Rabu 17 Jun 2015 02:36 WIB

Dalam Sehari, Tiga Mualaf Bersyahadat di Pesantren Mualaf Annaba-Center

Ustaz Syamsul Arifin Nababan (kanan).
Foto: Miit-toronto.org
Ustaz Syamsul Arifin Nababan (kanan).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pada Senin Kemarin, Pesantren Pembinaan Mualaf Yayasan An-Naba Center Indonesia kedatangan tiga tamu istimewa. Ketiganya datang berniat untuk bersyahadat.

Dua dari tamu tersebut merupakan warga Indonesia yakni Meiyanti dan Perrius. Sementara, satu tamu lainnya merupakan warga negara Australia, Pitto.

“Hari ini adalah hari yang sangat baik dan bersejarah bagi kita, khususnya bagi saudara-saudara kita yang akan memeluk Islam. Hari ini juga merupakan momen kali kedua yang baru terjadi di pesantren An-Naba Center Indonesia karena melakukan syahadatan langsung pada hari yang sama, tiga orang sekaligus. Semoga Allah memberkahi kita semua yang hadir pada kesempatan ini, serta mendapat ridha dari Allah Swt., amin yaa rabbal ‘alamin.”, tutur pimpinan Pesantren Mualaf Annaba-Center.

Acara pengucapan syahadat berlangsung secara khidmat. Dimulai dari Meiyanti yang berasal dari Nias, Sumatera Utara.  Kemudian Perrius dan yang terakhir saudara Pitto. Meiyanti yang mengaku telah membandingkan Islam dengan agama lamanya mengatakan bahwa ketika melihat temannya seorang Muslimah yang sedang melakukan shalat.

Ia merasakan dirinya ikut mendapatkan ketenangan. Terlebih ketika melakukan shalat tersebut seluruh tubuh tertutupi oleh kain kecuali wajah. Menurutnya, hal ini sangat berbeda dengan yang ada pada ajaran Kristen. Tidak ada takbir, rukuk, lebih lagi sujud. Dari sinilah ia merasa bahwa Islam sangat berbeda dan ini merupakan sebuah bentuk peribadatan yang ideal untuk menyembah Tuhan..

“Hendaknya menyembah Tuhan tidak hanya dengan mulut yang mengeluarkan suara melalui nyanyian atau bacaan-bacaan, tetapi juga, kalau bisa, dengan seluruh anggota tubuh. Apalagi menurut ustadz, ketika kita sujud ada tujuh titik yang ikut serta pada proses sujud tersebut. Wajah, dua telapak tangan, dua lutut, dan dua ujung jari kaki.”, jelasnya.

Mendengar penjelasan tersebut KH. Syamsul Arifin Nababan merasa bahwa keimanan Meiyanti terhadap Islam sudah mantap, sehingga usai mendengar alasan Mei ingin memeluk Islam tersebut pak kiai langsung mensyahadatkannya. D

Sementara Perrius, pemuda kelahiran Nias ini juga mengaku telah mengamati dan mempelajari Islam sebelum membulatkan tekad untuk mengucapkan kalimat syhadat.

“Saya sudah dua tahun mengamati dan mempelajari Islam, salama itulah terjadi pergolakan batin yang teramat dahsyat pada diri saya. Pertanyaan-pertanyaan seputar ketuhanan dan tata cara beribadah yang membandingkan antara agama Islam dan Kristen ini membuat saya berpikir dan menghabiskan waktu yang cukup lama, bahkan setahun lamanya saya tidak lagi datang untuk beribadah ke gereja," kata dia.

"Suara-suara adzan dan lantunan ayat Al-Quran membuat hati saya semakin tertarik terhadap Islam. Seolah tak mampu lagi menolak ajakan masuk Islam yang ada pada hati saya, akhirnya saya pun memutuskan untuk mengucapkan kalimat syahadat pada hari ini.”, ujar Perrius yang dibimbing syahadat secara langsung oleh Kang Rasyid.

 “Saya sangat senang, dan merasa seperti terlahir kembali.”, ucapnya di hadapan para jamaah.

Terakhir giliran Pitto. Mengingat kemampuan bahasa Indonesia Mr. Pitto yang masih sulit, pengislaman pun dilakukan oleh Dr. Bambang Irawan, MA. dengan menggunakan bahasa Inggris. Prosesi syahadat berlangsung khidmat, meski Pitto mengalami kesulitan untuk duduk seperti orang yang sedang duduk tahyat.

Ditemani dengan kerabatnya, dengan perlahan Mr. Pitto mengucapkan kalimat syahadat dan kemudian ia pun resmi menjadi seorang Muslim.

Setelah syahadat ketiga orang yang baru memeluk Islam tersebut, bapak H. Subhan memberikan tawaran pekerjaan kepada dua orang warga Negara Indonesia, yakni Meiyanti dan Perrius. Mereka berdua pun diberikan kesempatan untuk mengantarkan lamaran pekerjaan mereka ke perusahaan yang dipimpin oleh bapak H. Subhan. 

“Ini merupakan respon yang sangat cepat yang diberikan oleh beliau mengingat rasa kepekaan dan kepedulian beliau terhadap muallaf ini sungguh luar biasa. Beliau memahami benar bahwa seorang yang baru saja mengucapkan kalimat syahadat akan mendapatkan ujian dari Allah.” kata Kiai Nababan seraya membacakan ayat 2 surat al-Ankabut.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement