Kamis , 19 October 2017, 18:45 WIB

Sadiqah Ismat: Islam Tunjukkan Cara Terbaik Menjalani Hidup

Rep: Rahma Sulistya/ Red: Agung Sasongko
Onislam.net
Mualaf
Mualaf

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sadiqah Ismat, dahulu adalah Stephanie, berasal dari Cape Town, Afrika Selatan. Di sini dia menulis secara rinci tentang perjalanannya menuju Islam, setelah mengalami beberapa fase kehidupan, yang dia gambarkan dalam sebuah cerita yang sangat rumit.

Inilah bagian kesimpulan dari kisah hidup agamanya.

Dia tidak bisa menahannya lagi dan tidak bisa melakukan banyak penelitian lagi. Setelah membaca banyak cerita pertobatan, dan dia mulai percaya, mungkin ini saat yang tepat untuk melepaskan semua yang telah ia yakini dan membiarkan Tuhan menuntunnya. Karena hatinya sudah lama memenangkan Islam, dan ia hanya perlu untuk meyakinkan pikirannya.

Akhirnya, ia membaca artikel internet dan terjemahan Bahasa Inggris Alquran, ia mulai berdoa dengan cara Muslim. Ia berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa untuk memohon bimbingan-Nya, ia meminta kepada-Nya untuk bisa memulai sebuah terobosan.

Suatu hari, ia membaca sebuah artikel berjudul Keajaiban Alquran oleh Khalid Baig. Dalam buku itu dikatakan, sarjana terkemuka Dr Hamidullah menceritakan tentang sebuah karya ilmiah di Jerman oleh para ilmuwan Kristen, yang mengumpulkan semua manuskrip Bible Yunani, karena Bible asli dalam bahasa Aramaic sudah punah.

Mereka mengumpulkan semua manuskrip di dunia dan setelah diperiksa, mereka melaporkan: Sekitar 200 ribu narasi kontradiktif telah ditemukan ... dari delapan yang ada, salah satu ini merupakan hal yang penting ...

Ketika laporan tersebut dipublikasikan, beberapa orang mendirikan sebuah institut untuk melakukan penelitian Alquran di Munich, dengan tujuan untuk memeriksa Alquran dengan cara yang sama. Pada 1933, setidaknya 43 ribu fotokopi manuskrip Alquran dikumpulkan. Ada beberapa kesalahan kecil pada penulisan kaligrafinya, tetapi pada makna dari teksnya tidak ada satupun ditemukan perbedaan di dalamnya!