Kamis , 02 March 2017, 20:15 WIB

Dasi Merah Vs Biru, Mengapa Para Pemimpin Gunakan Warna Itu?

Rep: Fuji Pratiwi/ Red: Agung Sasongko
REUTERS
President Barack Obama (R) greets President elect Donald Trump at inauguration ceremonies swearing in Donald Trump as the 45th president of the United States on the West front of the U.S. Capitol in Washington, U.S., January 20, 2017.
President Barack Obama (R) greets President elect Donald Trump at inauguration ceremonies swearing in Donald Trump as the 45th president of the United States on the West front of the U.S. Capitol in Washington, U.S., January 20, 2017.

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK -- Untuk pelantikannya pada 20 Januari 2017 lalu, Presiden AS Donald Trump memakai dasi merah sementara mantan Presiden Barack Obama memakai dasi biru. Dalam aneka pertemuan formal, Anda hanya akan menemukan para pria menggunakan dua warna dasi itu.

Warna dasi ternyata membawa pengaruh dan keuntungan tertentu. Karena para politisi senang mengambil keuntungan, tentu soal dasi pun jadi perhitungan.

Menurut psikolog Juliet Zhu dari University of British Columbia  yang menuliskan studi mereka dalam jurnal Science pada 2009, warna merah dan biru meningkatkan performa otak dan sereptivitas pandangan mata. Warna dasi yang digunakan para pemimpin dunia juga menunjukkan nuansa dan menunjukkan apa yang ingin diketahui satu tokoh.

Studi ini menemukan warna merah merupakan yang paling efektif untuk membuat seseorang lebih memerhatikan detil. Sementara biru memacu seseorang berpikir lebih kreatif.

''Riset sebelumnya mengaitkan warna biru dan merah dengan performa kognitif,'' ungkap Zhu seperti dikutip Live Science awal pekan ini.

Zhu dan rekan-rekannya menelusuri performa kognitif lebih dari 600 orang dalam kegiatan yang memerlukan kreativitas atau memerlukan perhatian lebih terhadap detil. Sebagian besar eksperimen dilakukan menggunakan monitor dengan layar berwarna merah, biru, atau putih.

Warna merah meningkatkan performa kegiatan yang berkaitan dengan detil seperti mengingat. Sementara untuk stimulus ide dan kegiatan yang berkaitan dengan kreativitas, biru membuat partisipan dua kali lebih kreatif.

''Terima kasih untuk lampu lalu lintas dan warna pena guru-guru. Kita mengasosiasikan merah dengan bahaya atau kesalahan sehingga kita memerhatikan sesuatu dengan lebih saksama,'' kata Zhu.

Sementara biru diasosiasikan dengan langit, samudera, dan air. Sebagian besar orang mengasosiasikan biru dengan keterbukaan dan kedamaian. ''Biru membuat seseorang merasa aman menciptakan hal kreatif  dan bereksplorasi. Tak heran ini jadi warna kesukaan banyak orang,'' ungkap Zhu.