Jumat 08 Jul 2022 05:34 WIB

Akhlak Bertamu di Rumah

Akhlak Bertamu di Rumah

Rep: suaramuhammadiyah.id (suara muhammadiyah)/ Red: suaramuhammadiyah.id (suara muhammadiyah)
Akhlak Bertamu di Rumah - Suara Muhammadiyah
Akhlak Bertamu di Rumah - Suara Muhammadiyah

Oleh: Mohammad Fakhrudin

Kata etika,  moral, dan akhlak secara umum mempunyai arti yang hampir sama sehingga sering digunakan secara bergantian dalam komunikasi sehari-hari. Yunahar Ilyas di dalam bukunya Kuliah Akhlaq (hlm. 3) membedakannya berdasarkan sumber yang dijadikan tolok ukur. Etika bersumber pada pertim­bangan akal (pemikiran). Moral bersumber pada adat istiadat yang umum berlaku di masyarakat. Akhlak (bagi umat Islam) bersumber pada Alquran dan Alhadis.

Dari sudut pandangan tertentu ada kesamaan antara etika, moral, dan akhlak. Kesamaan ketiga-tiganya terdapat pada perwujudannya dan unsur utamanya. Semua terwujud secara spontan; tidak melalui proses berpikir lebih dahulu karena sudah terinternalisasi. Unsurnya berupa nilai baik-buruk.

Di dalam kajian ini, kata akhlak yang digunakan karena sumber rujukan utamanya adalah kedua kitab itu. Hal ini sejalan dengan pendapat Hamka sebagaimana terdapat di dalam Tafsir Al Azhar (hlm. 6809-6815). Beliau menjelaskan bahwa salah satu adab sopan-santun terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah mendahulukan Allah Subhnahu wa ‘Taala dan Rasul-Nya, bukan pemikiran sendiri. Demikianlah tafsirnya terhadap ayat: 1 surat al-Hujurat (49) berikut.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُقَدِّمُوْا بَيْنَ يَدَيِ اللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya, Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Islam sangat mengutamakan akhlak. Sebelum Nabi Muhammad shallallahu a’alaihi wasallam menyampaikan risalah tentang ibadah, beliau menyampaikan risalah akidah dan akhlak. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, yang artinya

“Sesungguhnya, aku diutus untuk menyempurnakan akhlak.” (HR al-Baihaqi)

Sementara itu, di dalam HR TirmiDzi dijelaskan bahwa akhlak yang mulia mempunyai timbangan kebaikan yang memberatkan pada hari kiamat bagi orang beriman.

“Tidak ada satu pun yang akan lebih memberatkan timbangan (kebaikan) seorang hamba mukmin nanti pada hari kiamat selain dari akhlak yang baik.”

Perilaku Bertamu

Di dalam Himpunan Putusan Tarjih (2018:457) disebutkan perilaku bertamu sebagai berikut.

Berikut ini diuraikan implementasi ketujuh perilaku itu dengan ilustrasi sekadarnya.

Hanya Kita

Bagi umat Islam, telah ada tuntunan berucap salam. Di dalam HR Abu Dawud dijelaskan,

“Dari ‘Imran bin Hashin dia berkata, “Datang seorang lelaki kepada Nabi Subhaanahu wa Ta’aala lantas mengatakan, “Asssalamu’alaikum” kemudian beliau menjawab salamnya, lalu beliau duduk, lantas bersabda, “Sepuluh.” Kemudian, datang lelaki lain, lantas dia mengucapkan,

Asssalamu’alaikum warahmatullah” maka beliau menjawabnya, lantas duduk, lalu bersabda, “Dua puluh.” Kemudian, datang lelaki lain lagi seraya mengucapkan “Asssalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh” maka beliau menjawabnya, lantas duduk, kemudian bersabda, “Tiga puluh.”

Berdasarkan hadis tersebut, betapa ruginya jika kita tidak mengucap­kan salam secara utuh.

Dari segi isi, salam berisi doa. Dengan demikian, ketika kita meng­ucapkannya kepada sesama muslim berarti kita mendoa­kan­nya. Menurut kandungan isinya, ada tiga tingkatan, yakni (1) assalamu ‘alaikum berarti semoga keselamatan dari Allah tercurah untukmu; (2) assalamu ‘alaikum warahmatullah berarti semoga kese­la­matan dan kesejahteraan serta rahmat Allah di­lim­pahkan kepadamu, dan (3) assalamu ‘alaikum warahmatullah wabarakatuh berarti semoga keselamatan dan kesejah­teraan, rahmat, dan keber­kahan Allah di­lim­pahkan kepadamu.

Sebagai muslim, kita wajib mengikuti tuntunan Nabi Muhammad shallallahu a’alaihi wasallam. Tentu ucapan salam tersebut tidak kita gunakan ketika bertamu pada saudara, tetangga, atau teman, yang berbeda agama, tetapi kita dapat menggantinya dengan misalnya “permisi”.

Ketika mengucapkan salam, posisi tubuh kita di samping pintu; tidak lurus menghadap ke dalam. Hal ini kita maksudkan untuk menghindari pandangan langsung ke ruang tamu atau tuan rumah ketika pintu dibuka. Sangat mungkin di (meja) ruang tamu ada sesuatu yang tidak laik dilihat oleh tamu. Sangat mungkin juga tuan rumah ketika itu berpakaian yang tidak laik untuk menemui tamu.

Jika perlu mengetuk pintu, kita melakukannya dengan sopan; tidak seperti orang tergesa-gesa, tidak menggedor. Mungkin tidak langsung mendapat jawaban. Kita mengetuk lagi, tetapi kita melakukan jeda antara yang pertama dan yang kedua. Tidak perlu kita mengintip-intip melalui jendela.

Setelah salam dijawab dan tuan rumah mempersilakan masuk, barulah kita masuk. Hal ini sesuai dengan firman Allah Subhanu wa Ta’aala di dalam Alquran surat an-Nur (24): 28

فَاِنْ لَّمْ تَجِدُوْا فِيْهَآ اَحَدًا فَلَا تَدْخُلُوْهَا حَتّٰى يُؤْذَنَ لَكُمْ وَاِنْ قِيْلَ لَكُمُ ارْجِعُوْا فَارْجِعُوْا هُوَ اَزْكٰى لَكُمْ ۗوَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ عَلِيْمٌ

“Jika kamu tidak menemui seseorang pun di dalamnya, janganlah kamu masuk sebelum mendapat izin. Dan jika dikatakan kepadamu, “Kembalilah”, hendaklah kamu kembali. Itu lebih ber­sih bagimu dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Lewat pintu mana kita masuk? Ada rumah yang pintunya tidak hanya terdapat pada bagian depan. Meskipun demikian, dalam keadaan biasa, kita masuk melalui pintu depan. Namun, dalam keadaan darurat, misalnya karena (a) di ruang tamu sedang ada tamu penting, yang tidak dapat disela pembicaraannya, tidak elok jika kita masuk ke ruang tamu itu, (b) kita dan tuan rumah sudah saling mengenal baik, dan (3) tuan rumah mempersilakan lewat pintu samping, kita dapat juga masuk melalui pintu samping.

Tata cara dalam suatu jamuan bermacam-macam. Sangat mungkin ada kebiasaan menjamu tamu dengan menyediakan minuman beralkohol. Jika demikian, kita yang beragama Islam wajib tidak mengikutinya. Tentu penolakan itu kita lakukan dengan cara yang santun. (Tuan rumah yang baik pasti berkenan memahami hal itu)

Tamu yang berakhlak mulia baru duduk setelah dipersilakan oleh tuan rumah. Namun, jika bertamu di rumah sahabat karib atau keluarga sendiri, kita boleh duduk walaupun belum diper­silakan. Yang penting sudah mendapat izin masuk.

Pada saat tertentu (misalnya ‘Idul Fitri) atau di keluarga tertentu di meja tamu tersedia makan­an. Meskipun demikian, sebelum dipersilakan, kita tidak menyentuhnya. Setelah dipersilakan, kita minum dan makan sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, yakni

“Sebutlah nama Allah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah yang terdekat denganmu.” (Muttafaq ‘alaih)

“… Makan dan minumlah rezeki (yang diberikan) Allah dan janganlah kamu berlebihan di muka bumi  dengan berbuat kerusakan) (QS Albaqarah (2):60)

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah mencela makanan sekali pun. Apabila beliau menyukainya, beliau memakannya, dan apabila beliau tidak menyukainya, beliau me­ning­galkannya.” (Muttaqun ‘alaih)

Di luar suasana ‘Idul Fitri atau suasana istimewa lainnya, umumnya tuan rumah meng­hidangkan jamuan ketika tamu sudah beberapa saat berbincang-bincang. Hal penting yang perlu kita perhatikan adalah ketika tuan rumah menghidangkan jamuan, kita berucap “Alhamdulillah. Terima kasih” bukan “Wah, jadi merepotkan.” Mengapa? Menjamu tamu adalah ibadah karena melaksanakan petintah Allah Subhanahu wa Ta’aala dan Rasul-Nya. Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, yang artinya

“Hai umat manusia, syiarkanlah salam, hubungkanlah silaturahim, menjamu makanlah dan salat (malamlah) kamu pada waktu orang (lain) tidur, niscaya kamu akan masuk surga dengan selamat sejahtera.” (HR Tirmidzi)

Ada tuntunan mendoakan tuan rumah yang menjamu dengan doa sebagai berikut.

Akhlak Bertamu di Rumah

“Ya, Allah! Berilah barakah apa yang Engkau rezekikan kepada mereka, ampunilah, dan belas kasihilah mereka (HR Muslim).

Akhlak Bertamu di Rumah

“Ya, Allah. Berilah ganti makanan kepada orang yang memberiku makan dan berilah minuman kepada orang yang memberiku minuman.” (HR Muslim)

Bertamu di rumah siapa pun, duduk dengan sopan merupakan kewajiban, lebih-lebih ber­tamu di rumah orang yang sangat kita hormati. Duduk dengan sopan ditandai, di antaranya, dengan pandangan mata, sikap tangan, dan sikap kaki. Pandangan mata tidak menyelidik ke segala penjuru ruang tamu. Kedua tangan rapat diletakkan di paha, sedangkan kaki lurus ke bawah, tidak diselempangkan, dan tidak digoyang-goyangkan. Ketika melakukan pembicaraan, sesekali boleh menggerakkan tangan, tetapi tidak berlebihan. Ketika tuan rumah berbicara, kita ikuti dengan penuh perhatian. Arah pandangan degan sopan tertuju padanya. Sangat bagus jika kita meres­ponnya, baik dengan kata-kata maupun dengan gerakan anggota tubuh. Namun, sekali lagi, tidak berlebihan.

Untuk menghindari fitnah, istri atau suami yang bertamu sendirian atau bersama orang lain memberitahukan keperluannya kepada pasangan atau keluarganya masing-masing. Tidak ada sama sekali ucapan dan/atau perilaku yang mengandung kemaksiatan.

Bersama Anak Balita

Sudah kita pahami bahwa salam berisi doa. Oleh karena itu, tidak pantas jika kita meng­ucapkannya dengan bercanda. Berucap salam dengan cara yang benar, merupakan contoh prak­tik-baik yang sangat bermanfaat bagi pendidikan akhlak bertamu pada anak.

Ada kebiasaan tuan rumah yang tidak harus kita ikuti, bahkan ada kebiasaan yang wajib tidak kita ikuti. Kebiasaan tuan rumah yang bertentangan dengan ajaran Islam misalnya menyediakan minuman beralkohol, tentu tidak kita ikuti. Kebiasaannya yang bukan merupakan kebiasaan kita seperti merokok tidak kita ikuti juga.

Berkenaan dengan jamuan, timbul masa­lah: bagaimana halnya jika anak kecil yang bersama kita langsung tertarik dan memin­tanya? Jika hal itu terjadi, orang tua justru mempunyai kesempatan untuk mendidiknya secara langsung. Kebiasaan baik apabila diulang-ulang pasti menjadi praktik-baik yang terekam dengan baik oleh anak.

Setelah dipersilakan menikmati, anak kecil kita utamakan. Kita ambilkan dengan cara yang benar. Jangan ssmpai mereka mengambil sendiri dengan cara yang tidak baik. Boleh jadi, sudah disediakan sendok untuk mengambil makanan di stoples, tetapi dia mengambilnya dengan tangan. Lalu, memakannya, tetapi kemudian mengembalikanya ke dalam stoples. Kejadian ini harus dihindari. Jika terlanjur terjadi, nasihatilah dengan baik. Jangan sampai mengatakan, “Ah, kok nakal, sih!” Apalagi, sampai membentak. Makanan yang tidak habis dimakan oleh anak kecil yang bersama kita bertamu, jangan sampai mubazir. Kita dapat saja memakannya. (Tuan rumah yang memuliakan tamunya tentu sangat maklum, selalu tersenyum, dan mengucapkan kata-kata atau doa untuk kebaikan. Bahkan, dia dengan ramah menawarkan, “Siapa yang mengambilkan? Papa, Mama, atau …?” ).

Perlu diketahui bahwa kadang-kadang anak kecil ketika ditawari oleh tuan rumah atau orang tuanya, tidak mau. Tuan rumah dan orang tua yang sudah berpengalaman tidak langsung percaya akan hal itu. Berkenaan dengan itu, orang tua tidak perlu menolak jika tuan rumah menyiapkan makanan yang dihidangkan untuk dibawa pulang. Bisa terjadi, setelah sampai di rumah, anak memintanya, padahal menolak ketika ditawari. Jika hubungan tamu dengan tuan rumah sangat baik dan jarak tempat tinggal dekat sehingga orang tua dapat datang kembali untuk memintakan makanan tersebut, tidak menjadi masalah.

Penting Juga

Di samping ketujuh perilaku tersebut, ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan pula.

Sangat bagus jika tamu berkomunikasi lebih dahulu dengan tuan rumah tentang waktu yang disediakannya. Pada era sekarang, komunikasi sangat mudah dilakukan. Kehadiran tamu secara mendadak dengan maksud melakukan surprise (apalagi pada jam orang tidur/istirahat) perlu dhihindari, kecuali untuk keperluan darurat. Pada bulan Ramadan atau pada hari-hari puasa sunah seperti puasa 6 hari pada bulan Syawal, puasa asy-Syura, puasa tanggal 1-9 pada awal Zulhijjah, puasa Senin-Kamis, puasa Muharram, atau yang lainnya, sangat bagus ketika akan bertamu di rumah sahabat atau saudara memberitahukan akan ikut berbuka. (Tuan rumah yang memuliakan tamu pasti sangat bahagia sebab keikhlasannya menjamu tamu dengan berbuka bersama memperoleh pahala yang sangat besar).

Pada saat tertentu seperti ‘Idul Fitri, ada keluarga yang dalam sehari mendapat kunjungan tamu kadang-kadang lebih dari tiga rombongan. Tamu pertama belum pamit, datang tamu kedua. Jika hal ini terjadi, tamu pertama berdiri sejenak untuk ikut menyambut tamu kedua dan baru duduk kembali setelah tuan rumah mempersilakan. Tentu saja tamu pertama yang beralangan kesehatan sehingga harus duduk, boleh saja tetap duduk.

Durasi (lamanya waktu) bertamu disesuaikan dengan keperluan. Kata kuncinya adalah tidak mengganggu tuan rumah.

Tamu yang mulia tidak melakukan kegiatan yang mengganggu tuan rumah; jika sudah tahu bahwa tuan rumah tidak merokok, tidak merokok apalagi minta disiapkan asbak atau kertas untuk membuang limbah rokok.

Sesungguhnya, oleh-oleh itu merupakan bunga silaturahim. Bertamu untuk silaturahim dengan membawa oleh-oleh sebagai hadiah itu pun merupakan akhlak yang dituntunkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau bersabda, yang artinya, “Berilah hadiah di antara kalian! Niscaya kalian akan saling mencintai.” (HR al-Bukhari)

Wa Allahu a’lam

Mohammad Fakhrudin, warga Muhammadiyah, tinggal di Magelang

Disclaimer: Berita ini merupakan kerja sama Republika.co.id dengan suaramuhammadiyah.id. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi berita menjadi tanggung jawab suaramuhammadiyah.id.
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement