Senin , 06 February 2017, 04:17 WIB

Perahu Layar Sultan Tidore dan Penyebaran Injil di Papua

Red: Muhammad Subarkah
ist
Kapal Sultan Tidore
Kapal Sultan Tidore

Oleh: Frans Maniagasi*

Ada catatan yang berkelabt dalam pikiran ketika melihat sketsa Kapal layar Sumbangan Sultan Tidore untuk dua misionaris asal Jerman Carl W Ottow dan Johan G.Geisler yangg digunakan sebagai sarana tibakan mereka di Mansinam Manokwari (Tanah Papua) - pada 5 Februari 1885 - 162 tahun yg lalu (2017).

Catatan ini menjadi kian penting karena menurut pendapat saya ada dua hal yang menjadi latar belakangnya. Pertama, selain tanggal 5 februari khusus bagi masyarakat Papua terutama umat Kristiani di Tanah Papua diperingati sebagai Hari Pekabaran Injil. Hal kedua, adalah orang Papua tak boleh lupa terhdp kontribusi atau sumbangan orang lain seperti Sultan Tidore yg telah memberikan kapal layarnya sebagai "alat" utk kemajuan orang Papua dan peradabannya.

Artinya bahwa hari ini orang Papua bisa mencapai peradaban dan kemajuan seperti saat ini karena ada kontribusi ada sumbangsih dari orang lain dan saudara saudara lain bukan karena orang Papua sendiri. Termasuk para guru guru Injil, guru sekolah, pamong praja yg dtg dan berasal dari luar Papua bersamaan dgn masuknya Pekabaran Injil itu.

Bahkan satu hal yg penting adalah dalam meletakkan dan memajukan peradaban orang Papua didalamnya diletakkan dan dibangun pula "tradisi intelektual" untuk  orang Papua lewat pendidikan pola berasrama oleh Zending Protestan dan Misionaris Katolik.

Sayangnya setelah 162 tahun Injil masuk di Tanah Papua itu "tradisi intelektual" itu sedang mengalami semacam krisis intelektual yg tadinya berbasis pada lokal kontent atau local knowledge dengan nilai nilai kekristenan.
Bagi saya dari momentum peringatan 162 tahun Pekabaran Injil ini bagaimana merekonstruksi dan merevitalisasi "Tradisi Intelektual"itu. Ini tantangan kita kedepan dalam negara dan bangsa ini.