Jumat 23 Mar 2018 16:53 WIB

Tinggi, Keingintahuan tentang Islam dan Muslim di Amerika

Hal tersebut terjadi setelah peristiwa 11 September

Muslim Amerika
Muslim Amerika

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA --  Ada fenomena menarik setelah peristiwa 11 September 2001 di Amerika. Banyak warga Negeri Paman Sam yang semula tidak senang terhadap Islam kini mulai tertarik mempelajarinya.

Bahkan, Universitas Carolina Utara, sebuah perguruan tinggi tertua di negeri adidaya itu, justru membuka fakultas baru: Kajian Islam. Ini untuk merespons permintaan yang tumbuh atas keingintahuan dan informasi tentang Islam dan Muslim.

Setelah peristiwa 11 September, banyak masyarakat Amerika menjadi ingin tahu Islam. Keingintahuan itu ditujukan dengan ramai-ramai membeli dan membaca Alquran, membaca biografi Muhammad, dan buku-buku Islam lainnya untuk mengetahui isinya. Dengan membaca dari sumbernya langsung, mereka menjadi tahu ajaran Islam yang sesungguhnya.

Sebelum tragedi yang meruntuhkan gedung pencakar langit WTC (World Trade Centre) di New York, pemahaman masyarakat Amerika terhadap Islam, boleh dikata, sangat minim. Ini sejalan dengan riset terbaru yang dilakukan Pusat Riset Pew dan Forum Angket Pew. Riset itu menunjukkan fakta bahwa mayoritas warga Amerika mengetahui sedikit sekali Islam dan bagaimana menjalankannya.

Mereka umumnya hanya mengetahui melalui media massa. Sayangnya, pemberitaan media yang mereka baca tidak selamanya utuh tentang Islam. Tidak jarang menggambarkan Islam yang tak ramah dengan kemasan dalam stereotipe buruk, seperti teroris atau kejam terhadap perempuan.

Tak ayal, peristiwa 11 September sempat menempatkan warga Muslim yang berdiam di negeri ini--terutama imigran asal Timur Tengah--dalam kondisi yang tidak menyenangkan. Mereka menanggung beban psikologis yang tidak ringan. Tak sebatas hanya dicurigai, tidak jarang mereka pun dilecehkan, diasosiasikan sebagai teroris. Tapi, kini, kondisi itu telah berubah.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement