Senin , 06 Februari 2017, 04:17 WIB

Perahu Layar Sultan Tidore dan Penyebaran Injil di Papua

Red: Muhammad Subarkah
Kapal Sultan Tidore
Masjid Patimburak di Fakfak, Papua Barat, menandai hadirnya Islam di tanah Papua sejak tahun 1700 lampau.

Khusus untuk kapal layar itu, jelas disediakan oleh Sultan Nuku. Peristiwa ini terjad pada tahun 1855 M.  Berkat kapal itu maka ajaran Kristen menyebar ke kawasan Teluk Cendrwasih, di Biak, dan Yapen (Serui), hingga ke wilayah ‘Kepala Burung’ (Sorong).

Dan sebelum itu memang sudah ada hubungan Papua dengan Sultan Tidore melalui Kepulauan Raja Ampat. Malahan sistem pemerintahan di Kerajaan Raja Ampat itu mengadopsi sistem kekuasaan Kerajaan Ternate dan Tidore.

Ini, jelas artinya peradaban Islam dan Kristen adalah peradaban yang berjalan bersamaan di Papua. Dan selama itu dan hingga kini tak ada masalah. Bahkan, hubungan sudah sampai berlangsung hubungan keluarga.

Maka, jangan heran bila di keluarga itu banyak ditemukan anggota yang berbeda agama, yakni Islam dan Kristen. Tapi mereka tetap bersaudara. Sedangkan wilayah penyebaran agama Islam itu bermula dari Raja Ampat ke Fakfak dan Kaimana (Papua Barat).

Pada UU Otus Papua no 21 tahun 2001 di huruf ’t’ tertuang mengenai definisi orang asli Papua. Isinya yang dimaksud orang Papua itu bukan saja mereka yang berasal dari keturnan suku-suku asli dengan ras Malenesia, tapi juga dan/atau pengakuan terhadap mereka yang lahir, besar, dan moyangnya berkonribusi terhadap kemajuan orang Papua.

Untuk itulah, sekali lagi,  kemajuan orang Papua itu tidak didapat dari dirinya sendiri, tapi dari kontribusi orang lain. Ini juga yang membedakan dengan aturan yang ada UU Otus Aceh.

*Frans Maniagasi, cendekiawan Papua alumni Fispol UGM.