Senin , 13 February 2017, 08:10 WIB

Tak Cuma Islam, Ini 'Warisan' Berharga Bangsa Arab untuk Indonesia

Rep: Marniati/ Hasanul Rizqa/ Red: Nasih Nasrullah
Petugas museum memeriksa naskah kuno arab pegon di Museum Sribaduga, Kota Bandung, Selasa (23/6).   (foto : Septianjar Muharam)
Petugas melakukan pemeriksaan rutin naskah kuno Islam koleksi Museum Sribaduga Bandung, Jawa Barat, Selasa (23/6).

Alif Danya Munsyi alias Remy Sylado menulis buku dengan judul dan isi yang cukup menarik, 9 dari 10 Kata Bahasa Indonesia adalah Asing. 

Dalam artikel “Arab Bawa Adab”, Remy Sylado berpendapat, dalam hal peradaban dan ilmu, bangsa Indonesia berutang budi kepada bangsa Arab. Kata-kata adab, ilmu, atau akhlak itu sendiri berasal dari bahasa Arab. 

Bangsa Indonesia mengenali itu semua menyangkut pemahaman dan pelembagaannya sejak bersentuhan dengan Islam. 

Begitu banyak kata serapan dari bahasa Arab dalam bahasa Indonesia. Contoh lain kata-kata serapan dari bahasa Arab, yakni simak (dari sama’, mendengarkan), alim, musyawarah, napas, khatulistiwa, soal, makalah, naskah, akrab, dan asyik.

"Gambarannya, jika kita baca sebuah kamus bahasa Indonesia yang lengkap, niscaya dalam setiap lembar halaman, mulai dari a sampai z, akan kita dapati di situ sekurangnya lima kata serapan dari bahasa Arab,” demikian tulis Remy Sylado.

Sebagai bahasa keagamaan dan kebudayaan, dapat dilihat dari digunakannya bahasa Arab sebagai bahasa kitab Suci (Alquran), bahasa ritual (peribadatan), bahasa budaya keislaman dan bahasa keilmuan. 

Sebagai bahasa ritual, bahasa Arab digunakan dalam adzan, shalat, dan doa. Sebagai bahasa kebudayaan dapat diihat penggunaannya dalam ekspresi seni baik seni suara, sastra, drama, seni rupa, dan lainnya, baik tradisional maupun modern.

Melalui wahana keagamaan dan kebudayaan, bahasa Arab memberikan andil yang besar bagi pengayaan kosakata bahasa Indonesia. 

Contohnya adalah kata-kata yang digunakan dalam istilah keagamaan seperti syahadat, salat, zakat, haji, rukun, syarat, doa, wahyu, sunah, wajib, makruh, haram dan lainnya.

Adapun kata-kata yang digunakan dalam ketatanegaraan, seperti Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Mahkamah Agung, Mahkamah Konstitusi, Kehakiman dan Pengadilan. 

Selain itu, kata-kata yang digunakan dalam ilmu pengetahuan yaitu ilmu, mutakhir, sajak, syair, manfaat, azas, aljabar, makalah, kuliah, resmi dan sebagainya  

Penyerapan dari bahasa Arab juga membawa revolusi di bidang aksara. Dalam buku Dari Bahasa Melayu Sampai Bahasa Indonesia, UU Hamidy menjelaskan bahwa peralihan ini bisa dikatakan bermula dari Kerajaan Melaka. 

Kerajaan ini bersinar seiring dengan meredupnya Kerajaan Sriwijaya sebagai pusat kebudayaan di Nusantara bagian barat. Semasa Sriwijaya, yang berkembang adalah agama Hindu-Buddha, sedangkan Islam lebih tersebar di Kerajaan Melaka. 

Dalam tradisi tulisan, di era Sriwijaya yang dipakai adalah huruf Pallawa yang berasal dari India. Islam datang membawa aksara Arab, sebagaimana bahasa Alquran.

Karena itu, ada penyesuaian bunyi bahasa (fonem) Melayu ke dalam aksara Arab. Apalagi, beberapa fonem Melayu tidak ditemukan hurufnya dalam sistem bahasa Arab. Misalnya, c, ng, g, dan ny

Masing-masing dilambangkan dengan huruf kha, ‘ain, kaf, dan nun —yang semuanya diberi penanda titik tertentu. 

Kitab Sejarah Melayu yang ditulis Tun Seri Lanang pada 1612 merupakan dokumen penting yang merekam perkembangan bahasa Melayu dengan aksara Arab. 

Selain Kerajaan Melaka, Kerajaan Aceh juga menjadi mercusuar perkembangan bahasa Melayu. Dua kerajaan Islam ini menumbuhkan ulama-ulama besar, seperti Hamzah Fansuri, Syamsuddin al-Sumatrani, dan Nuruddin ar-Raniri. 

Mereka inilah yang ikut menyumbang perkembangan bahasa Melayu dengan jalan menulis. Melalui karya-karyanya mereka memasukkan kata-kata bahasa Arab. 

Di kemudian hari, karya-karya ini menjadi rujukan dalam merumuskan bahasa Indonesia dan mengangkatnya melalui kodifikasi bahasa Melayu.

 

 

 

Berita Terkait