Monday, 6 Ramadhan 1439 / 21 May 2018

Monday, 6 Ramadhan 1439 / 21 May 2018

ACT Ajak Umat Islam Bantu Bencana Kelaparan di 4 Negara

Jumat 17 March 2017 23:54 WIB

Rep: Rahmat Fajar/ Red: Dwi Murdaningsih

Pelepasan tim Sympathy Of Solidarity (SOS) ke beberapa negara, Jakarta, Jumat (17/3).

Pelepasan tim Sympathy Of Solidarity (SOS) ke beberapa negara, Jakarta, Jumat (17/3).

Foto: Republika/ Yasin Habibi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Aksi Cepat Tanggap (ACT) merespons bencana kelaparan yang terjadi di empat negara yaitu Somalia, Nigeria, Sudan Selatan dan Yaman. Mereka akan mengirimkan bantuan kemanusiaan kepada korban kelaparan.

Presiden ACT, Ahyudin mengatakan sangat penting untuk merespon bencana kelaparan tersebut. ACT akan lebih fokus memberikan bantuan pangan ketimbang yang lainnya. Sebab, kebutuhan  tersebut merupakan hal yang paling dibutuhkan saat ini.

ACT Sebut Hambatan Penyaluran Bantuan Kelaparan Bisa Diatasi

“Sepanjang tahun ini akan terus memberikan bantuan pangan,” ujar Ahyudin, saat acara pelepasan relawan ACT keempat negara terdampak kelaparan, di  Masjid Al-Azhar, Jakarta, Jumat (17/3).

Rencananya, kata Ahyudin, ACT akan mengirimkan bantuan logistik sekitar 10 ribu ton pangan untuk didistribusikan. Tim saat ini terus bekerja menghimpun bantuan dari seluruh masyarakat Indonesia.

Ahyudin mengajak umat Islam untuk saling membantu meringankan korban kelaparan. Ahyudin yakin umat Islam akan banyak memberikan bantuan karena masih dalam suasana spirit 212.

Sementara itu, Senior Vice President ACT, Syuhelmaidi Syukur menjelaskan terkait kondisi terakhir di empat negara terdampak kelaparan. Menurut Syuhelmaidi konflik dan cuacana ekstrem merupakan penyebab dari terjadinya kelaparan. Kelangkaan pangan dan air terjadi serta gizi buruk dialami oleh anak-anak.

Beberapa pemicu atas terjadinya kelaparan yaitu adanya konflik peperangan mengganggu akses perdangangan dan bantauan kepada korban kelaparan. Kemudian El-Nino dan La Nina menyebabkan curah hujan sangat rendah sehingga tidak mampu mencukupi kebutuhan air.

“Ketidakstabilan  ekonomi yang dipicu konflik dan merembet hingga tidak terjangkaunya harga bahan pangan,” jelasnya.

Dia menerangkan, di Somalia terdapat 6,2 juta jiwa mengalami kelaparan dan 250 ribu rakyat Somalia tewas akibat kekeringan dari tahun 2010-2011.

Sementara di Sudan Selatan sebanyak 7,5 juta jiwa terancam hidup dalam keterbatasan, kelaparan dan ancaman kematian. Sebanyak 328.339 orang mengungsi sejak 2013 untuk menghindari konflik. Sedangkan di Yaman sebanyak 18,8 juta jiwa terancam kelaparan dan sangat memerlukan bantuan. Kemudian di Nigeria sebanyak 14,4 juta jiwa memerlukan bantuan darurat karena terancam kelaparan.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES