Selasa , 21 November 2017, 19:15 WIB

Theresia Monica: Seorang Muslim Hidup Lebih Sistematis

Rep: Hasanul Rizqa/ Red: Agung Sasongko
Onislam.net
Mualaf
Mualaf

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bagi pemilik nama lengkap Theresia Monica Danis Rahayu ini, pernikahan adalah peristiwa yang sakral. Hubungan antara suami dan istri, tidak hanya mengikatkan keduanya secara lahir dan batin. Namun, lebih dari itu, ijab dan kabul adalah gerbang bersama menuju kebahagiaan akhirat.

Jodoh memang tidak disangka-sangka. Theresia, begitu akrab disapa, jatuh cinta dengan pria Muslim, yang kemudian menjadi suaminya. Keduanya berkenalan pertama kali ketika masa kuliah kerja nyata (KKN) di Gresik. Mereka berstatus sama-sama mahasiswa Universitas Airlangga.

Pada 1996, mereka akhirnya menikah. Sebagai bentuk komitmen dalam ikatan suci itu, Theresia memutuskan pindah ke agama Islam. Dia mengaku, perpindahan keyakinannya itu dilakukan tanpa dorongan, apalagi paksaan dari siapa pun, termasuk sang suami.

Theresia memandang sosok suami sebagai nakhoda bagi bahtera rumah tangga. Kalau dibilang alasannya karena pernikahan, iya.

Hanya, bukan semata-mata karena pernikahan lantas pindah agama. Tapi, lebih pada kesadaran dari saya sendiri untuk pindah agama, kata perempuan kelahiran Surabaya, September 1968 itu kepada Republika.co.id, belum lama ini.

Awalnya, keputusannya itu ditentang keras, terutama oleh Bude (bibi). Namun, Theresia perlahan-lahan meyakinkan Bude, sosok yang bahkan, sudah dipanggilnya dengan sebutan Mama itu sejak kecil.

Sejak kecil, Theresia mengalami dampak dari perceraian orang tua. Ketika berusia tiga tahun, pengasuhan Theresia dititipkan pada budenya. Dia menjadi begitu dekat dengan kakak perempuan ayahnya itu.

Pada awalnya, Mama kecewa dan sampai menentang keputusan Theresia tersebut. Namun, Theresia tetap kukuh. Ia perlahan-lahan meyakinkan Mama bahwa dirinya kini bukanlah Theresia kecil.

Dia bebas mengambil pilihan dan mengemban konsekuensi dari pilihannya itu. Theresia kini mandiri dan siap mengambil keputusan terpenting dalam hidup.

Theresia percaya, menjadi Muslimah bukan berarti memutuskan hubungan dengan keluarga. Apalagi, sang Bude telah mengasuhnya dengan sangat baik dan penuh kasih sayang. 

"Aku bisa meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja. Bukan berarti aku memutuskan hubungan. Tidak anaknya (Mama) lagi. Meskipun sangat menentang, waktu aku ijab (pernikahan) di masjid, Mama bahkan mengantarkan,"kata anak kedua dari empat bersaudara itu.

Theresia mengakui, Islam bukanlah sesuatu yang asing baginya. Paman dan bibinya beberapa ada yang Muslim. Demikian pula dengan sejumlah sepupunya.
 
Apa yang Theresia rasakan setelah menjadi Muslim? Ia mengaku, perubahan itu tidak begitu drastis. Sebab, Islam bukanlah sesuatu yang asing baginya. Beberapa paman dan bibinya dari pihak ayah merupakan Muslim. Demikian pula dengan sepupunya.

Sejak kecil, Theresia telah melihat banyak kesamaan antara ajaran agama Islam dan Nasrani. Perbedaannya, menurut dia, adalah bahwa dalam ajaran Islam, seorang Muslim hidup lebih sistematis.
Ibadah memiliki aturan-aturan yang lebih detail.  Sebelum shalat, misalnya, orang Islam harus berwudhu. Hal ini kurang ditemuinya dalam keyakinannya yang lama.

Keakrabannya dengan lingkungan Islam membuat Theresia terbiasa dengan beberapa praktik ibadah. Misalnya, puasa Ramadhan. Dalam ajaran Kristen, Theresia sudah mengenal konsep puasa.

Oleh karena itu, sebagai Mualaf, Theresia tidak merasakan kesulitan yang berarti ketika menjalani puasa untuk pertama kalinya.

Jadi pas Ramadhan pertama, sebenarnya berpuasa bukan hal baru buat saya. Kata orang-orang, berat lho pertama kali puasa. Tapi saya, alhamdulillah, menjalaninya biasa saja, jelasnya.
Walau begitu, Theresia menyadari sangat membutuhkan bimbingan sebagai Mualaf. Semangatnya mempelajari Islam dan seluk-beluk kehidupan Nabi Muhammad SAW begitu besar. 

Sang suami membimbingnya sepenuh hati. Namun, Theresia mendapatkan pengetahuan keislaman yang lebih memadai justru dari sosok tetangga rumahnya, Bu M, yang juga tokoh lokal Muhammadiyah.

Theresia mengenang, meskipun beragama Nasrani, Mama bersimpati dengan pergerakan Muhammadiyah. Sebab, organisasi ini dinilainya termasuk bermanfaat besar bagi masyarakat.

Kebetulan ada tetangga sekitar rumah. Dia seorang pengurus pondok pesantren putri Muhammadiyah. Pas-lah. Mama kan dulu kalau ada apa-apa mengarahnya ke Muhammadiyah. Mama juga mendukung (Theresia belajar dengan tokoh Muhammadiyah), kata dia.

Ujian

Namun, kebahagiaan pasangan yang dikaruniai dua orang anak, laki-laki dan perempuan itu, terpaksa kandas pada 2014. Perceraian ternyata membuka kesadaran baru bagi Theresia. Dalam artian, ujian itu benar-benar berat, ujarnya.

Demi menghormati aturan persidangan, Theresia mengenakan jilbab untuk pertama kalinya. Dia mengenang lagi, saat itu caranya berpakaian menunjukkan dirinya memang belum terbiasa dengan hijab.

Setelah sidang keputusan, dengan sopan hakim ketua bertanya kepada Theresia, apakah sehari-hari Theresia mengenakan jilbab. Dia menjawab, hijab belum menjadi kebiasaan.

Lantaran itu, hakim ketua menyarankan agar setelah keluar dari ruang persidangan, Theresia konsisten dengan hijabnya.

"Aku menganggap itu bukan hanya teguran, melainkan dengan status yang baru itu (janda), berarti aku harus menjaga diri. Salah satunya dengan jilbab. Sampai sekarang aku berhijab. Makanya menurutku, aku mendapatkan (kesadaran) proses berjilbabnya itu berat sekali, ujarnya.

Begitu berpisah dengan Ahmad, apakah Theresia kembali memeluk agama Nasrani? Ternyata tidak. Alih-alih demikian, Theresia justru semakin terpacu mendalami Islam.

Dia yakin, Islam merupakan jalan hidupnya. Konsistensi yang sama ia ajarkan kepada dua buah hatinya. Aku bertanggung jawab memberi contoh ke anak-anak. Anak-anak kebetulan juga disekolahkan ke Muhammadiyah. Dalam artian, kuarahkan. Pergaulannya saya upayakan agar seiman, kata dia.

"Cukup Mama yang merasakan pindah agama. Jangan kalian juga. Mama sangat mengharapkan kalian (dua anak Theresia -Red) mendapatkan yang seiman. Makanya, Mama sekolahkan kalian ke sekolah Islam, "kata Theresia.

Dalam pandangan Theresia, seorang Muslim tidak berarti mengubah identitas diri. Sebagai contoh, ia tetap memakai nama kecilnya, Theresia. Di samping alasan yang bersifat administratif, Theresia memandang namanya tidak akan mengurangi keislamannya secara pribadi.

"Alhamdulillah, saya sudah nyaman dengan Islam. Terpikirkan untuk itu (kembali ke keyakinan lama) pun tidak. Beberapa tahun usai perceraiannya, Theresia menikah lagi. Namun, kini dalam bingkai poligami.  

Berita Terkait