Sunday, 12 Ramadhan 1439 / 27 May 2018

Sunday, 12 Ramadhan 1439 / 27 May 2018

Usai Bersyahadat, Syeikh Yusuf Estes Geliatkan Dakwah Islam

Jumat 23 March 2018 16:19 WIB

Red: Agung Sasongko

Syeikh Yusuf Estes memberikan tausyiah kepada umat muslim di Masjid Agung Sunda Kelapa, Jakarta, Ahad, (18/3).

Syeikh Yusuf Estes memberikan tausyiah kepada umat muslim di Masjid Agung Sunda Kelapa, Jakarta, Ahad, (18/3).

Foto: Republika/Iman Firmansyah
Hidayah itu datang pada awal 1991 di usia 47 tahun.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kunjungan Syekh Yusuf Estes, pendakwah asal Amerika Serikat, ke Jakarta menyisakan kenangan mendalam, khususnya bagi jamaah yang menghadiri ceramahnya di Masjid Agung Sunda Kelapa, Ahad (18/3).

Bukan hanya menjelaskan tentang indahnya Islam dan pentingnya Alquran bagi kehidupan dunia dan akhirat, ceramah yang dihadiri ratusan Muslim dan non-Muslim ini juga berkesan dengan adanya sesi pembacaan syahadat.

Seperti apa, Yusuf Estes menerima hidayah?

Syeikh Yusuf Estes  lahir di Ohio pada tahun 1944. Ia berdarah campuran Amerika, Irlandia, dan Jerman hingga kerap disebut WASP (white anglo protestant). Masa kecilnya banyak dihabiskan di Texas dan dididik dalam keluarga Kristen Protestan. Ia juga rutin ke gereja bersama keluarga dan dibabtis saat berusia 12 tahun. Ayahnya pernah aktif dalam berbagai kegiatan gereja. Sang ayah sangat menguasai Bibel dan terjemahannya. Dari sang ayah pulalah, Yusuf belajar Bibel dalam berbagai versi dan terjemahannya.

Saat remaja, ia merasakan haus mempelajari ajaran Kristen. Di usia seperti itu, ia berkeinginan berkunjung ke banyak gereja untuk menambah pengalaman dan pengetahuan Kristen. Sebagai penggemar musik--terutama klasik--ia sering mendapat undangan menyanyi di gereja. Tahun 1960-an, ia mengajar musik. Pada tahun 1963, ia mempunyai studio sendiri di Laurel, Maryland.

Saat dewasa, batinnya mulai gelisah. Ia belum bisa menerima konsep Tuhan itu satu. Namun, saat yang sama, Dia menjadi tiga (Trinitas). Katanya, "Saya selalu bertanya, jika Dia 'Tuhan Bapa', bagaimana mungkin pada saat yang sama juga menjadi 'Anak Tuhan'?" Bertahun-tahun dalam 'pencarian' sampai akhirnya ia bertemu dengan Muhammad, orang Mesir itu.

Kini, ia menjadi direktur Islam Mission Foundation International, sebuah kelompok penelitian Islam yang memrepresentasikan pesan Islam ke dalam bahasa Inggris sesuai Alquran dan dan sunah. Ia juga aktif di berbagai aktivitas dakwah. Sebutlah, misalnya, menjadi imam tetap di markas militer AS di Texas, dai di penjara sejak tahun 1994, dan pernah menjadi delegasi PBB untuk perdamaian dunia.

Yusuf Estes menguasai bahasa Arab secara aktif dan ilmu Alquran selepas belajar di Mesir, Maroko, dan Turki. Sejak 2006, Yusuf Estes secara reguler tampil di berbagai program televisi, seperti PeaceTV, Huda TV, dan IslamChannel yang bermarkas di Inggris. Ia juga tampil dalam serial televisi Islam untuk anak-anak bertajuk Qasas Ul Anbiya yang bercerita tentang kisah-kisah para Nabi.

Hidayah

Hidayah itu datang pada awal 1991 di usia 47 tahun. Kala itu, Yusuf Estes dijadwalkan bertemu dengan Muhammad, seorang pengusaha Mesir untuk urusan bisnis. Semula, ia enggan bersua, apalagi untuk berkongsi dagang. Pertimbangannya lantaran calon mitranya itu seorang Muslim. "Tidak. No way," batinnya menolak.

Sikap itu luluh setelah ayahnya mendesak dan menjelaskan kepribadian pria Mesir yang disebutnya ramah dan baik hati itu. Toh, Yusuf masih juga menawar, memberi syarat. Ia hanya mau bertemu hari Minggu usai melalukan kegiatan di gereja supaya punya 'kekuatan' berhadapan dengan calon mitra bisnisnya. Permintaan itu disepakati.

Awal pertemuan, ia seakan tak percaya dengan pria yang ada di hadapannya. Muhammad datang mengenakan jas, tidak seperti penampilan yang ia bayangkan sebelumnya: berjenggot lebat dan bersorban. Muhammad menyalaminya, menyapa dengan ramah. Tapi, ia masih belum terkesan. Di benaknya, sempat terpikir, bagaimana mengkristenkan pria Mesir ini?

Pertemuan-pertemuan selanjutnya menjadi berubah, lebih menyenangkan. Pembicaraan tidak lagi sebatas soal bisnis, tapi juga masalah keimanan. Bahkan, keduanya sering melakukan perjalanan bisnis bersama sehingga perbincangan soal keimanan kian intensif. Mereka, misalnya, berbicara tentang konsep Tuhan, arti hidup, tentang nabi, dan banyak lagi. Pendek kata, Yusuf merasa nyaman berdiskusi dengan Muhammad. Sampai akhirnya, ia mengajak Muhammad tinggal di rumahnya.

Sekali waktu, seorang pendeta teman Yusuf terkena serangan jantung. Yusuf rutin menjenguknya di rumah sakit. Sesekali ia mengajak Muhammad. Berbeda dengan Yusuf, sang pendeta menolak berdiskusi dengan Muhammad soal Islam. Hingga satu hari, datang pasien baru yang bernama Peter Jacobs. Tinggal sekamar dengan teman pendetanya, Peter datang menggunakan kursi roda--tampaknya sedang depresi berat.

Yusuf lalu mengajaknya berbincang, mencoba mendekatkannya dengan Tuhan. Ia pun menceritakan kisah Nabi Yunus yang hidup dalam perut ikan, sendirian dalam gelap, namun masih ada Tuhan bersamanya. Pria di kursi roda itu terkesan, lalu menceritakan masalahnya. Ia ingin membuat pengakuan dosa, tapi Yusuf menyatakan bahwa dirinya bukan pendeta. Giliran Yusuf yang tersentak setelah pria itu menyebut dirinya pernah menjadi pendeta, mantan misionaris, yang telah berkeliling Amerika Latin dan Meksiko selama 12 tahun.

Sebagaimana halnya Muhammad, Yusuf menawarkan Peter tinggal di rumahnya. Yusuf berniat memberi waktu istirahat kepada Peter untuk penyembuhan depresi yang dialaminya. Mantan pendeta itu mengangguk setuju.

Sejak itu, ketiganya sering terlibat diskusi hingga larut malam. Perbincangan akhirnya masuk ke masalah kitab-kitab suci. Yusuf kemudian merasa takjub ketika Muhammad menceritakan keberadaan Alquran yang sejak pertama kali diturunkan hingga saat ini hanya dengan satu versi: bahasa Arab. Alquran dihafal oleh jutaan Muslim di seluruh dunia dengan bahasa yang sama.

Peter pun penasaran. Ingin melihat apa yang dilakukan orang Islam di masjid. Ia pun ikut Muhammad. Kembali dari sana, Yusuf menanyai Peter kegiatan apa yang dilakukan di masjid. Peter mengatakan, tidak ada apa-apa. Mereka cuma datang dan shalat, tidak ada acara seremoni, tidak ada nyanyian apa pun.

Waktu terus berlalu. Beberapa hari berselang, Peter minta lagi ikut ke masjid. Berbeda dengan sebelumnya, kali ini keduanya belum kembali hingga larut malam. Yusuf khawatir sesuatu terjadi kepada mereka. Tiba-tiba, Muhammad muncul di hadapannya bersama seorang pria berjubah, mengenakan topi putih. Melihat wajah pria itu, Yusuf tersentak. Wajah laki-laki yang datang bersama Muhammad itu tak asing baginya: Peter Jacobs. Kepada Yusuf, Peter menyatakan sudah bersyahadah.

Yusuf tak bisa tidur semalaman karena memikirkan seorang mantan pendeta yang dikenalnya masuk Islam. Ketika Yusuf menceritakan kejadian itu kepada istrinya, jawaban sang istri justru membuatnya lebih tersentak lagi. Perempuan itu menyatakan juga ingin masuk Islam karena, menurut dia, itulah yang benar.

Yusuf segera membangunkan Muhammad, meminta waktu berdiskusi. Keduanya bertukar pandangan sepanjang malam. Subuh menjelang, Muhammad minta izin shalat. "Ketika itu, saya mendapat firasat bahwa kebenaran telah datang. Saya harus membuat pilihan," ucapnya, seperti ditulis dalam situs www.islamtomorrow.com. Ia segera keluar rumah. Di belakang rumah, ia memungut sepotong papan, lalu meletakkannya ke arah orang Islam shalat. Ia bersujud menghadap kiblat, meminta petunjuk-Nya.

Petunjuk-Nya benar-benar menghampirinya. Pagi itu, pukul 11.00, Yusuf Estes bersyahadah di depan dua saksi: Peter dan Muhammad. "Alhamdulillah, di usia 47 tahun, saya menjadi seorang Muslim," katanya. Beberapa hari kemudian, istrinya ikut bersyahadah, disusul ayahnya pada beberapa bulan berselang. Ayah mertuanya juga melakukan hal serupa, yaitu masuk Islam di usia 86 tahun. Anak-anaknya ia pindahkan ke sekolah Islam.

Sejak itu, ia menghabiskan waktunya untuk Islam. Yusuf berdakwah ke mana-mana hingga ke luar Amerika. Tahun lalu, ia ke Australia, berdakwah di hadapan warga Muslim dan non-Muslim di negeri itu. Ia juga mengelola Islamalways.com, website dengan motto where we're always open 24 hours a day and always plenty of free parking. Ya, hidayah itu datang saat ia berusia 47 tahun.

Sumber : Islam Digest Republika
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES