Thursday, 18 Safar 1441 / 17 October 2019

Thursday, 18 Safar 1441 / 17 October 2019

Kontroversi Masjid Turki di Kosovo

Ironi Kosovo, Kehadiran Turki, dan Minimnya Masjid

Jumat 11 Jan 2019 14:41 WIB

Rep: Kiki Sakinah/ Red: Nashih Nashrullah

Masjid Agung Pristin Kosovo

Masjid Agung Pristin Kosovo

Foto: The Gurdian
Lusinan masjid yang dihancurkan masih belum dibangun kembali.

REPUBLIKA.CO.ID, PRISTINA –  Pristina, ibu kota Kosovo, sangat membutuhkan masjid baru. Muslim Kosovo telah mengajukan protes akan kurangnya ruang untuk mengakomodasi mereka saat shalat. 

Keluhan juga menanggapi standar ganda yang dilakukan pemerintah kota. Mengingat, Katedral Katolik yang besar dibangun tanpa masalah pada 2007. Meskipun, umat Kristen hanya terdiri dari tiga persen dari populasi di Kosovo. 

Di saat itulah, Turki hadir dan menanamkan investasi dan advokasi di negara Balkan muda ini. Akan tetapi, rupanya kehadiran masjid sebagai hadiah dari Turki menimbulkan kegelisahan sejumlah pihak. 

Enam tahun berlalu sejak para pemimpin Islam dan pejabat pemerintah Kosovo meletakkan landasan (batu pertama) di masjid pusat Pristina yang baru. Namun, sebongkah batu tersebut kini tersembunyi di bawah rumput liar di tempat parkir masjid. 

Bongkahan batu itu ditutupi dengan grafiti berwarna merah cerah, yang menggambarkan ancaman kematian bagi kepala mufti Kosovo. Dalam coretan grafiti itu, tertulis kata-kata "Tidak ada masjid Turki atau akan ada darah."

Dalam pembangunan masjid pusat baru tersebut memang ada kontroversi mengenai desain. Termasuk, penolakan terhadap rencana yang dibuat oleh arsitek ternama termasuk Zaha Hadid. Hadid mendukung salinan karbon raksasa dari sejumlah masjid bergaya Ottoman yang telah berusia berabad-abad.  

Akan tetapi, kini tampaknya tempat di distrik kota Dardania ini akan mendapatkan masjid baru. Pembangunan akan dimulai pada musim semi di Kosovo. 

Masjid tersebut adalah hadiah dari Turki untuk negara Balkan dengan populasi sekitar 1,9 juta . Tahun ini, Kosovo memperingati 10 tahun kemerdekaannya setelah terpisah dari Serbia. 

Satu dekade terlewati sebagai negara merdeka secara de facto, 20 tahun setelah perang dengan negara tetangga Serbia yang menewaskan ribuan dan membuat ratusan ribu orang terlantar. Kendati, Serbia masih menganggap Kosovo sebagai wilayahnya. 

Kosovo sendiri dihuni oleh 95 persen Muslim. Sejumlah pemimpin agama Islam terkemuka di negara ini mengatakan, lusinan masjid yang dihancurkan masih belum dibangun kembali. 

Ketua Mufti di Kosovo, Naim Ternava, di kantornya dekat Masjid Kekaisaran di kota Pristina, mengatakan pada hari libur Islam, kerumunan jamaah di masjid era Ottoman yang dibangun pada 1461 ini kerap tumpah ruah ke jalanan di luar masjid.

photo
Bongkahan fondasi yang tercantum vandalisme ancaman/ The Gurdian

 

Karena itu, ia mengaku terkejut dengan munculnya perdebatan tentang masjid baru Pristina. Karena baginya, keberadaan masjid itu adalah kebutuhan praktis. 

"Untuk menyembah Tuhan, dan tidak ada yang lain. Di Eropa mereka tidak memiliki satu desa tanpa gereja. Tetapi di sini di Kosovo, setidaknya ada 50 desa tanpa masjid," kata Ternava, dilansir di The Guardian, Jumat (11/1). 

Sebagai sebuah negara yang terhitung baru merdeka dalam satu dekade, Kosovo masih berjuang di tengah masa depan ekonomi yang buruk. Negara muda ini membutuhkan semua teman yang bisa didapat. 

Di antara peminatnya adalah Turki. Di sana, Turki melakukan investasi besar dan menjadi pembela hukum bagi pengakuan internasional Kosovo dan aksesi ke NATO dan Uni Eropa. Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, melakukan kunjungan ke Kosovo pada 2013. Kala itu, ia mengatakan "Turki adalah Kosovo,  dan Kosovo adalah Turki."

Kata-kata itu menggema di Turki, yang kebijakan luar negerinya dicirikan sebagai 'neo-Ottomanisme". 

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA