Selasa , 08 August 2017, 11:07 WIB

Selama 33 Tahun, Kurban di Dusun Ini Baru Sekali Dilakukan

Red: Irwan Kelana
Dok BMH
Kebahagiaan anak-anak Dusun Era Batu merayakan Idul Kurban 1437 H bersama  BMH Sulawesi Barat.
Kebahagiaan anak-anak Dusun Era Batu merayakan Idul Kurban 1437 H bersama BMH Sulawesi Barat.

REPUBLIKA.CO.ID, MANDAR -- Bagi masyarakat perkotaan pada umumnya, Idul Adha atau Idul Kurban membahagiakan. Selain karena ada penyembelihan hewan kurban, Idul Adha juga menjadi momentum kumpul bersama keluarga dan  tetangga.

Tetapi tidak demikian halnya dengan  warga sebagian besar  desa, terlebih yang berada di pedalaman, kepulauan dan perbatasan.

Seperti sebuah desa di Sulawesi Barat, yakni Dusun Eran Batu dan Dusun Pammuttu, Binuang, Polewali Mandar. Dusun yang bersekat hutan itu tidak saja terpencil,  tetapi juga tidak mudah untuk dikunjungi. “Untuk sampai ke tempat ini membutuhkan usaha yang tidak mudah,” kata Kepala Laznas Baitul Maal Hidayatullah (BMH)  Perwakilan Sulawesi Barat, Syamsuddin dalam rilis BMH yang diterima Republika.co.id, Selasa (8/8).

Betapa tidak, armada mobil yang mengangkut amanah hewan kurban tak dapat menembus sampai ke lokasi. “Wal hasil, warga kampung berkerumun menjemput 2 ekor sapi dan 1 ekor kambing, sekira jam 00.00 di pematang jalan sebelum kampung,” tuturnya.
 
Tidak itu saja, jika tidak diawasi, bisa saja tiba-tiba hewan kurban lepas dari tempatnya diikat. “Tahun lalu, seekor sapi sempat terlepas malam-malam. Untung tidak sempat lari menyusuri jurang atau bersembunyi di balik rimbun hutan,” ujar Syamsuddin menambahkan.

Syamsuddin mengemukakan, menyalurkan hewan kurban ke desa-desa sungguh mendatangkan rasa haru yang tak tertahankan. Warga desa rata-rata tak mampu menahan rasa bahagianya.

“Ini adalah kurban yang pertama dilaksanakan di dusun kami, sepanjang usia saya. Alhamdulillah, terima kasih BMH, ini benar-benar luar biasa bagi kami,” ujar Kepala Dusun  Eran Batu, Amdan (33 tahun).

Anak-anak pun tak mau ketinggalan. Mereka kompak memakai baju paling baru yang mereka miliki. Selanjutnya mereka menusuk dan membakar sate secara berkelompok di kolong-kolong rumah warga.
 
“Ada kepuasan batin di sini. Andai saja senyum adalah pancaran kebahagiaan, maka kurban para donatur di tempat ini benar-benar telah membahagiakan saudara-saudara kita di sini,” ucapnya mengenang.
 
“Semoga Idul Kurban 1438 H, kami bisa menyalurkan kembali kurban dari umat Islam untuk mereka yang hidup di desa terpencil ini dan desa-desa lain yang memiliki kisah keharuan tersendiri di setiap momentum kurban,” pungkas Syamsuddin.