Senin , 23 October 2017, 14:15 WIB

Harti Kridanti Mendapat Ketenangan dari Islam

Rep: Ratna Ajeng Tedjomukti/ Red: Agung Sasongko
onislam.net
Mualaf tengah berdoa (ilustrasi)
Mualaf tengah berdoa (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Meski beryahadat karena menikah kemudian pisah, tidak setitik pun ada niat untuk kembali kepada agama lama.

Harti Kridanti (Dantik) merupakan seorang wanita paruh baya yang memilih memeluk Islam 31 tahun lalu. Pilihan itu telah mengubah hidupnya menjadi lebih baik sehingga berbagai inspirasi dan prestasi diraihnya.

Islam bukanlah hal yang baru di keluarganya karena sejak kecil dia sudah hidup di lingkungan yang akrab dengan nuansa tauhid. Dia sering melihat teman-teman kecilnya sibuk berangkat mengaji dan mendalami pelajaran agama Islam, baik di rumah maupun sekolah ketika pelajaran agama berlangsung.

Dantik, sapaan akrabnya, hidup di keluarga yang berbeda agama sejak kecil. Kedua orang tuanya menganut non-Islam, tetapi kakaknya memilih untuk memeluk Islam. Meskipun sang kakak memeluk Islam, hatinya saat itu belum terpanggil. Dantik dan kedua orang tua serta kedua adiknya masih memeluk agama lama, meski kakak keduanya telah bersyahadat.

Menjadi Muslim mulanya hanya mengikuti jejak suami. Saat itu dia bertemu lelaki idamannya di bangku kuliah, Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur. Dantik yang masih mengikuti agama orang tuanya memeluk Islam karena menikah dengan suami yang Muslim. Dia menikah secara islami saat usianya 25 tahun.

Setelah melalui bahtera rumah tangga, banyak kerikil masalah yang terjadi. “Apalagi saat saya berumah tangga, tak ada tuntunan agama yang diberikan, saya merasa kering rohani,” kata dia menjelaskan.

Meskipun Muslim, Dantik harus mempelajari Islam dengan meraba-raba. Dia harus belajar sendiri dengan pengajian di lingkungan rumahnya. Namun, mengaji hanya mendengarkan ceramah keagamaan. Masih ada sesuatu yang kurang dirasakannya. Dia ingin tak hanya berupa doktrin, tetapi juga muamalah keseharian.