Wednesday, 7 Jumadil Awwal 1439 / 24 January 2018

Wednesday, 7 Jumadil Awwal 1439 / 24 January 2018

Abd Al-Malik: Islam Tawarkan Identitas yang Menantang

Jumat 12 January 2018 18:30 WIB

Rep: c15/ Red: Agung Sasongko

Mualaf (ilustrasi)

Mualaf (ilustrasi)

Foto: Onislam.net

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menjadi penjahat yang lihai mencuri mobil dan mengedarkan nar koba pernah ia lakoni. Beruntung, ia mampu bangkit dari jurang tanpa masa depan itu. Allah SWT menganugerahinya rasa ingin tahu yang begitu besar sehingga ia mendulang nilai-nilai terbaik di sekolah dan membawanya pa da sebuah pencarian spiritual.

Pada awal keislamannya, Malik yang berprofesi sebagai rapper kalut saat mendengar Islam tak sejalan de ngan seni musik yang dipilihnya. Da lam autobiografinya yang berjudul Sufi Rapper (2009), ia mengatakan, budaya rap Prancis lahir dalam konteks rasisme dan xenofobia (ketakutan berle bih an kepada orang asing) yang me luas.

Ia hidup di sebuah ghetto (ling kung an tempat tinggal kaum imigran minoritas) di Prancis. “Saat aku masih sekolah, aku sering melihat politisi berkata, ‘Kita semua adalah Prancis,’ tapi aku tak pernah melihat seorang pria kulit hitam pun di televisi. Tak ada politisi Prancis yang berkulit hitam,” katanya.

Ia masih ingat betapa ia mengecam kurangnya kesempatan bagi anakanak imigran, juga tingginya tingkat kemiskinan dan kejahatan di tempat tinggalnya. Hal itu semakin diperparah oleh diskriminasi yang terjadi dalam berbagai hal, juga pelecehan yang dilakukan para polisi.

Malik dilahirkan di Paris pada 14 Maret 1975 dengan nama Régis Fa yette-Mikano. Pada 1977, Régis kecil yang berdarah Kongo dibawa orang tuanya kembali ke negara asalnya dan tinggal di Brazzaville (ibu kota sekaligus kota terbesar di Republik Kongo). Régis menghabiskan masa kecilnya di sana, sebelum akhirnya ia dan keluarganya kembali ke Prancis dan menetap di distrik ghetto bernama Neuhof (selatan Kota Strasbourg) pada 1981.

Saat Régis memasuki usia remaja, ayahnya pergi meninggalkan rumah. Sejak itu, ibunya harus berjuang seorang diri membesarkan dan mendidik Regis. Dan, sejak itu pula, Régis mulai tumbuh menjadi penjahat kecil.

Di lingkungan barunya yang keras tanpa sosok ayah, Régis belajar me menuhi keterbatasan dan kekurangan yang didapatinya di rumah. Dari kejahatan- kejahatan kecil yang dilaku kan nya, ia terus tumbuh menjadi pen jahat yang berhasil membangun do minasi bersama beberapa temannya.

Ia menjambret dan mencuri mobil untuk menghasilkan uang yang tidak bisa diperolehnya dari rumah. Dalam kondisi itu, Régis menjalani tiga peran kehidupan sekaligus. Ia adalah seorang anak yang berjuang mempertahankan hidup keluarganya, siswa yang ber prestasi di sekolah, serta penjahat ja lanan yang lihai.

Régis pun memilih musik rap un tuk menyalurkan frustrasinya. Lewat mu sik rap pula, ia bercerita dan me nyampaikan kritik sosial atas semua yang dialaminya. Terinspirasi rap Amerika pada 1980-an, Abd al-Malik bergabung dengan saudara dan seke lompok temannya menciptakan New African Poets, disingkat NAP.

Di tengah kekritisannya, Régis terpikat pada gerakan Black Power dan mengidolakan Malcolm X sebagai seorang pahlawan Muslim kulit hitam yang berani menentang ketidakadilan. Baginya dan sejumlah pemuda imigran di Prancis kala itu, Islam mena warkan sebuah identitas yang me nantang.

Pengetahuan tentang Islam diperolehnya dari para misionaris Islam yang berceramah di jalan-jalan. Pada usianya yang ke-16, Régis memutus kan memeluk Islam dan mengganti namanya menjadi Abd al-Malik. Selama beberapa tahun setelahnya, ber sama para Muslim tersebut, ia ber keliling Prancis untuk menyeru pria-pria muda agar pergi ke masjid, menumbuhkan dan memanjangkan jenggot, serta ber henti meminum alkohol dan mengonsumsi narkoba.

Beberapa lama menyelami Islam, Abd al-Malik melihat ajaran yang populer di ghetto-ghetto Prancis itu bukan sesuatu yang keras. Namun, katanya, dalam Sufi Rapper, ajaran ter sebut mendorong para imigran mu da untuk mencerca segala sesuatu yang sekuler, modern, dan kebaratbaratan. “Dan, itu justru memperda lam rasa keter asing an kami,” ujarnya.

Di situlah ia kembali menemukan gejolak dalam batinnya. Sebagai remaja, Abd al-Malik merasakan ketulusan dan semangatnya pada Islam sama besarnya dengan hasratnya pada rap, sebuah seni yang harus ia cerca dan jauhi. “Karena, rap adalah musik modern dan kebarat-baratan.”

Abd al-Malik terjebak dalam para doks itu hingga beberapa tahun. “Itu menyakitkan,” katanya. Perasaan sakit itu semakin menjadi karena ia membiayai musiknya dengan melaku kan kejahatan dan menjadi pengedar nar koba. “Perbuatan-perbuatan itu sangat tidak agamis.”

Hingga pada akhirnya, suatu hari Abd al-Malik pergi kepada seorang pemimpin penjahat lokal dan meminta pinjaman. Setelah itu, sambil meme gang sebuah kantong sampah penuh uang, Abd al-Malik terduduk dan me nangis seorang diri di apartemennya.

Kekacauan batin itu mendorong nya untuk mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang keimanannya. Dalam pencarian itu, ia memperoleh jawaban dari tasawuf, cabang sufisme Islam yang kontemplatif.

Ia menemui seorang guru spiritual dari Afrika Utara yang mengajarkannya bahwa inti agama adalah cinta dan kesadaran akan sifat rohani setiap manusia. “Maka, Islam adalah agama cinta. Islam adalah berdamai dengan dirimu dan orang lain,” katanya.

Ia sampai pada satu kesimpulan bahwa memosisikan Islam sebagai agama kelompok minoritas sama de ngan menjadi minoritas dalam Islam itu sendiri. “Dan, itu bukanlah Islam yang sesungguhnya.”

Muslim tak Harus Antimodernitas

Pergeseran pola pikir telah memperluas pandangan Abd al-Malik tentang musik rap dan perannya melalui seni tersebut. Ia mulai menulis lagu untuk album solonya dengan meng usung pesan yang menyerukan pemahaman antarras. Salah satu lagunya, “12 September 2001”, adalah permohonan untuk memisahkan politik dan agama. Sementara, lagu lainnya, “God Bless France”, menggambarkan evolusi pribadinya dari kebencian pada patriotisme.

Dalam autobiografinya, Abd al-Malik menuliskan bahwa dalam musiknya, ia hanya berupaya menerjemahkan bahasa hati. Ia pun memutuskan untuk meninggalkan rap keras dan mulai berkolaborasi dengan berbagai musisi untuk mengembangkan sebuah suara baru yang mencampurkan musik jazz, nyanyian, dan lirik kritis yang estetis.

Ketika para rapperlain terus menciptakan “musik amarah” dan beberapa di antaranya dituduh memicu terjadinya kekerasan, Abd al-Malik tetap dengan pilihannya. Alih-alih mengkritik sistem Prancis, Abd al-Malik mendorong negaranya untuk hidup sesuai dengan cita-cita demokrasi. Melalui musiknya yang telah meraih berbagai penghargaan, ia seakan ingin mengatakan bahwa Muslim tak harus menjauhi hal-hal modern. “Terlebih, jika kita bisa berbuat sesuatu dengan itu.”

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES