur Turki Ottoman

Jumat 11 Jan 2019 14:52 WIB

Rep: Kiki Sakinah/ Red: Nashih Nashrullah

Miniatur Masjid Turki di Kosovo

Miniatur Masjid Turki di Kosovo

Foto: The Gurdian
Kekaisaran Ottoman selanjutnya memerintah Kosovo selama hampir 500 tahun.

REPUBLIKA.CO.ID, Kosovo tidak memainkan peran kecil dalam sejarah kekaisaran Turki. Pertempuran Kosovo pada 1389 memperlihatkan kekalahan Kerajaan Serbia pada Abad Pertegahan dan awal penaklukan Ottoman di Eropa Tenggara. 

Kekaisaran Ottoman selanjutnya memerintah Kosovo selama hampir 500 tahun. Di sana, Ottoman membawa serta pengaruh Islam dan banyak budaya lainnya. 

Kendati terdapat pengaruh budaya Islam dan Turki di Kosovo, pembangunan masjid baru di kota Pristina masih menjadi kontroversi. Ketika walikota Pristina saat itu, Isa Mustafa, meletakkan batu fondasi, lahan untuk masjid disumbangkan oleh pemerintah kota setempat. 

Mustafa kemudian menjadi perdana menteri Kosovo, posisi yang dipegangnya hingga 2017. Namun demikian, masjid tersebut tidak kunjung dibangun.  

Komunitas Islam di Kota Pristina mengklaim butuh waktu lama untuk memilih desain yang tepat dan memastikan bangunan masjid sesuai dengan lokasi tersebut. 

Di sisi lain, pemerintah kota Pristina seolah menghambat kemajuan untuk mengesahkan pembangunan masjid. Namun, tahun ini kabarnya pemerintah kota memberikan izin pembangunan.  

Kontroversi terhadap pembangunan masjid baru di kota Pristina muncul karena pandangan sejumlah penduduk setempat yang membenci simbol dari pengaruh Turki. 

Sementara yang lainnya curiga, jika kepercayaan terhadap sekuler, ruang publik post-sosialis, akan kembali. Ada perasaan di kalangan masyarakat setempat jika Turki mengambil keuntungan dari ketidaktertarikan Barat untuk memperluas pengaruhnya di negara Balkan ini.  

Di antara lawan yang paling vokal terhadap proyek pembangunan masjid itu adalah arsitek lokal. Meskipun tender publik menekankan kebutuhan untuk bangunan yang asli khas kota setempat, namun desain yang terpilih adalah Ottoman klasik.   

Proyek ini diawasi oleh direktorat untuk urusan agama Turki, Diyanet. Lembaga itu sejatinya telah membangun puluhan masjid lain di seluruh dunia Islam dalam beberapa tahu terakhir. Langkah Turki dalam pembangunan masjid di sejumlah negara itu dipandang sbagai kendaraan utama dari permainan kekuatan Turki.  

Diyanet mengatakan masjid akan didasarkan pada Masjid Selimiye abad ke-16 yang terkenal di Edirne, Turki barat laut. Ini artinya, masjid baru Pristina akan lebih mirip dengan ratusan bangunan di seluruh Balkan di bawah kekuasaan Turki.  

Arsitek bernama Arber Sadiki mengatakan, lebih dari 30 desain diajukan hanya beberapa bulan setelah adanya pengumuman untuk desain masjid dibuat pada 2012. 

photo

Masjid Agung Pristin Kosovo

Namun sebelum kompetisi ditutup, kata dia, sesi wawancara mulai muncul di kalangan pers di mana mufti menggambarkan seperti apa masjid baru itu.   

"Desain itu seharusnya asli, tetapi yang dipilih hanyalah tiruan dari masjid Ottoman. Keputusan itu terlihat lebih politis daripada arsitektur bagi saya. Saya tahu arsitek luar biasa melakukan pekerjaan di masjid-masjid kontemporer di Turki. Mengapa kita tidak bisa menempatkan Pristina di peta dengan sesuatu yang serupa?" ujar Sadiki.

Dahulu saat Kosovo berada di bawah kolonialisasi Yugoslavia, di bawah sosialis Yugolavia Josip Tito, bazar tua di Pristina dan banyak bangunan bersejarah di pusat kota, era Ottoman, dihancurkan sebagai bagian dari kampanye modernisasi yang mensekulerkan ruang publik

Akibatnya, kata Sadiki, Pristina modern sebagian besar adalah kota pasca-perang. Menurutnya, sedikit yang dibangun sejak 1970an di kota itu. Bangunan di Pristina yang paling terkenal saat ini adalah Perpustakaan Nasional yang berkubah, yang dibangun pada 1982.   

Profesor studi Islam di Universitas Pristina, Xhabir Hamiti, mengatakan aktor-aktor eksternal di Kosovo memiliki kepentingan untuk menjadikan konflik Kosovo lebih sebagai bagian dari agama daripada politik. 

Misalnya, mantan pemimpin Serbia Milosevic memainkan islamofobia Eropa dan ketakutan ekstremisme untuk mendeletigimasi perjuangan Kosovo untuk kemerdekaan.   

"Orang-orang bertanya: mengapa bukan investor Barat yang datang ke sini? Apakah karena kita Muslim? Intinya adalah bahwa satu-satunya pintu yang terbuka bagi kita mengarah ke Turki, dan beberapa ingin berjalan melewatinya," kata Hamiti. 

Pristina memang bukan satu-satunya kota di Kosovo, di mana pembangunan masjid yang didanai Turki telah berlangsung. Di Mitrovica, sekitar 20 mil di utara, bentrokan terjadi pada 2000-an dan menyebabkan pembagian kota ke bagian selatan (Albania dan Muslim) dan bagian utara (Serbia dan Kristen Ortodoks).   

Distrik utara yang lebih kecil memamerkan identitas Serbia dan adanya Katedral Ortodoks. Sementara bagian selatan kota Mitrovica yang lebih besar dihiasi dengan bendera Albania dan monumen pejuang dari Tentara 

Pembebasan Kosovo, serta masjid terbesar Kosovo. Masjid yang dibangun pada 2014 itu diberi nama sesuai  nama distrik di Istanbul, Bayrampasa. Masjid itu didanai pemerintah Turki dan di dalamnya  dihiasi warna nan megah dari gaya Ottoman. Bagi Muslim Mitrovica, masjid Bayrampasa adalah simbol penebusan. 

 

 

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES