Jumat 13 May 2011 16:34 WIB

Aleppo, Kota Para Khalifah Umayyah

Red: cr01
 Masjid Ar-Rahman di kota Aleppo, Suriah.
Foto: http://arts-wallpapers.com
Masjid Ar-Rahman di kota Aleppo, Suriah.

REPUBLIKA.CO.ID, Aleppo adalah kota terbesar di Suriah dan termasuk yang paling padat penduduknya. Nama kuno Aleppo adalah Halb, yang berarti besi atau tembaga. Halb mengacu pada bahasa Amori, karena tembaga merupakan sumber utama logam kawasan ini pada zaman kuno. Halaba dalam bahasa Aram berarti putih, mengacu pada warna tanah dan marmer yang melimpah di daerah tersebut.

Selama berabad-abad, Aleppo (Halb) menjadi kota terbesar di Suriah, terbesar ketiga Dinasti Utsmaniyah setelah Konstantinopel dan Kairo. Walau dekat dengan Damaskus dalam hal jarak, namun Aleppo sangat berbeda dalam hal identitas, arsitektur dan budaya. Semuanya ditandai dengan sejarah dan geografi yang berbeda.

Aleppo merupakan salah satu kota tertua di dunia yang terus-menerus dihuni hingga kini. Kota ini ditinggali kira-kira sejak enam milenium sebelum Masehi. Penggalian arkeologis di Tell Qaramel—sekitar 25 kilometer sebelah utara Aleppo—menunjukkan kawasan ini telah dihuni sejak 11 milenium sebelum Masehi, yang menjadikannya sebagai salah satu pemukiman manusia tertua yang diketahui di dunia.

Peran vital Aleppo dalam sejarah adalah karena lokasinya yang berada di ujung lintasan Jalur Sutra (Silk Road), yang menghubungkan Asia Tengah dan Mesopotamia. Ketika Terusan Suez diresmikan pada 1869, jalur perdagangan pun diarahkan melalui laut. Dan Aleppo secara perlahan mulai kehilangan pamor.

Seiring dengan keruntuhan Khilafah Ustmaniyah usai Perang Dunia I, Aleppo menyerahkan pedalaman utaranya ke Turki modern, seiring dengan kian pentingnya jalur kereta api yang menghubungkan kota itu ke Mosul. Kemudian pada 1940-an, Allepo kehilangan akses utamanya ke laut, Antiokhia dan Alexandretta (Iskandaria), juga ke Turki.

Akhirnya, isolasi terhadap Suriah dalam beberapa dekade terakhir kian memperburuk situasi Aleppo, walaupun kehancuran totalnya inilah yang turut membantu pelestarian kota tuanya, arsitektur abad pertengahan dan warisan tradisionalnya. Aleppo kini tengah mengalami kebangkitan signifikan dan perlahan kembali menjadi sorotan. Baru-baru ini, Aleppo memenangkan anugerah "Ibukota Kebudayaan Islam 2006", dan menyaksikan gelombang keberhasilan restorasi monumen-monumen berharga miliknya.

Aleppo terletak sekitar 120 kilometer pedalaman Laut Mediterania, di dataran setinggi 380 meter di atas permukaan laut, 45 kilometer sebelah timur pos pemeriksaan perbatasan Suriah-Turki, Bab Al-Hawa. Kota ini dikelilingi lahan pertanian dari utara dan barat, ditanami pohon zaitun dan pistachio. Ke timur, Aleppo mendekati daerah kering Gurun Suriah.

Kota ini awalnya didirikan beberapa kilometer di selatan lokasi kota tua saat ini, di tepi kanan sungai Quweiq yang muncul dari dataran tinggi Aintab di utara dan mengalir melalui Aleppo selatan ke wilayah subur Qinnasrin. Kota tua Aleppo terletak di tepi kiri sungai Quweiq.

Wilayah Aleppo dikelilingi oleh lingkaran delapan bukit yang mengelilingi sebuah pusat bukit terkemuka di mana sebuah benteng—awalnya sebuah kuil yang dibangun pada milenium ke-2 SM—didirikan. Diameter lingkaran tersebut sekitar 10 kilometer. Kota tua ini terkurung dalam sebuah tembok kuno yang terakhir kali dibangun kembali oleh Mamluk. Sejak itu, dinding yang memiliki sembilan pintu gerbang dan dikelilingi parit nan dalam ini, lenyap.

Kota ini berada di bawah kontrol Shalahuddin Al-Ayyubi dan kemudian Dinasti Ayyubiyah sejak 1183. Pada 24 Januari 1260, Aleppo diambil alih oleh bangsa Mongol di bawah pimpinan Hulagu Khan yang bersekutu dengan pengikut ksatria Frank, penguasa Antiokhia Bohemond VI dan ayah mertuanya, Hetoum I—penguasa Armenia.

Pada 20 Oktober 1280, bangsa Mongol merebut kota ini lagi, menjarah pasar dan membakar masjid. Penduduk Muslim melarikan diri ke Damaskus, di mana pemimpin Mamluk, Qalawun mengumpulkan pasukannya. Ketika pasukannya maju, pasukan Mongol kembali mundur, melintasi Sungai Efrat.

Pada pertengahan abad ke-16, Aleppo menggantikan Damaskus sebagai pasar utama barang yang datang ke kawasan Mediterania dari timur. Hal ini tercermin dari fakta bahwa Perusahaan Levant of London—sebuah perusahaan bersama yang didirikan pada 1581 untuk memonopoli perdagangan Inggris dengan Kekaisaran Ottoman—tidak pernah berusaha mendirikan pabrik atau agend di Damaskus, meskipun telah memiliki izin untuk melakukannya. Aleppo menjadi kantor pusat perusahaan tersebut hingga akhir abad 18.

Sebagai dampak perkembangan ekonomi, banyak negara Eropa yang membuka konsulat di Aleppo selama ke-16 dan 17, seperti konsulat Republik Venesia pada 1548, konsulat Prancis 1562, konsulat Inggris 1583 dan konsulat Belanda pada 1613.

Namun kemakmuran Aleppo yang dirasakan pada ke-16 dan 17 mulai memudar karena produksi sutera di Iran menurun dengan jatuhnya dinasti Safawi pada 1722. Pada pertengahan abad, para kafilah tidak lagi membawa sutera dari Iran ke Aleppo, dan produksi lokal sutera Suriah tidak mencukupi permintaan Eropa. Para saudagar Eropa meninggalkan Aleppo dan kota itu pun terjun ke jurang kehancuran ekonomi yang tidak bisa dibangkitkan lagi hingga pertengahan abad ke-19, ketika produksi kapas dan tembakau lokal menjadi komoditas utama yang menarik minat Eropa.

 

Aleppo adalah sebuah kota perpaduan beragam model arsitektur. Para penyerbu, dari Byzantium, Seljuk, Mamluk hingga Dinasti Utsmani meninggalkan tanda arsitektur mereka di kota ini, yang asal-usulnya bisa ditelusuri lebih dari 2.000 tahun.

Ada berbagai jenis konstruksi abad 13 dan 14 di Aleppo seperti caravanserais, sekolah Al-Qur'an dan hammams (tempat pemandian), bangunan suci Kristen dan Islam di kota tua dan kawasan Jdeydeh.

Kawasan Jdeydeh adalah pusat perumahan prestisius borjuis Aleppine abad 16 dan ke-17 dengan ukiran-ukiran batu yang megah. Arsitektur Baroque dari abad 19—awal abad 20—terdapat di kawasan Azizyeh, misalnya Villa Rose yang terkenal.

Selain itu, di Aleppo juga terdapat beberapa masjid terkenal dan bersejarah, diantaranya Masjid Al-Shuaibiyah yang juga dikenal sebagai Masjid Al-Umari, Al-Tuteh dan Masjid Al-Atras, yang merupakan masjid tertua.

Ada pula Masjid Agung Aleppo atau Jami' Bani Umayyah Al-Kabir yang didirikan pada 715 oleh khalifah Bani Umayyah, Al-Walid I yang diteruskan oleh penggantinya Sulaiman. Dan salah satu masjid yang juga terkenal di Aleppo adalah Masjid Ar-Rahman, dengan arsitektur dan desain yang sangat megah.

Tak sia-sia rasanya melakukan ziarah atau berkunjung ke Aleppo jika ada biaya, waktu dan kesempatan. Kota tua ini adalah salah satu bukti sejarah keemasan Islam pada masa Daulah Umayyah berkuasa.

sumber : Dari berbagai sumber
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement