Ahad , 10 September 2017, 19:37 WIB

Muhammadiyah Aid untuk Rohingya Terkumpul Sementara Rp 3,3 M

Rep: Amri Amrullah / Red: Maman Sudiaman
Republika/ Wihdan
 Direktur Utama Lazismu Andar Nubowo
Direktur Utama Lazismu Andar Nubowo

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dana Muhammadiyah Aid yang berhasil dikumpulkan Lazismu untuk Rohingya, hingga Ahad (10/9) siang tercatat sebesar Rp 3,38 miliar. Dana Muhammadiyah Aid ini rencananya akan difokuskan untuk penanganan emergensi, recovery, dan rekonsiliasi bagi warga Rohingya di Rakhine, Myanmar.

Direktur Utama Lazismu, Andar Nubowo mengungkapkan jumlah dana yang berhasil dikumpulkan itu masih mungkin bertambah. Dana tersebut rencananya akan disalurkan melalui Muhammadiyah Aid, bagian dari Aliansi Kemanusiaan Indonesia untuk Myanmar (AKIM) yang telah disinergikan dengan Kementerian Luar Negeri.

" Hingga pukul 10.30 WIB tadi, dana yang terkumpul sementara Rp 3,38 miliar dan akan dipakai untuk emergensi seperti sekarang, dan saat recovery dan rekonsiliasi," kata Andar kepada Republika.co.id, Ahad (10/9).

Ia menjelaskan untuk tim Muhammadiyah Aid yang akan turun langsung ke Rakhine State, adalah MDMC (Muhammadiyah Disaster Management Center). Sedangkan Lazismu diamanahkan Muhammadiyah fokus untuk penggalangan dana, yang selanjutnya akan dipakai oleh MDMC.

Tim MDMC rencananya akan terjun ke Maungdaw, salah satu kota di Rakhine State. "Minggu depan rencananya tim MDMC akan berangkat ke Myanmar, sekarang dalam proses menunggu persetujuan dari Myanmar," ujarnya.

Untuk tahapan emergensi sekarang bantuan akan diberikan dalam bentuk obat-obatan, kebutuhan pangan dan sandang. Selanjutnya, kata dia, untuk recovery Lazismu dan MDMC akan menjalankan program pendidikan dan pengobatan.

Sedangkan tahapan rekonsiliasi rencananya dana Muhammadiyah Aid akan dibangunkan pasar rekonsiliasi di Maungdaw. Karena banyaknya lembaga kemanusiaan Indonesia yang terlibat, maka program pun akan dibagi.

"Lazismu yang tergabung dalam Muhammadiyah Aid bersama MDMC (Muhammadiyah Disaster Management Center) kebagian membangun pasar rekonsiliasi," ungkap Andar.

Pembangunan pasar rekonsliasi ini akan dimulai usai tahapan darurat berlalu di Rakhine. Pemilihan pasar rekonsiliasi ini, jelasnya sesuai dengan hasil assessment yang telah dijalankan MDMC di Maungdaw awal Januari 2017 lalu.

Januari lalu, ungkap dia, MDMC telah berhasil ke Maungdaw dan membuat program berkelanjutan dan permanen, yakni recovery dan mediasi (rekonsiliasi). "Dari hasil assesment pada awal 2017 diputuskan akan membangun pasar di sana, selain dana juga disiapkan untuk kebutuhan darurat seperti obat-obatan, pangan dan pakaian," terangnya.

Pilihan membangun pasar, karena pasar menjadi forum bersama tempat bertemu semua pihak. Di pasar itu diharapkan terjadi rekonsiliasi antara pihak yang bertikai antara masyarakat rohingya dengan etnik yang lain, dan antara rakyat dengan pemerintah.

Pasar yang akan dibangun di Maungdaw pun lebih pada membuat ulang, karena saat ini pasar tersebut sudah namun sangat tidak layak. Muhammadiyah Aid akan merenovasi pasar agar lebih baik dan mengakomodir semua etnik agar ada interaksi untuk rekonsiliasi di Maungdaw.

"Pasar ini terbukti sudah menjadi tempat bertemunya berbagai etnik baik muslim Rohingya dan etnik lain di Rakhine. Di situlah transaksi ekonomi terjadi, dan menjadi pintu rekonsiliasi secara permanen terjadi," paparnya.