Senin , 11 September 2017, 19:16 WIB

MTsN 34 Jakarta Ingin Jadi Madrasah Ramah Anak

Rep: Fuji Pratiwi/ Red: Endro Yuwanto
Nonang MR/Republika
Madrasah
Madrasah

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Seiring zaman, metode pendidikan anak-anak kian berkembang. Dulu, memaksa bahkan menghukum keras anak atau siswa dianggap normal saja. Namun tidak lagi sekarang. Anak-anak tetaplah manusia yang butuh sentuhan manusiawi.

Unsur kemanusiaan itulah yang diusung menjadi visi Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 34 Jakarta, yakni unggul dalam iman dan taqwa, iptek, seni budaya, olah raga, dan berjiwa humanis. Wakil Kepala Madrasah Bidang Humas dan Pengembangan Mutu MTsN 34 Jakarta Aris Adi Leksono mengatakan, untuk mencapai tujuan besar itu, maka MTsN 34 mendesain lingkungan madrasah agar ramah anak.

''Dari sana mulai dirancang program hukuman positif seperti menghafal Alquran atau menulis dalam huruf Arab,'' kata Aris kepada Republika.co.id, Senin (11/9).

MTsN 34 lalu mulai merancang program Jumat humanis yang diisi dengan kegiatan senam bersama, bersih lingkungan di dalam dan lingkungan sekitar madrasah, pembiasaan sarapan pagi, dan tes kesehatan berkala antara sebulan sekali di awal tahan ajaran baru dan setelahnya dua bulan sekali dengan bantuan puskesmas kecamatan dan kelurahan. Pembiasaan doa bersama juga dilakukan melalui istighasah dan membaca surat pilihan dalam Alquran yang dilakukan bersama.

Untuk menumbuhkan jiwa wirausaha MTsN 34 menggelar Market Day di mana para siswa berjual beli hasil karya mereka. Juga program unggulan Bank Sampah Nusantara. Saat banjir, sampah menumpuk di sekitar MTsN 34. Belum lagi sampah bekas bungkus jajanan anak-anak. "Lalu madrasah menginisiasi agar sampah tersebut punya nilai tambah," ucap Aris.

MTsN 34 melihat ke depan, yang harus dilakukan adalah komunikasi lingkungan sehingga pengawasan keselamatan dan keamanan anak-anak bisa berkesinambungan, termasuk kerja sama dengan bimas kepolisian untuk memastikan anak-anak sampai ke rumah.

Koordinasi dengan orang tua dan wali murid melalui pertemuan per kelas atau pertemuan komite sekolah juga tetap berjalan. Sehingga mereka bisa mendapat laporan langsung, termasuk melalui komunikasi via grup aplikasi daring. Sebab MTsN 34 melihat yang paling penting adalah pengawasan berbasis lingkungan.

Selain itu, salah satu kriteria lingkungan ramah anak juga terus coba MTsN 34 penuhi. Saat ini mereka punya program pojok baca, tapi masih di pojok ruang kelas dan di perpustakaan. Ke depan pojok baca akan menjadi area membaca luar ruangan ditambah ruang terbuka kreasi anak sehingga para siswa bisa saling memotivasi untuk berkreasi.

Kabid Madrasah Kanwil Kemenag Jakarta juga sudah memberi arahan agar tiap madrasah menyiapkan indikator penerapan madrasah ramah anak. Apalagi, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) juga menyambut baik dan konsep sekolah ramah anak dan madrasah menjadi bagiannya. Terlebih, pengondisian lingkungan pendidikan ramah anak lebih mudah di madrasah karena karakter religius dan mata pelajaran agama yang lebih mendukung.

Komisioner KPAI Rita Pranawati menjelaskan, instrumen sekolah ramah anak terdiri atas kurikulum, sarana prasarana, dan SDM. Tidak sulit meski juga tidak mudah.
Di sisi kurikulum, proses pembelajaran harus ramah anak, tidak ada hukuman fisik dan hukuman dibuat sebagai proses yang mendidik. Proses pendidikannya juga menjadikan anak sebagai subjek, bukan hanya objek sehingga anak-anak juga berpartisipasi. Mendengarkan pendapat anak jadi salah satu kriteria.

"Pengembangan minat bakat juga penting sehingga satuan pendidikan tidak semata mengejar pengetahuan, tapi juga memerhatikan fase tumbuh kembang anak," ungkap Rita.

Dari sisi pengajar, guru harus punya wawasan perlindungan anak yang baik, sekolah bebas dari kekerasan, dan tidak membiarkan hal tidak seharusnya justru terjadi. Begitu juga sarana prasarana yang sesuai kebutuhan anak.

Keterlibatan orang tua dalam pendidikan juga penting karena sebagian besar pendidikan ada di rumah. Maka pelibatan orang tua dalam pendidikan juga salah satu kunci. Pendidikan karater yang dicanangkan tidak hanya dijalankan sekolah, tapi juga di rumah di mana orang tua harus melakukan kontrol.

"Membangun kepribadian yang jadi tujuan utama pendidikan, kebiasaan hidup dan harus selalu dipupuk. Berbeda dengan pengetahuan yang ukurannya jelas," jelas Rita.

Bila MTsN 34 Jakarta adalah rintisan madrasah ramah anak, lanjut Rita, tentu hal itu merupakan inisiasi bagus. Karena konsep sekolah ramah anak mencakup semua satuan pendidikan formal.