Jumat , 17 February 2017, 18:01 WIB

Jadi Anak Adopsi, Linda Peroleh Berkah Hidayah

Red: Agung Sasongko
Courtesy Onislam.net
Mualaf (ilustrasi)
Mualaf (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sedih. Itulah yang dirasakan Linda saat menghadapi realita sebagai anak adopsi. Tapi, pada saat yang sama ia merasa bersyukur. Sebab, dari keluarga yang mengadopsinya, ia mengenal Islam.

“Di satu sisi, saat menyadari sebagai anak adopsi, merasa tidak tinggal dengan keluarga kandung tentu sedih, merasa tersisih. Mengapa orang tua kandung nggak menyayangi. Tapi, di sisi lain bersyukur. Sebab, dengan jalan ini saya menjadi Muslim,” ujar Muslimah mualaf berusia 38 tahun ini.

Linda lahir dari keluarga Tionghoa beragama Kong Hu Chu. Tapi, kelahirannya dianggap pembawa sial keluarga. Sebab, saat sang ibunda mengandung Linda, usaha keluarga tiba-tiba bangkrut. Linda pun diyakini akan membawa dampak negatif bagi keluarga jika tidak diadopsi oleh keluarga lain.

“Bapak ibu saya Tionghoa. Saya diadopsi keluarga Melayu. Menurut kepercayaan orang Tionghoa, kalau ibu hamil mengalami kondisi tertentu atau kejadian tertentu maka anaknya harus diadopsi. Kalau saya, waktu ibu hamil usaha bangkrut. Jadi, dari segi ekonomi tertekan karena bangkrut, ditambah menurut kepercayaan itu harus diasuh orang lain,” papar Linda.

Secara adat, di kota tempat kelahiran Linda, Bagansiapiapi, Riau, adopsi anak dari etnis Tionghoa merupakan hal lumrah yang banyak terjadi. Keluarga Melayu lah yang banyak menjadi rekan “transaksi” adopsi tersebut. “Kebetulan, di tempat saya banyak keluarga Melayu yang nggak punya anak. Kebiasaan di tempat saya, mereka adopsi dari keluarga Tionghoa.”

Hidup di tengah keluarga Melayu, Linda pun dididik dan dibesarkan sesuai ajaran agama Islam. Ia mendapat pendidikan agama yang memadai, hingga mengenyam bangku kuliah. Saat ini, Linda bahkan menjadi guru Bahasa Arab di sebuah sekolah dasar Islam terpadu (SDIT) di Yogyakarta. Kefakihan Linda dalam beragama pun patut diacungi jempol.