Tuesday, 16 Safar 1441 / 15 October 2019

Tuesday, 16 Safar 1441 / 15 October 2019

Imam Shamsi akan Gelar Pesantren Kilat Pertama di AS

Selasa 03 Jul 2018 13:16 WIB

Rep: Fuji E Permana/ Red: Agung Sasongko

Shamsi Ali

Shamsi Ali

Foto: Republika/Yogi Ardhi
Sejak tiga bulan lalu, gedung-gedung Pesantren Nusantara Madani sudah dibersihkan.

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Presiden Nusantara Foundation, Imam Shamsi Ali memastikan pelaksanaan pesantren kilat musim panas akan dimulai Juli dan Agustus di Amerika Serikat. Sejak tiga bulan lalu, gedung-gedung Pesantren Nusantara Madani sudah dibersihkan dan direnovasi.

"Ada delapan gedung yang siap pakai, namun empat gedung di antaranya menurut aturan di AS tidak bisa dipakai. Karena gedung tersebut sebelumnya digunakan untuk kandang ayam atau bekas peternakan. Sekarang sudah tiga gedung dibersihkan, dites dan lolos ujian sehingga siap digunakan untuk kegiatan," kata dia kepada Republika saat Pertemuan Dai dan Ulama Internasional ke-5 di Hotel Grand Cempaka, Jakarta, Selasa (3/7).

Ia menerangkan, kegiatan pada Juli dan Agustus baru bisa menyelenggarakan pesantren kilat musim panas. Jadi belum menyelenggarakan kegiatan pesantren resmi seperti sekolah. Sebab masih memerlukan perizinan jadi sekarang masih ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi untuk mendirikan pesantren atau sekolah resmi. Insyaallah beberapa bulan kedepan persyaratannya akan terpenuhi.

Dijelaskan dia, untuk sementara ini, izin yang dimiliki adalah izin kegiatan. Izin kegiatan seperti izin menyelenggarakan kegiatan pesantren kilat, pengajian, kursus dan lain sebagainya. Maka di bulan Juli dan Agustus tahun ini akan mengadakan pesantren kilat untuk anak-anak Muslim, ini pesantren kilat pertama yang diselenggarakan.

"Kemarin pada bulan Ramadhan juga kita lakukan kegiatan, ada kegiatan buka puasa bersama dengan mengundang tetangga non Muslim, ini langkah awal untuk membangun simpati mereka," ujarnya.

Ia menerangkan, dalam pesantren kilat yang pertama ini, pesertanya sekitar 30-50 anak karena dibatasi. Peserta dibatasi agar tidak mengejutkan para tetangga yang mayoritas non Muslim dan orang-orang kuli putih. Sebab dalam berdakwah harus ada batasan-batasan.

Ia menyampaikan, umur peserta pesantren kilat juga dibatasi, hanya untuk anak berusia 13 tahun ke atas. Sebab untuk anak-anak 13 tahun ke bawah, penyelenggara pesantren kilat memerlukan persyaratan tertentu seperti persyaratan kesehatan dan lain sebagainya.

"Alhamdullilah juga guru-gurunya sudah ada dari Indonesia, Amerika, Arab serta Afro Amerika, siswanya didatangkan dari luar (daerah lain) karena penduduk sekitar mayoritas masih non Muslim, sengaja kita membawa pesantren di situ agar ada kehidupan Islam di sana," ujarnya.

Imam Shamsi mengatakan, selanjutnya pihaknya akan memproses perizinan untuk mengajukan mendirikan sekolah resmi atau pesantren resmi yang biasa disebut boarding school. Setelah gedung untuk pesantren diinspeksi maka bisa mengajukan izin mendirikan pesantren atau sekolah resmi.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA