Friday, 7 Jumadil Akhir 1439 / 23 February 2018

Friday, 7 Jumadil Akhir 1439 / 23 February 2018

Terungkap, Ulama Kita Pernah Menuliskan Kitab untuk Sultan Maladewa

Senin 17 April 2017 05:00 WIB

Red: Nasih Nasrullah

Manuskrip Kitab Majmu'ah al-Masail al-Fiqhiyyah

Manuskrip Kitab Majmu'ah al-Masail al-Fiqhiyyah

Oleh A Ginanjar Sya’ban*

Pada katalog naskah-naskah yang tersimpan di Perpustakaan Masjid al-Haram (Maktabah al-Haram al-Makki), Makkah, KSA, saya menemukan naskah bernomor (1702 kategori al-Fiqh al-Syafi’i) dengan judul Majmu’ah Masa’il Fiqhiyyah fî al-Fiqh al-Syafi’i

Isi naskah tersebut berisi himpunan fatwa ulama-ulama mazhab Syafii lintas generasi yang menjawab beberapa permasalahan hukum, ditulis dalam bahasa Arab, dengan jumlah keseluruhan 172 halaman.

Yang menarik perhatian saya dari naskah tersebut adalah keberadaannya yang ditulis (disalin) oleh seseorang yang diidentifikasi sebagai orang Nusantara (Jawi) asal Aceh (Asyi), yaitu Syekh Muhammad Thahir al-Jawi al-Asyi. 

Dalam keterangan yang dituliskan Syekh Muhammad Thahir al-Jawi al-Asyi pada halaman akhir naskah, bahwa kitab Majmu’ah al-Masa’il ini ia tulis untuk (bagi) seorang yang bergelar Sultan dan bernama Hasan Nuruddin anak dari Sultan Hasan ‘Izzuddin.

Sekilas kemudian saya pun mencari data tentang siapakah sosok Syekh Muhammad Thahir al-Jawi al-Asyi, sang penulis naskah (katib al-kitab), demikian juga sosok Sultan Hasan Nuruddin bin Sultan Hasan ‘Izzuddan, sang pemilik naskah (shahib al-kitab).

Saya berusaha menanyakan sosok Muhammad Thahir al-Asyi ini kepada sahabat saya dari Aceh, al-Fadhil Masykur Aceh Luengputu Manuskrip Melayu Aceh, kolektor muda naskah-naskah keislaman dari Aceh, karena tidak ada data siapa sosok tersebut, selain tak ada kolofon yang menginformasikan kapan naskah ini ditulis. Saya juga mengirimkan gambar halaman terakhir manuskrip ini kepada beliau.

Ternyata jawaban yang saya dapatkan dari beliau sangat mengejutkan, bahwa buyut beliau dari jalur ibu juga bernama Muhammad Thahir al-Asyi dan pernah lama bermukim di Makkah, yang kemudian menjadi ulama besar di Pedir, Aceh, setelah kepulangannya. 

Di Aceh, beliau dikenal dengan nama Muhammad Thahir Tiro (Tengku Chik [Syik] Cot Plieng Tiro), yang masih sepupu Syekh Muhammad Samman Tiro (Teungku Chik Di Tiro, w 1891 M). 

Kembali ke keterangan dan data yang terdapat pada naskah.

Yang menarik di sini justru adalah sosok Sultan Hasan Nuruddin ibn Sultan Hasan ‘Izzuddin yang tertulis dalam naskah sebagai shahib al-kitab (pemilik kitab), di mana Syekh Muhammad Thahir al-Asyi menulis (salin) kitab Majmu’ah al-Masa’il al-Fiqhiyyah untuk sultan tersebut.

Kedua sosok di atas, yaitu Syekh Muhammad Thahir al-Asyi dan Sultan Hasan Nuruddin, bisa dipastikan hidup satu zaman. Hal ini ditandai dengan penyebutan Tuan Sultan Kami (maulana al-sulthan) oleh sang penyalin naskah, hal yang menunjukkan adanya hubungan antara kedua sosok tersebut.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES

In Picture: Kondisi Setelah Putusnya Jembatan Sunut

Jumat , 23 February 2018, 15:00 WIB