Minggu, 12 Ramadhan 1439 / 27 Mei 2018

Minggu, 12 Ramadhan 1439 / 27 Mei 2018

Mengenal Masjid Agung Al-Nuri yang Dihancurkan ISIS

Rabu 25 April 2018 04:25 WIB

Rep: Umi Nur Fadhilah/ Red: Ani Nursalikah

Masjid Agung al-Nuri di Mosul, Irak, 7 Agustus 2017.

Masjid Agung al-Nuri di Mosul, Irak, 7 Agustus 2017.

Foto: REUTERS/Suhaib Salem
Menara masjid setinggi 45 meter dijuluki al-Hadba atau Si Bungkuk.

REPUBLIKA.CO.ID, MOSUL -- Nama Masjid Agung al-Nuri terinspirasi dari seorang penguasa Turki Mosul dan Aleppo, Nur al-Din Mahmoud Zangi. Dialah yang memerintahkan pembangunan masjid pada 1172 atau dua tahun sebelum kematiannya.

Dilansir di BBC News, Nur al-Din terkenal karena memobilisasi dan menyatukan kekuatan Muslim untuk mengobarkan jihad atau perang di jalan Allah SWT melawan Tentara Salib Kristen. Selama 28 tahun kekuasaannya, Nur al-Din merebut Damaskus dan meletakkan dasar untuk keberhasilan Saladin sebelum mendirikan dinasti Ayyubi dan merebut kembali Yerusalem pada 1187.

Nur al-Din juga dihormati para jihadis karena upayanya membuat ortodoksi Muslim Sunni menang atas Syiah. Kendati Masjid Agung al-Nuri dihubungkan dengan Nur al-Din, tetapi yang tersisa dari masjid aslinya adalah menara miring, beberapa tiang dan mihrab, ceruk yang menunjukkan arah Makkah.

Menara silindernya dibalut batu bata dengan ukiran rumit yang terinspirasi oleh desain Iran. Atasnya, tertutup kubah kecil berwarna putih.

photo

Masjid Agung al-Nuri sebelum dihancurkan ISIS. (Global News)

Pada saat penyelesaiannya, menara setinggi 45 meter itu berdiri tegak. Namun, saat pelancong dan pemikir abad pertengahan, Ibnu Batutah, mengunjungi Mosul pada abad ke-14, menara itu miring. Kemudian, menara tersebut mendapat julukan al-Hadba atau Si Bungkuk.

Tak ada yang tahu penyebab kemiringan menara. Menurut kepercayaan setempat, menara itu membungkuk kepada Nabi Muhammad SAW. Cerita itu mengabaikan fakta Rasulullah SAW meninggal beberapa abad sebelum masjid itu dibangun.

Namun para ahli percaya, kemiringan disebabkan angin barat laut, efek matahari pada batu bata di sisi selatan, atau gypsum lemah yang digunakan menahan batu bata.

photo

Masjid Agung Al Nuri di Kota Tua Mosul, Irak. Masjid tersebut dihancurkan ISIS yang tak rela melihat masjid dikuasai pasukan Irak.

Selain itu, bom yang menghantam Mosul selama Perang Iran-Irak juga merusak pipa bawah tanah di dekat pangkalan menara. Hal itu melemahkan pondasi.

(Baca juga: UEA Donasikan Dana untuk Rekonstruksi Masjid di Mosul)

Pada 2012, Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan PBB (UNESCO) menghitung menara miring itu memiliki ketinggian 2,5 meter dari sumbu tegak lurus. UNESCO menyebut menara mengalami pelemahan struktural cukup serius, dan berisiko runtuh.

Pada 2 Juni 2014, UNESCO mengumumkan program konservasi dengan pemerintah provinsi Nineveh yang bertujuan menstabilkan menara. Namun, pekan itu terjadi bentrokan mematikan di Mosul. Militan Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS) meluncurkan serangan mendadak di kawasan masjid. Masjid Agung al-Nuri telah menjadi fokus simbolis dari pertempuran antara pasukan Irak dengan ISIS. 

Setelah menduduki kota, ISIS menuju Ibu Kota Baghdad dan merebut kendali sebagian besar provinsi Nineveh, Salahuddin, dan Diyala dalam hitungan hari. Bahkan, pada 12 Juni, militan ISIS membunuh Imam Masjidil Haram Mohammed al-Mansouri karena menolak bergabung dengan mereka.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA