Senin, 13 Ramadhan 1439 / 28 Mei 2018

Senin, 13 Ramadhan 1439 / 28 Mei 2018

Doa Pierre Setelah Bersyahadat

Selasa 13 Februari 2018 16:46 WIB

Rep: Umi Nur Fadillah/ Red: Agung Sasongko

Mualaf/Ilustrasi

Foto:

Suatu ketika, ia mengingat peristiwa saat kelas V sekolah dasar. Saat itu, waktunya menyerahkan tugas hafalan di sekolah minggu. Dari 10 anak, hanya dirinya yang salah membaca dengan tepat. Padahal pasal dan ayat yang ia baca sama dengan teman lainnya.

Penasaran, ia menanyakan pada seorang kakak di sekolah minggu. Kakak tersebut mengatakan tak ada yang salah dengan tugas Pierre. Hanya, jawaban teman-temannya berasal dari bibel yang disempurnakan. Sementara Pierre membaca bibel terbitan 1990an.

Saat itu ia tak mempermasalahkan atau memikirkan lebih dalam soal penyempurnaan kitab suci. Namun, saat dewasa, keraguan terhadap agamanya muncul, Pierre kembali memikirkan peristiwa itu.

"Kalau benar bibel itu kitab suci, kenapa banyak revisi. Menurut saya, kitab suci itu suci, nggak boleh ditambah, dikurangi. Kalau ada intervensi manusia di sana, apa bisa itu dikategorikan sebagai kitab suci, kan nggak,"tutur Pierre.

Terkait kenapa pilihannya jatuh ke Islam, bagi Pierre, Islam satu-satunya agama yang bisa diterima oleh akal dan logika, agama tanpa kontradiksi, agama sempurna yang mengatur dari cara menggunting kuku hingga bernegara. Islam mengatur seluruh aspek kehidupan manusia.

Akhirnya ia memberanikan diri membaca Alquran. Ia menemukan surat Al Baqarah ayat 23-24 tentang tantangan Allah SWT. Dengan membaca basmalah, Pierre melantuntan dan mengartikan kedua ayat itu.

"Jika kamu meragukan Alquran yang kami turunkan kepada Nabi Muhammad SAW, coba datangkan satu surat yang semisal Alquran itu. (Al baqarah:23) Tantangan itu langsung diberikan jawaban oleh Allah SWT. Kamu sesungguhnya tak akan bisa, dan pasti tak akan bisa. (Al Baqarah:24). Namun, yang menjadi pegangan Pierre yakni QS Al Hijr:9, Sesungguhnya kami yang menurunkan Alquran dan kami yang akan menjaganya."

Menurut dia, bukti surat itu yakni ada banyaknya hafidz Alquran dari dulu hingga saat ini. Sehingga, setiap kata dan huruf dalam Alquran tak pernah berubah.

Pun ia melihat kalimat politik Allah SWT ada dalam QS Al Ikhlas, Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan-Nya. Pierre menganggap itu adalah definisi Tuhan yang sebenarnya, yakni tak berwujud, tak terlihat, tetapi bisa dirasakan.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA