Rabu, 9 Sya'ban 1439 / 25 April 2018

Rabu, 9 Sya'ban 1439 / 25 April 2018

Sirah Nabi Mengubah Kehidupan Pemuda Ini....

Ahad 15 April 2018 07:33 WIB

Rep: Ratna Ajeng Tejomukti/ Red: Agus Yulianto

Mualaf (ilustrasi)

Mualaf (ilustrasi)

Foto: Wordpress.com
Tuhan yang Mahamendengar mengarahkan pria 27 tahun itu menuju kebenaran.

REPUBLIKA.CO.ID, Meski menjalankan agama sebaik mungkin, pemuda Inggris, Chris, tak juga memiliki akhlak mulia. Dia sering menenggak minuman keras (miras) bersama teman-teman.

Lingkungannya sangat buruk. Banyak orang sekitarnya mudah berputus asa menghadapi permasalahan hidup. Sebagian menempuh jalan tragis yang dianggap menyelesaikan hidup: bunuh diri.

Pemuda bertubuh besar ini sering melihat orang yang dikenalnya tak lagi mengembuskan napas karena hal tersebut. Namun, dia tidak ingin melakukan tindakan pengecut itu. Pria berambut pirang ini selalu berpikir bahwa kehidupan harus dijalani dengan baik.

Sekali dalam sepekan dia mengunjungi rumah ibadah untuk berdoa seorang diri. Sementara, ayahnya tak mau beribadah karena tak memercayai keberadaan Tuhan.

Dalam keluh kesahnya kepada Tuhan, dia berharap ada orang yang dapat membawanya kepada kehidupan yang lebih baik, menjadi insan yang bermanfaat bagi banyak orang. Harapan itu selalu disampaikan dalam doa hingga tiga bulan.

Perlahan tapi pasti, Tuhan yang Mahamendengar mengarahkan pria 27 tahun itu menuju kebenaran. Suatu ketika saat berselancar di media sosial, Chris melihat sebuah video tentang Nabi Isa. Berdasarkan keyakinannya, Isa adalah anak Tuhan. Namun, video itu menceritakan hal berbeda, memosisikan Nabi Isa sebagai utusan Tuhan. “Bagaimana mungkin?” tanya Chris dalam hatinya.

Dia terus menonton video berjudul “Hamba yang Penyayang” selama dua bulan. Namun, selama menonton, dia masih belum meyakini kebenarannya. Kemudian dia juga menonton tayangan video biografi Nabi Muhammad. Chris mengetahui video yang kedua menceritakan tentang syiar Islam. Dia tak terlalu tertarik karena Islam, sepengetahuannya, adalah agama teror, radikal, yang jauh dari kesantunan. Keyakinan itu dia dapatkan berdasarkan omongan orang di Barat yang benci setengah mati terhadap Islam.

Suatu hari dia naik sebuah taksi. Selama di dalam taksi dia bertanya mengenai Isa yang merupakan Nabi Allah. Sopir yang berasal dari Asia itu hanya menjawab dengan senyuman. Pria Asia itu kemudian menjelaskan bahwa Islam memang mengajari demikian.

Chris belum bisa menerima jawaban singkat itu karena dalam pemahamannya, Muslim adalah teroris dan pembunuh. Mana mungkin agama mereka memiliki Isa yang dianggap sebagai seorang penyelamat.

Dia kemudian menatap Chris dan memintanya terus menonton video itu. Namun, selama beberapa pekan dia meninggalkan video tersebut dan tak lagi menontonnya. "Anehnya ada perasaan dalam diri ini yang tak biasa, seperti selalu ingin mengetahui hal baru. Sangat mengganggu ketenangan," kata dia.

Dia lawan perasaan itu dengan mabuk miras bersama teman-temannya. Namun, perasaan tersebut tak kunjung pergi. Dia selalu datang, bahkan semakin membesar. Dia kemudian teringat akan kisah nabi yang pernah ditontonnya. Mereka adalah sosok yang tegar, tak mudah putus asa dalam menghadapi cobaan yang luar biasa. Ada yang dibuang ke dalam sumur, seperti yang dialami Nabi Yusuf. Ada juga yang dilempari kotoran manusia, seperti yang dialami Rasulullah, ada yang dikucilkan kaumnya sendiri, bahkan diperangi, seperti yang dialami Isa.

Kisah itu menginspirasi Chris untuk tegar menghadapi kehidupan. Semangatnya semakin membesar. Dia mencoba bangkit dari keterpurukan dirinya. Pemuda berkulit putih itu menonton kembali sejumlah video tentang kenabian, terutama Rasulullah.

Setiap malam, dia berbicara kepada Tuhan sebelum tidur. Dia selalu berharap dan memohon Tuhan akan membantunya dalam kehidupan ini. Chris berbicara dengan Tuhan menggunakan caranya sendiri karena dia tidak mengerti bagaimana berdoa secara Islam.

"Selama ini orang-orang hanya mengatakan hal buruk mengenai Muhammad sehingga saya salah paham tentang Islam dan Muhammad. Setelah menonton ini, saya menjadi suka dan kisah inilah yang saya inginkan," kata dia.

Kemudian, Chris mulai bekerja di Broadway, Bradford, sebagai petugas keamanan. Dia kemudian bertemu dengan seorang pria Nigeria bernama Bashir. Sebelumnya, dia berpikir bahwa semua temannya adalah orang yang keras. Dia tidak ingin teman Muslimnya juga bersifat demikian.

Chris bekerja bersama Bashir selama beberapa bulan. Dia banyak berbicara mengenai Islam dan bahkan mengundangnya makan bersama. Lambat laun Chris menyadari bahwa Bashir adalah teman dekat yang menuntunnya kepada Islam. Darinyalah Chris mendapatkan banyak penjelasan dan pengetahuan Islam.

Bersyahadat

Pada 5 November 2017, Chris merayakan malam api unggun bersama teman-temannya. Dia kembali mabuk bersama teman-temannya. Setelah itu tertidur dan tak mengetahui apa yang terjadi setelahnya.

Setelah terbangun, dia merasa bersalah atas apa yang sudah dilakukannya. Rasanya ingin memohon ampunan kepada Sang Pencipta karena perbuatannya adalah salah. Chris menelpon Bashir dan bertekad untuk pergi ke masjid bersama.

Bashir tak langsung mengiyakannya. Dia meminta Chris untuk mempelajari Islam terlebih dahulu sebelum ke masjid. Chris menjelaskan, bahwa dia telah mempelajari Islam selama 10 bulan terakhir.

Bashir kemudian membawanya ke Masjid. Di sana mereka menemui seorang imam, Mas'ud. Pertemuan itu sangat dinantikan Chris yang menginginkan pertobatan. Imam bertanya beberapa hal kepada Chris seputar keyakinannya untuk memeluk Islam. Setelah merasa yakin sepenuhnya, Mas’ud membimbingnya bersyahadat.

Menjadi Muslim pertama kali adalah hal yang tidak terlupakan. Chris masih mengingat perasaan ketika mengucapkan syahadat, terutama saat pertama kali membahas Islam secara terbuka. Meski begitu, dia tak mampu menjelaskannya dengan kata-kata. Takjub, satu kata yang dia ungkapkan ketika mengingat kembali perjalanannya dalam menemukan Islam. Setelah bersyahadat, dia tinggal di masjid beberapa malam.

Hingga saat ini, dia sering bermalam di masjid, bahkan masih merasa takjub. Terutama saat belajar hal-hal baru. Kini, orang-orang melihatnya lebih cerah, bersemangat. Dulu dia tidak pernah menghomati orang tua dan saudaranya. Setiap hari yang dilakukan dengan teman-temannya hanya berdebat.

Sekarang Islam mengajarinya untuk memperlakukan orang, menjalani kehidupan sosial dengan kesantunan dan kebersamaan. Islam menjadi pedoman hidupnya. "Islam adalah panduan, saya tidak melihat Alquran hanya sebagai buku aturan, tetapi juga panduan hidup. Segala sesuatu dalam Islam sungguh bermanfaat," kata dia. n ed: erdy nasrul

Sumber : Aboutislam.net
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES