Selasa , 06 June 2017, 13:19 WIB

Ulf Karlsson: Saya tak Lagi Dapat Menyangkal Keberadaan Allah

Red: Agung Sasongko
Onislam.net
Mualaf (ilustrasi)
Mualaf (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ia lahir dan tumbuh di tengah keluarga Swedia, tak religius, tetapi penuh kasih sayang. Pada tahun pertama sekolah menengah pertama, ia menuliskan mimpinya untuk menikah dengan seorang wanita Muslim saat dewasa kelak.

Saat duduk di bangku sekolah menengah atas, ia membaca beberapa paragraf terjemahan Alquran di perpustakaan dan mendapati penjelasan yang logis. Namun, Ulf Karlsson, pria Swedia itu, tak pernah tahu siapa itu Muslim dan juga apa itu Islam. Bahkan, selama 25 tahun pertama hidupnya, ia tak pernah meyakini keberadaan Tuhan.

“Aku (dahulu) adalah contoh nyata manusia materialistis,” Ulf mengawali ceritanya.

Ketika menuliskan mimpinya menikahi seorang perempuan Muslim, Ulf hanya tahu perempuan yang diimpikannya itu menggunakan baju panjang dan berkerudung. Ia bahkan tak ingat apa yang dibacanya saat menekuni terjemahan Alquran di perpustakaan bertahun-tahun lalu.

Karena itu, Ulf bertahan dengan ketidakberagamaannya. “Aku tak dapat menempatkan Tuhan di duniaku sehingga aku merasa tak membutuh kan Tuhan. Kupikir kita punya Newton untuk menjelaskan bagaimana sistem semesta berjalan,” lanjutnya.

Waktu berlalu. Ulf menyelesaikan studinya, bekerja, mendapatkan uang, dan mulai tinggal di apartemennya sen diri. Suatu ketika ia tertarik dengan perangkat fotografi yang ada di komputer yang membuatnya bersemangat mendalami dunia gambar dua dimensi itu.

Suatu hari saat sedang mendokumentasikan aktivitas pasar melalui telelens miliknya, seorang imigran yang tampak marah menghampirinya. Ulf diminta tidak melanjutkan aktivitasnya mengambil gambar ibu dan sau dara-saudara si imigran. “Saat itu aku merasa mulai mengenal Muslim. Mereka orang yang aneh,” katanya.