Senin , 16 October 2017, 09:28 WIB

Sejarah Kopi di Islam

Rep: Rahma Sulistya/ Red: Esthi Maharani
Youtube
Kopi
Kopi

REPUBLIKA.CO.ID, Bagi banyak orang, meminum kopi bisa menjadi rutinitas. Tetapi, tahukah Anda, perjalanan kopi terbilang panjang untuk bisa dinikmati seperti sekarang?

Steven Topik menceritakan kopi telah menjadi simbol dalam berbagai praktik spiritual, kontroversi politik, bahkan alat tukar jual-beli. Sejarah kopi dimulai di Ethiopia. Kopi tumbuh liar dan sering digunakan masyarakat setempat untuk upacara komunal dan penahan lapar saat berburu.

Dilansir dari muslim village, kopi mulai menyebar ke bagian lain di benua Afrika. Beberapa kelompok mencoba membuat minuman yang mencampurkan kopi dengan buah berry. Ada pula yang mencampurnya dengan mentega agar mudah dikunyah. Di sana, kopi pun mulai berubah menjadi alat tukar dalam perdagangan. Di Tanzania, kopi menjadi mata uang untuk bisa membeli ternak atau komoditas lain.

Kopi pun mulai menyebar ke seantero dunia berkat jasa para pedagang Arab. Diketahui, muslim Sufi di Yaman sangat menyukai kopi. Pria dan wanita sama-sama berbagi mangkuk berisi kopi. Dulu, kopi diminum untuk mengatasi masalah kesehatan dan diyakini memberikan kedamaian pada peminumnya.  Di Yaman, kopi menjadi barang yang sangat dominan selama 250 tahun. Tak mengherankan kopi menjadi sumber kekayaan baik secara ekonomi dan militer kekaisaran Ottoman.

Di seluruh negara-negara muslim, kopi menjadi kontroversial. Topik menulis, kopi menarik perhatian terutama bagi orang-orang yang menghindari alkohol. Terlebih pada perayaan menjelang malam Ramadhan mereka meminum kopi. Beberapa ilmuwan agama keberatan, prihatin dengan sifat obat yang terkandung dalam kopi, dan diyakinkan oleh interpretasi Alquran yang memperingatkan penggunaan kopi.

Perhatian lainnya adalah munculnya kedai kopi. Pembuatan kopi yang membutuhkan keterampilan membuat kebanyakan pedagang membuka kedai. Para pedagang menyadari tak bisa sekadar menjual biji kopi. Oleh karena itu, mereka membuka kedai kopi kemanapun mereka pergi. Tak pelak, tempat berkumpul baru pun bermunculan dan membuat khawatir beberapa pemimpin agama. Misalnya kekhawatiran kedai kopi membuat orang malas datang ke masjid.

Namun, pada 1500, kopi populer di sekitar Jazirah Arab. Bahkan menurut beberapa cerita (mitos), orang-orang Arab memuji Muhammad dan Malaikat Jibril karena telah membawa kopi itu ke bumi. Orang-orang Timur Tengah meminum kopi mereka dengan warna yang hitam dan tanpa pemanis. Lalu ketika orang-orang Eropa mulai minum kopi mereka tak terkesan dengan rasanya tetapi tertarik dengan manfaat yang terkadung dalam kopi.

Seiring waktu, Topik menulis, perkumpulan tersebut bergeser. Kopi menjadi minuman akademisi Eropa dan kapitalis. Tapi sama seperti di Timur Tengah, kedai kopi yang menjadi tempat bersosialisasi, juga dikhawatirkan beberapa penguasa Eropa. Kekhawatiran ini ternyata bisa dibenarkan, ketika kedai kopi berfungsi sebagai markas untuk merencanakan revolusi di 1789 Prancis, serta di 1848 Berlin, Budapest, dan Venesia.

Dengan pertumbuhan masyarakat konsumen di Eropa dan Amerika Serikat, penikmat kopi menyebar ke kelas pekerja. Ketika tentara Revolusi Amerika menerima jatah rum, justru tentara Perang Saudara itu mendapat kopi. Seorang pejuang mengklaim, jika ada kehormatan yang cukup bagi para veteran untuk membuat sebuah agama baru, mereka akan manjadikan kopi sebagai Tuhan.