Ahad , 25 Desember 2016, 10:39 WIB

Masjid Kaliwulu, Potret Akulturasi Berbagai Budaya

Rep: Lilis Sri Handayani/ Red: Agus Yulianto
BP3 Serang
Masjid Kaliwulu Cirebon
Masjid Kaliwulu Cirebon

REPUBLIKA.CO.ID, CIREBON -- Sebagai pusat penyebaran Islam di tanah Jawa, Cirebon memiliki banyak bukti peninggalan syiar Islam. Salah satunya adalah masjid. Tak hanya berperan sebagai tempat ibadah, masjid pada masa itu juga memiliki fungsi yang lebih luas lagi. Salah satunya sebagai pusat dakwah. Bentuk bangunan masjidnya pun mewujudkan akulturasi berbagai kebudayaan yang berkembang pada zaman tersebut.   
 
Masjid yang menjadi bukti syiar Islam di Cirebon itu salah satunya adalah Masjid Syekh Abdurrohman atau yang dikenal dengan sebutan Masjid Kaliwulu, di Desa Kaliwulu, Kecamatan Weru, Kabupaten Cirebon. Awalnya, Masjid Kaliwulu didirikan di daerah Silintang. Konon, pendiri awal masjid itu adalah Syekh Jumadil Kubro pada 1346. Namun sayang, perkembangan dakwah di daerah Silintang kurang berkembang. Masjid itu kemudian dipindahkan ke Blok Kauman oleh Syekh Abdurrohman.
 
‘’Banyak versi mengenai kepindahan masjid ini karena pondasi masjid masih ada di Silintang, sedangkan masjid yang sekarang berada di Kauman tanpa pondasi,’’ ujar Kaum Masjid Syekh Abdurokhman, Kaliwulu, Jaynudin.
 
Jaynudin menuturkan, ada versi yang menyebutkan bahwa masjid itu terbang atau berpindah secara ghaib. Namun, secara logika, masjid di zaman itu dibangun dengan sistem kuncian. Dengan demikian,  bisa dengan mudah dibongkar pasang dan dipindahkan.

Menurut Jaynudin, ketika era Sunan Gunung Jati, Masjid Kaliwulu dibangun ulang dengan arsiteknya adalah Raden Sepat (murid Sunan Kalijaga, yang juga mengarsiteki pembangunan Masjid Sang Cipta Rasa di lingkungan Keraton Kasepuhan Cirebon). Raden Sepat dibantu oleh Ki Nataguna (pembuat kereta Singabarong dan Paksinagaliman).

Hasilnya, Masjid Kaliwulu bercirikan masjid tradisional di Jawa. Masjid itu berdenah bujur sangkar, beratap tumpang satu dan punya empat tiang utama. Selain itu, ada hiasan di puncak atapnya (memolo) serta adanya makam dari tokoh setempat yang dimakamkan di halaman masjid.
 
Bangunan masjid saat ini ada lima bagian. Yakni, bangunan utama yang merupakan bangunan asli, yang ditopang oleh empat soko guru, 12 soko penyangga dan satu soko bajang. Dengan demikian, jumlah tiang di bangunan utama berjumlah 17 yang merupakan simbol 17 rakaat shalat wajib.
 
Di sebelah selatan, terdapat bangunan khusus sebagai tempat shalat bagi jamaah perempuan (pewadonan). Selain itu, adapula satu bangunan baru yang menyambung dengan bangunan utama. Di samping kiri dan kanan bangunan baru tersebut, terdapat dua bangunan lain yang didirikan pada era 90-an dengan tiangnya yang terbuat dari kayu balok berukuran 20×20 cm, tanpa dinding.

Untuk masuk ke halaman Masjid Kaliwulu, terdapat pintu di sisi barat dan timur yang berbentuk gapura paduraksa dan terbuat dari kayu. Paduraksa adalah pintu masjid yang dibuat rendah dengan motif sayap, yang mengandung filosofi untuk menghadap Allah SWT harus menunduk. Gapura paduraksa merupakan ciri khas masjid kuno khususnya di Cirebon. Setelah melewati pintu itu, terdapat halaman pertama sisi utara dengan sebuah pendopo baru untuk istirahat dan shalat Jumat.

Untuk masuk ke dalam ruang utama masjid, juga terdapat pintu berbentuk paduraksa. Pada dinding sisi luar dari kedua pintu tersebut, banyak dihiasi dengan piring-piring keramik beragam motif dan ukuran.

‘’Tahun berdirinya Masjid Kaliwulu ini tidak diketahui secara pasti karena tidak ada naskah atau inskripsi yang ditemukan,’’ terang Jaynudin.
 
Namun, pada pintu masuk ada inskripsi yang memberi info tentang rehab masjid. Yakni bertuliskan Pinata Ing Pintu Andangdani Ing Masjid Akhir Wayah Dina Rabo Wulan Rajab Tanggal Rong Puluh Ing Tahun Alif Hijrah Nabi Sewu Rong Atus Pitulikur.
 
Menurut Jaynudin, kalimat itu jika diterjemahkan kurang lebih artinya ditatah di pintu masjid yang berakhir diperbaiki pada hari rabu bulan Rajab tanggal dua puluh tahun alif seribu dua ratus dua puluh tujuh hijrah nabi. Perhitungan terhadap tahun 1227 H itu jika dilihat tahun masehinya adalah 1826 M.
 
‘’Itu berarti, masjid ini sudah berdiri lebih tua dari pada tahun yang disebut pada inskripsinya,’’ tutur Jaynudin.
 
Jaynudin menjelaskan, selain sebagai tempat shalat lima waktu dan shalat Jumat, setiap hari di Masjid Kaliwulu juga diadakan pelajaran baca tulis Alquran untuk anak-anak, pengajian kitab klasik untuk jamaah dewasa dan tawasulan di maqbaroh Buyut Kaliwulu. Selain itu, masjid juga digunakan untuk  peringatan hari besar Islam.
 
‘’Ada pencucian pusaka pada 1 Muharram, bubur suro pada 10 Muharram, ngapem di bulan Safar dan masih banyak lagi,’’ kata Jaynudin.
 
Sementara itu, putra daerah asli Kaliwulu, Muhammad Akbar menambahkan, arsitektur Masjid Kaliwulu juga menunjukkan percampuran antara budaya Jawa-Hindu-Islam-Cina.
 
‘’Selayaknya kita harus bisa menjaga dan melestarikan masjid peninggalan leluhur sebagai bukti sejarah Islam dan jejak peninggalan para wali pada zaman itu,’’ tandas Akbar.