Rabu , 13 September 2017, 14:52 WIB

Arisa Chan Bersyahadat karena Pelajari Budaya Melayu

Rep: Ratna Ajeng Tedjomukti/ Red: Agung Sasongko
muslimahtokyo.com
Risa Mizuni, Mualaf asal Jepang saat mengunjungi Masjid Tokyo Camii
Risa Mizuni, Mualaf asal Jepang saat mengunjungi Masjid Tokyo Camii

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Kebudayaan Melayu sangat kental dengan Islam. Sastra Melayu, misalkan, banyak berisikan syair pujian untuk Allah dan keinginan hamba untuk berdekatan dengan-Nya, seperti yang banyak dikarang sufi Hamzah Fansuri.

Kajian mengenai budaya Melayu menarik perhatian warga Jepang, Arisa Chan (23 tahun). Dia ingin mengetahui seperti apa kebudayaan tersebut, bagaimana perkembangannya, dan apa pengaruhnya bagi perkembangan kebudayaan di Asia.

Semangat itu lahir dari keinginannya menguasai bahasa yang tidak banyak diminati masyarakat di negerinya. Kemudian, dia meminta nasihat ibunya. Wanita yang melahirkan Arisa itu kemudian menyarankan untuk mempelajari bahasa dan budaya Melayu. Ketika menjadi mahasiswa di sebuah perguruan tinggi, dia memilih program studi bahasa Melayu.

"Saya benar-benar terkejut karena belum pernah mendengar apa itu Melayu, kemudian tertarik dengan Malaysia. Setelah mulai belajar bahasa Melayu saya mulai menyukai Malaysia," tutur dia.

Mempelajari bahasa asing sudah pasti harus sering membuka kamus. Arisa melakukan itu untuk mengetahui makna kata- kata yang belum dia ketahui artinya. Ketika membuka kamus, dia semakin me mahami banyak kata yang berasal dari bahasa Arab. Sebagian kata tersebut merupakan konsep dalam ajaran Islam.

Perjalanannya untuk menemukan makna kata secara mendalam ternyata tak ditemukan dalam kelas kuliah bahasa Melayu. Dia kemudian mengambil mata kuliah Islam. Dua tahun dia habiskan untuk mempelajari Islam. Ketika itu, dia banyak bergaul dengan teman-teman Muslim. Arisa tertarik untuk mengetahui kehidupan mereka sehari-hari.