Ahad , 09 April 2017, 20:05 WIB

Disodori Emas Permata, Begini Sikap Umar bin Khatab

Red: Nasih Nasrullah
ROL/Sadly Rachman
Pelataran Masjid Nabawi di Madinah, Saudi Arabia
Pelataran Masjid Nabawi di Madinah, Saudi Arabia

REPUBLIKA.CO.ID, Umar bin Khatab RA merupakan sosok pemimpin teladan. Ia tidak hanya dikenal sebagai sosok yang kerap melakukan blusukan ke rumah-rumah penduduk untuk memastikan kondisi mereka, tetapi tokoh bergelar al-Faruq itu juga pribadi yang tak serakah dan tak cinta dunia. 

Sebagaimana dinarasikan dalam 101 Sahabat Nabi oleh H Andi Bastoni, kisah ini terjadi pascapenaklukkan Ahwaz. Itu merupakan sebuah wilayah yang terbentang di barat Persia. Ekspedisi militer yang dipimpin Salamah bin Qais al-Asyja’I ini penting, khususnya membuka jalan perkembangan Islam ke Timur. 

Singkat kata, kemenangan berada di pihak umat Islam. Harta rampasan perang pun cukup melimpah. Ternyata di antara harta tersebut, ada sebuah perhiasan yang sangat indah dan bernilai mahal. 

Salamah berencana mempersembahkan perhiasan tersebut kepada Khalifah Umar. Mengetahui rencana itu, para prajurit menyepakatinya. Selain itu, ada perasaan bangga dari mereka sehingga dapat memberikan persembahan terbaik sebagai tanda kemenangan kaum Muslim kepada Sang Khalifah.

Salamah lantas memerintahkan dua orang prajuritnya berangkat menuju Madinah guna mengabarkan kemenangan pasukan Muslim atas kaum musyrik Ahwaz. Selain itu, para utusan ini juga akan mempersembahkan sebuah kotak berisi perhiasan indah tersebut kepada Umar. Begitu sampai di Madinah. Kedua utusan itu mengutarakan maksud mereka dan menceritakan jalannya peperangan serta kondisi Salamah bin Qais dan pasukan Muslim pada umumnya di Ahwaz.

“Alhamdulillah. Segala puji bagi Allah yang telah melimpahkan karunia-Nya,” seru ‘Amir al-mu’minin. “Apakah engkau melewati Kota Basrah?”

“Ya,” jawab seorang utusan.

Umar bertanya lagi mengenai keadaan penduduk Basrah serta harga barang kebutuhan pokok di sana. Dua utusan ini menjawab apa adanya. Begitu mengetahui kondisi penduduk Basrah dan sekitarnya dalam keadaan cukup, Sang Khalifah tampak lega. 

Salah seorang utusan lantas mengeluarkan sebuah kotak yang berisi perhiasan hasil rampasan perang di Ahwaz. Dengan sopan, ia menyerahkan benda itu kepada Umar. 

“Allah menganugerahkan kepada kami kemenangan. Seluruh harta rampasan perang pun sudah kami kumpulkan. Di antara harta tersebut, kami menemukan sebuah perhiasan yang sangat indah. Salamah bin Qais menyuruh kami berdua untuk mengantarkan ini kepada Tuan, ‘Amir al-mu'minin sebagai persembahan. Sebab, bila perhiasan ini dibagikan kepada seluruh prajurit, maka tidak akan mencukupi karena jumlahnya hanya satu ini. Sudilah kiranya Tuan menerimanya,” tutur salah satu utusan kepada Khalifah.

Begitu kotak tersebut dibuka, tampak sebuah perhiasan nan indah. Benda yang terbuat dari emas murni itu terlihat cerah dan memantulkan cahaya berkilauan.  

Namun, Khalifah Umar sama sekali gusar melihatnya. Ia kemudian bangkit berdiri dan segera membanting kotak beserta isinya itu ke tanah. Wajahnya merah padam menahan gejolak amarah dari dalam dadanya.

“Apa kalian ingin menjerumuskanku ke dalam neraka jahanam dengan benda ini!? Segera kumpulkan kepingan-kepingan benda ini dan bawa ini kembali ke Ahwaz agar dibagikan kepada seluruh prajurit!” seru Khalifah Umar dengan nada tinggi. 

“Ingatlah kata-kata saya. Bila sampai para prajurit bubar sebelum engkau berdua dan Salamah bin Qais membagikannya, maka aku akan menghukum kalian,” sambung ‘Amir al-mu’minin kemudian.

Segera, kedua utusan Salamah itu memohon diri meninggalkan kediaman Sang Khalifah. Mereka tidak pernah mengira bahwa Umar akan murka lantaran diberikan rampasan perang terbaik sebagai tanda penghormatan. 

Mengertilah mereka bahwa Khalifah tidak mengharapkan apa-apa dari kemenangan pasukan Muslim selain kebaikan untuk risalah Islam dan rakyat yang dipimpinnya. Tidak ada kepentingan pribadi sang Khalifah.

Maka sesampainya dua utusan itu di Ahwaz, Salamah bin Qais mendapatkan jawaban Umar. Karena itu, Salamah segera membagi-bagikan perhiasan tersebut kepada seluruh pasukannya sebagai harta rampasan perang.