Kamis , 17 August 2017, 21:30 WIB

Yassini: Allah Menyayangiku

Rep: Ahmad Islamy Jamil/ Red: Agung Sasongko
courtesy onislam.net
Mualaf (ilustrasi)
Mualaf (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bagi Melissa Yassini, masa kecil bukanlah fase kehidupan yang paling membahagiakan dalam hidupnya. Terlahir sebagai anak hasil hubungan di luar nikah, perempuan asal Texas, AS, itu menghabiskan masa kanak-kanaknya tanpa belaian kasih sayang seorang ibu apalagi bapak.

“Ibu saya adalah pencandu narkoba. Ketika mengandung saya, dia masih berumur 20 tahun,” ujar Yassini membuka kisah hidupnya, seperti dikutip dari I Found Islam.

Saat tengah mengandung dirinya itu, ibu kandung Yassini sempat masuk penjara lantaran terjerat kasus hukum. Nenek Yassini akhirnya terpaksa menggadaikan rumah untuk membebaskan sang ibu, dua pekan sebelum kelahirannya. “Begitu saya lahir, nenek dan kakek membawa saya. Mereka berdualah yang mengasuh dan membesarkan saya,” katanya.

Setelah tumbuh besar, Yassini pernah beberapa kali mengunjungi ibunya. Kendati demikian, ia tidak pernah merasa nyaman untuk tinggal bersama dengan wanita tersebut. Belakangan, Yassini akhirnya sadar bahwa hidup terpisah dari sang ibu merupakan pilihan terbaik baginya.

Meski nenek dan kakeknya mau bermurah hati untuk merawatnya, Yassini kecil tidak memperoleh banyak kesenangan seperti halnya anak-anak seusianya. Tidak ada menonton film di bioskop apalagi mengikuti pesta bersama teman-temannya. Hari-hari Yassini lebih banyak dihabiskan dengan belajar di dalam kamar dan merenungkan apa yang harus ia lakukan untuk masa depannya.

Nenek dan kakek Yassini merupakan penganut Kristen. Namun demikian, keduanya tidak pernah pergi ke gereja. Padahal, ada sebuah gereja yang berdiri di seberang jalan rumah mereka.

Berbeda dengan nenek dan kakeknya, Yassini justru rutin menghadiri kebaktian di tempat ibadah tersebut. Bahkan, ia juga aktif terlibat dalam kelompok remaja Kristen.

Akan tetapi, entah mengapa, Yassini tidak pernah merasakan kebutuhan spiritualnya terpenuhi dengan pergi ke gereja. Begitu banyak pertanyaan tentang konsep keimanan dan ketuhanan Kristiani yang tidak pernah terjawab oleh akal apalagi terserap dalam hatinya. “Saya merasa tidak berada di jalan yang benar,” ujarnya. 

Sejak itulah pergulatan batin timbul dalam diri Yassini muda. Menurutnya, mencintai Tuhan tidak bisa dilakukan dengan keimanan yang buta. Cinta yang sejati kepada Sang Pencipta hanya bisa dicapai ketika seseorang telah mengenali Tuhannya.

Namun, Yassini benar-benar tidak mengerti dengan dogma trinintas yang diajarkan para pendeta kepadanya. Ia bahkan mengaku pernah sampai menangis dalam kamar dan berpikir akan masuk neraka akibat gagal memahami apa dan siapa itu Tuhan. “Padahal, saya selalu punya keinginan untuk mendekatkan diri dengan Tuhan dan dicintai oleh-Nya,” kata Yassini.