Kamis , 10 August 2017, 22:45 WIB
Kisah Inspiratif

Peradaban Barat Lupakan Tujuan

Rep: Hasanul Rizqa/ Red: Agung Sasongko
Screen Shoot Google
Roger Garaudy
Roger Garaudy

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA --  Beranjak dari pemahaman akan wujud tuhan, Garaudy meneliti agama. Penelitiannya ini sudah berlangsung sebelum dia memeluk Islam. Tidak seperti, umpamanya, Sigmund Freud (psi koana lis) yang menganggap agama hanyalah fenomena kejiwaan atau Emile Durkheim (sosiolog) yang mencukupkan pengamatan agama sebagai fakta sosial.

Garaudy tidak ingin sekadar meriset agama secara saintifik. Dalam pandangannya, agama bersifat universal sekaligus multidimensi. Sebagai fenomena historis, agama dapat dikaji dengan metode yang memenuhi standar ilmiah. Namun, lanjut Garaudy, (sakralitas) wahyu tetap memegang faktor penting. Jangan hanya lantaran tidak bisa dibuktikan secara logis-em piris, kemudian agama dianggap se bagai pantulan suatu kejadian yang dapat dideteksi metode-metode ilmiah.

Dalam Promesses de l'Islam, Garaudy mengandalkan metode melihat Islam dari dalam untuk mengkaji agama ini. De ngan me tode tersebut, seorang peneliti ti dak mesti menjadi seorang beriman atau Muslim terlebih dahulu. Tidak pula ia mes ti mengingkari Islam sehingga mem biarkan pelbagai syak wasangka memun culkan bias metodologi. Di saat yang sama, Garaudy juga sepenuhnya mening gal kan cara-cara sekular Barat atau Mar xisme. Sebab, keduanya hanya meyakini hal-hal materiel dan memungkiri ihwal transendensi.

Garaudy menyoroti agama Kristen dan sekularisme. Sebab, keduanya mendominasi peradaban Barat modern. Garaudy mengatakan, Kristen mengalami penyimpangan karena tersusupi konsep dualisme filsafat Plato. Itu menjadikan agama itu cenderung mengajak umatnya kepada dunia abstrak, alih-alih aktif menghadapi realitas dengan daya cipta dan juang. Agaknya, Garaudy di sini sejalan dengan kritik Nietzsche terhadap Kristen.

Dia melanjutkan, kemunduran Kristen juga terjadi lantaran diokupasi kompromi politik sejak Konsili Nicea pada 325 Masehi. Institusi Gereja kemudian mengklaim kekuasaan mediator antara umat dan tuhan. Eksesnya termasuk menghalangi kemajuan penyelidikan sains. Contoh kasus yang mengemuka dialami ilmuwan Galileo Galilei (meninggal 1642).

Adapun sekularisme justru bertolak belakang dengan pandangan Garaudy sejak semula, yakni iman mesti menjadi bahan bakar emansipasi kelas-kelas sosial tertindas. Dengan menarik agama sematamata ke ranah pribadi, bagaimana bisa mewujudkan pembebasan itu?

Kekurangan peradaban Barat, menurut Garaudy, adalah fokusnya yang terlampau besar pada ihwal sebab atau syarat terjadinya suatu fenomena. Sehingga, ihwal tujuan amat terabaikan. Menurutnya, Bila mengesampingkan dimensi tujuan, kita sesungguhnya telah menyerah kepada objektivitas imajinatif yang kering.

Pengkajian gaya sekular tidak meningkat dari satu tujuan ke tujuan lain yang lebih luhur. Agamalah yang menentukan dan merumuskan tujuan terluhur dari eksistensi manusia. Di sinilah Garaudy mengingatkan peradaban Barat akan warisan peradaban Islam.