Selasa , 11 April 2017, 02:27 WIB

Bagi Lydia, Hijab Buat Sikap dan Perilaku Lebih Terjaga.

Rep: Marniati/ Red: Agung Sasongko
Onislam
Mualaf (ilustrasi)
Mualaf (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA --  Bagi Lydia, keputusan memeluk Islam bukanlan perkara yang mudah. Perlu waktu cukup lama, hingga akhirnya perempuan berusia 29 tahun ini merasa yakin dengan agama yang diturunkan kepada Muhammad SAW itu.

Pemberitaan media Barat terkait Islam serta aksi terorisme yang mengatasnamakan agama ini, terutama Tragedi WTC 9/11 di Amerika, menjadi alasan utama kebenciannya terhadap Islam dan penganutnya.

Bahkan, ia begitu membenci Muslim yang menggunakan hijab. Gambaran Islam dalam pikiran perempuan asal Australia ini sangatlah negatif, meski ia sendiri tak sekali pun pernah bertatap muka dan berbincang dengan Muslim.

Akan tetapi, lambat laun rasa benci tersebut berubah menjadi rasa penasaran yang kuat di benak Lydia. Apa dan sebenarnya Islam? Benarkah terorisme adalah wajah asli pemeluk agama ini?

Demi mencari jawaban atas rasa penasarannya itu, Lydia memutuskan mengunjungi Masjid Auburn Gallipoli yang terletak di New South Wales, Australia. Di masjid ini ia berdialog dengan Muslim.

Perbincangannya seputar Islam dari sumbernya langsung membuka cakrawala dan menggesar perlahan anggapan miringnya. Dua persoalan yang selama ini mengganjal pikirannya adalah aksi terorisme dan stigma negatif yang ditujukan kepada Islam bahwa agama ini mendudukkan perempuan layaknya budak. Dua isu ini pula yang kerap menjadi sasaran media-media Barat.