Kamis , 10 Agustus 2017, 21:15 WIB
Kisah Inspiratif

Awal Perjumpaan Garaudy dengan Islam

Rep: Hasanul Rizqa/ Red: Agung Sasongko
Screen Shoot Google
Roger Garaudy
Roger Garaudy

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Perjalanan hidup Roger Garaudy begitu menginspirasi. Begitu banyak hikmah yang bisa diambil dari upayanya menemukan kebenaran hakiki. Simak perjalanan pencarian Garaudy yang akan terbagi dalam beberapa tulisan.

Kadang, perjalanan setiap individu untuk menjadi Muslim menyuguhkan makna besar bagi banyak orang. Hal ini agaknya terjadi pada diri Roger Garaudy. Pria bernama lengkap Jean Charles Garaudy tersebut lahir pada 17 Juli 1913 di Marseille, Prancis, dan wafat pada 13 Juni 2012. Saat berusia 69 tahun, ia mengucapkan dua kalimat sya ha dat.

Namun, filsuf yang tercatat pernah mengajar pada University of Clermont-Ferrand dan Poitiers ini bukan sekadar mualaf. Pemikirannya tentang Islam sudah bermunculan jauh sebelum hidayah Allah datang. Itu berpadu dengan rentetan penga laman hidupnya yang sejak remaja selalu terpikat pada panggilan politik emansipasi. Konteksnya adalah Eropa dalam paruh awal abad ke-20. Peradaban Barat mengalami dua perang akbar. Garaudy berusia 26 tahun ketika Jerman melan carkan se rangan blitzkrieg atas Polandia sehingga memicu Perang Dunia II. Fasis me meruak ba gaikan virus dan mendesak negara-negara Barat ke situasi terburuknya.

Garaudy muda tergugah. Dia meyakini kewajiban kaum terdidik bukan hanya memahami, melainkan terutama meng ubah realitas agar sesuai dengan rasa ke adilan. Dalam masa itu, paham Marxisme dan Komunisme sudah menyebar luas di Eropa sebagai antitesis kapitalisme. Ber beda dengan ayahnya yang ateis dan tidak percaya aga ma, Garaudy memilih Kristen.

Dan, berbeda dengan ayahnya yang kon servatif dalam berpolitik, ia memilih bergabung dengan partai revolusioner, yaitu Partai Komunis Prancis (pada 1933), tulis Muhsin al-Mayli dalam biografi kompre hensif tentang Roger Garaudy, Pergulatan Mencari Islam (terjemahan bahasa Indonesia, 1996). Walaupun menduduki posisi penting di partai tersebut, Garaudy tetap berpe gang teguh pada agama Kristen. Menu rut nya, tidak ada kontradiksi antara per juangan pembebasan kelas sosial, seba gaimana semboyan Karl Marx, dan iman Kristen.

Sebagai aktivis politik, Garaudy juga menimba ilmu filsafat di Aix dan Strasbourg. Kemampuan akademisnya ter bilang di atas rata-rata sehingga ia mam pu mengelaborasi sejarah pemikiran dan politik Barat dengan cukup apik. Hingga ajal menjemput, Garaudy telah me nulis lebih dari 50 buku tentang filsafat po litik dan Marxisme serta belakangan Islam.

Nazi Jerman akhirnya berhasil menduduki Prancis. Imbasnya bagi Garaudy, pada September 1940 ia dan sejumlah rekan antifasisme ditahan. Mereka digelandang ke sebuah kompleks penjara di kawasan gurun Aljazair. Hukuman itu berlangsung 33 bulan lamanya. Namun, inilah awal Garaudy menekuni agama-agama. Di negeri asing itu, ia banyak menghabiskan waktu dengan belajar kitab-kitab suci Taurat, Injil, dan Alquran. Di samping itu, inilah kesempatan pertamanya berinteraksi langsung dengan masyarakat Islam.

Pada Maret 1941, sejumlah tahanan politik melakukan pemberontakan di kompleks tersebut, tetapi cepat dipadamkan. Komandan penjara begitu murka. Semua yang terlibat dibariskan di lapangan terbuka.

Di bawah terik matahari gurun, komandan itu menyuruh regu algojo yang berkebangsaan Aljazair untuk menembak mereka sampai mati. Akan tetapi, seluruh algojo itu menolaknya. Awalnya, Garaudy heran dengan apa yang sesungguhnya terjadi. Sebab, cekcok mulut antara komandan dan para algojo dalam bahasa Arab masih begitu asing baginya.

Belakangan, Garaudy mengetahui pokok persoalannya dari seorang pemban tu Aljazair. Para algojo itu membangkang instruksi sang komandan karena kehormatan sebagai Muslim melarangnya melepaskan tembakan kepada orang-orang tidak bersenjata. Ini adalah kali pertama saya mengenal Islam dalam sebuah kejadian penting dalam hidupku. Dan, ini ternyata lebih banyak memberiku pelajaran daripada studi 10 tahun di Sorbonne (Pran cis), kenang Garaudy, seperti dicatat al-Mayli.