Rabu 09 Jan 2019 14:41 WIB

Muslim Niger Taat Beragama

Mereka menjunjung tinggi toleransi keagamaan terhadap cara hidup lainnya.

Muslim di Niger
Foto: Tiwasblog.com
Muslim di Niger

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Mereka menjunjung tinggi toleransi keagamaan terhadap cara hidup lainnya. Kota tersebut diramaikan dengan berbagai macam hiburan malam yang modern dan tetap menjunjung tinggi hukum setempat.

Pemeriksaan agama Enam tahun terakhir, Niger mengalami perubahan. Orang menjadi lebih disiplin. Di jalan ada orang-orang Niger kaya. Mereka merasakan pertumbuhan ekonomi. Masyarakat setempat mereka gerakkan dalam berbagai kegiatan usaha.

Wanita setempat tampil dengan menutup aurat. Mereka memakai cadar dan bahkan sarung tangan. Mereka kerap keluar sambil membawa serta anak-anak agar mereka dapat bermain di berbagai ruang terbuka.

Kaum hawa juga mewarnai dinamika militer di sana. Sebagian prajurit militer adalah wanita. Mereka aktif membantu kinerja administrasi, kesehatan, dan sejumlah satuan tempur.

Baca; Pendidikan Alquran Jadi Prioritas Muslim Niger

Mainassara, presiden terpilih dalam jajak pendapat Juli 1996 yang disengketakan, telah menun juk pengkhotbah dan intelektual Male Moussa Al Kahera sebagai penasihat presiden khusus untuk urusan agama.

Presiden sangat memperhatikan dinamika umat Islam yang merupakan penduduk mayoritas. Mereka teru diarahkan dapat membangkitkan perekonomian agar kesejahteraan masyarakat setempat semakin meningkat.

Belum siap Di perusahaan pertambangan negara Onarem, Alquran terbentang di meja ahli geologi El Hah met Mai Ousmane yang dikenal sebagai anggota terkemuka perhimpunan ortodoks Islam di Ni ger. Dia mengatakan bahwa umat Islam ortodoks merasa lebih dekat dengan mantan pemimpin tentara Mainassara dari pada kepada pemerintah sipil yang digulingkannya.

Tapi dia mengakui rasa kecewa. Pejabat tertentu tinggal dalam kemewahan.Mereka berzina dan hidup korup. "Mereka berpakaian rapi dengan jubah tradisional yang cantik (nona tradisional) ke masjid ... bagaimana bisa mereka mendapatkan uang dan kemewahan sedemikian rupa, kata dia.

Ousmane mengakui Niger belum siap untuk sebuah republik Islam. Moktar Ould Bah, seorang Mauritania, adalah mantan direktur Universitas Islam Niger. Lebih dari 400 siswa membaca hukum Syariah Islam di antara mata pelajaran lainnya.

Hanya di Aljazair dan Tunisia ada partai politik yang terkait langsung dengan fundamentalisme Islam, tentu bukan di Niger, ujar dia.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement