Kamis , 11 January 2018, 19:49 WIB

Ini Program Baznas di Bidang Pendidikan pada 2018

Rep: Kiki Sakinah/ Red: Gita Amanda
Republika/Putra M. Akbar
Direktur Pendistribusian Baznas Natsir Tajang, Kepala Pusat Penilaian Pendidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Moch. Abduh, Pemimpin Redaksi Republika Irfan Junaidi, Kepala Sekolah Cendekia Baznas Sri Nurhidayah, Anggota Baznas Nana Mintarti, Kepala Subdit Paparan Penalaran dan Kreativitas Kemenristekdikti Misbah Fitrianto dan General Manager Republika Penerbit Syahruddin El-Fikri (dari kiri) usai acara Kilas Kinerja Pendidikan Baznas di Kantor Republika, Jakarta, Kamis (11/1).
Direktur Pendistribusian Baznas Natsir Tajang, Kepala Pusat Penilaian Pendidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Moch. Abduh, Pemimpin Redaksi Republika Irfan Junaidi, Kepala Sekolah Cendekia Baznas Sri Nurhidayah, Anggota Baznas Nana Mintarti, Kepala Subdit Paparan Penalaran dan Kreativitas Kemenristekdikti Misbah Fitrianto dan General Manager Republika Penerbit Syahruddin El-Fikri (dari kiri) usai acara Kilas Kinerja Pendidikan Baznas di Kantor Republika, Jakarta, Kamis (11/1).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Tidak hanya fokus di bidang sosial, kesehatan, dan dakwah, Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) juga fokus pada bidang pendidikan. Setelah sukses menyelenggarakan berbagai program di bidang pendidikan pada 2017, Baznas juga memiliki sejumlah program yang akan dilakukan pada 2018.

Anggota Baznas, Nana Mintarti, mengatakan tahun ini Baznas akan memberikan beasiswa ataupun dukungan akses pendidikan bagi siswa different ability (difabel). Menurutnya, beasiswa itu tidak hanya berupa pendidikan formal. Namun juga dalam bentuk bantuan keagamaan lainnya. Seperti yang telah dilakukan Baznas pada 2017, Baznas juga memberikan bantuan Alquran dan kursus tahfiz Alquran bagi difabel.
 
Untuk 2018, ia mengatakan Baznas kemungkinan hanya menyediakan bantuan berupa beasiswa bagi difabel. Sebab untuk menyediakan sekolah, diperlukan persiapan dan bangunan fisik khusus.
 
"Namun tidak menutup kemungkinan Baznas ke depan bisa bersinergi dengan Badan Wakaf Indonesia (BWI) dalam mengembangkan sekolah khsusus disabilitas. Dana wakaf diperbolehkan dimanfaatkan untuk mendirikan bangunan. Namun penyaluran zakat hanya diperuntukkan untuk dana operasional," kata Nana, dalam acara diskusi bertajuk "Kilas Kinerja Pendidikan Baznas Tahun 2017" yang digelar di kantor Republika.co.id, Kamis (11/1).
 
Di sekolah yang didirikan Baznas, yakni SMP Insan Cendekia, tahun ini mereka akan menerima siswa difabel. Namun, ia mengatakan penerimaan tersebut tidak dalam jumlah yang banyak dan hanya bagi difabel yang masih bisa teratasi oleh sarana yang ada di sekolah. Hal itu karena keterbatasan pada sarana dan prasarana yang ada di sekolah Cendekia Baznas.
 
Selanjutnya, tahun ini Baznas juga akan memberikan beasiswa dan bantuan pendidikan ke masyarakat yang terpencil atau komunitas adat. Misalnya, dalam bentuk pengiriman guru ke wilayah sana. Terkait hal ini, Nana mengatakan Baznas akan bersinergi dan bekerja sama dengan kelompok yang bergerak di wilayah terpencil.
 
Selain itu, Baznas akan melanjutkan program untuk memberikan pendidikan bagi kader ulama. Di samping, memberikan beasiswa bagi kader ulama. Dalam hal ini, ia mengatakan Baznas ingin meningkatkan kapasitas para ulama di Tanah Air. Nana menjelaskan, penyaluran bantuan pendidikan Baznas memiliki dua pola, yaitu disalurkan langsung dan bermitra dengan lembaga lain.
 
Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, Nana mengatakan Baznas mencoba strategi yang baru tahun ini. Kini Baznas tidak hanya menekankan pada kuantitas atau jumlah penerima manfaat zakat. Namun, juga pada kualitas atau hasil yang dicapai dari pemberdayaan zakat tersebut. Ia mengatakan Baznas tahun ini akan fokus pada capaian dan tolak ukur hasil dari pemanfaatan zakat tersebut.
 
"Baznas hari ini tidak hanya asal masif dan bagi-bagi uang, tapi kita berorientasi pada kualitas dan pada output dan outcome. Kita melihat dari program yang kita lakukan kemarin itu sifatnya sangat masif, tetapi capaian dari sisi output itu jadi agak bias," ujar Nana.