Selasa , 21 Maret 2017, 01:50 WIB

Ini Kisah Opsir Guantanamo yang Bersyahadat

Rep: Hasanul Rizqa/ Red: Agung Sasongko
Guantanamo
Alquran

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sekadar mandi pun mereka dicegah. Selama di Guantanamo, Terry mengaku setiap hari menyaksikan bagaimana para penjaga menyiksa sejumlah tahanan dengan keji. Beberapa tahanan dipaksa telanjang bulat, sedangkan para penjaga, termasuk yang perempuan, tertawa-tawa atau mengambil gambar.

Bagi Terry, kelakuan kawan-kawannya itu justru jauh dari nilai-nilai patriotis Amerika. Di pihak lain, Terry justru semakin terpacu mempelajari budaya-budaya asing milik para tahanan, khususnya Islam. Memang, saat itu Terry masih menganggap Islam hanyalah sebuah kultur dari Timur Tengah yang jauh.

Ia bahkan meluangkan waktu secara disiplin mempelajari Islam. Sedikitnya, satu jam setiap hari Terry membaca buku-buku mengenai agama ini.

Tidak hanya itu, Terry juga kerap berdiskusi secara mendalam dengan beberapa tahanan yang dirasakannya pakar mengenai ajaran Islam.

Keramahan dari para tahanan ini kemudian menimbulkan keguncangan dalam diri Terry. Sebab, pada kenyataannya ia berada dalam kubu yang menyiksa mereka. Setiap hari tak pernah terlewati tanpa kekerasan terhadap para tahanan.

Sementara para tahanan menderita, kelaparan, dan dilucuti hak-hak kemanusiaannya, para penjaga bersenang-senang. Kawan-kawan Terry banyak yang menikmati penderitaan para tahanan.

Suatu malam, kenang Terry, ia tidak bisa tertidur dan terus memikirkan apa yang salah terhadap dirinya. Saya tidak ingin terjaga keesokan harinya. Dan, saya tidak mau ikut-ikutan menyiksa mereka (para tahanan).