Kamis , 26 October 2017, 16:00 WIB

Tinggalkan Kemewahan, Yahya Lebih Memilih Islam

Rep: Marniati/ Red: Agung Sasongko
Onislam.net
Mualaf (ilustrasi).
Mualaf (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pria bernama lengkap Yahya Schroder ini memutuskan memeluk Islam saat usianya masih remaja, 17 tahun. Usai berikrar syahadat, Schroder terpaksa meninggalkan keluarganya dan pindah ke Potsdam dekat Berlin. Padahal, ia lahir dari keluarga dengan ekonomi berkecukupan.

"Ketika saya tinggal dengan ibu dan ayah tiri saya memiliki segalanya; sebuah rumah besar, uang, tv, dan play station. Tapi saya tidak senang. Aku sedang mencari sesuatu yang lain," kenang Schroder.

Perkenalannya dengan Islam bermula ketika ia bertemu dengan komunitas Muslim di Potsdam melalui ayah kandungnya yang telah lebih dahulu bersyahadat pada 2001.

Schroder mengunjungi ayahnya sekali sebulan. Saat mengunjungi ayahnya, ia ikut menghadiri pertemuan komunitas Muslim yang diadakan pada Ahad. Momentum itu membuatnya mulai tertarik dengan Islam.

Sang ayah yang mulai menyadari ketertarikan putranya justru mengatakan bahwa ia tidak akan berbicara tentang Islam kepada putranya.

Ayahnya  menginginkan Schroder mempelajari agama ini dari orang-orang yang memiliki pengetahuan lebih besar dari dirinya.

Ayahnya tidak ingin Schroder berstatus Muslim hanya karena dirinya. Hal itu haruslah karena pengenalan dan pemahaman yang ia rasakan sendiri.

Sejak itulah, Schroder mulai mengunjungi komunitas Musim setiap bulan dan belajar banyak tentang Islam.

Hingga, suatu hari ia mengalami kecelakaan yang cukup fatal saat mengikuti kegiatan tersebut.

Schroder mengikuti kegiatan renang bersama komunitas Muslim, tapi nahas, saat akan melompat ke kolam renang ia mendarat dengan kepala di bawah. Kejadian ini membuat ia mengalami luka serius, sehingga harus dilarikan ke rumah sakit.

Sang dokter mengatakan, luka yang dialami Schroder cukup serius sehingga jika ia melakukan gerakan gerakan yang salah maka akan menyebabkan kecacatan.

Dari sinilah kisah perjalan spiritual Schroder dimulai. Sebelum memasuki ruang operasi, salah seorang teman dari komunitas Muslimnya mengatakan sesuatu kepada dirinya.

Bahwa, hidup dan mati hanya ada di tangan Allah SWT. Manusia harus percaya akan hal itu dan menikmati setiap perjalanan hidup yang diberikan oleh Sang Pencipta, termasuk bentuk ujian.

Ucapan tersebut benar-benar membantu Yahya. Ia merasa lebih baik dan siap memasuki ruang operasi.