Ahad 13 Nov 2016 08:25 WIB

Pakar AS: Barat, Soal Demokrasi, Contohlah Umat Islam Indonesia

Indonesianis asal AS, Robert W Hefner
Foto: Nashih Nashrullah/Republika
Indonesianis asal AS, Robert W Hefner

REPUBLIKA.CO.ID, Selalu ada yang menarik dari Indonesia, di mata Robert W Hefner Direktur Institute on Culture, Religion, and World Affairs in the Pardee School of Global Studies Boston University, USA.

Bagi pria yang sudah malang melintang mengkaji Indonesia itu, Bangsa Indonesia telah memberikan contoh yang baik kepada dunia bagaimana Islam bisa bersinergi dengan demokrasi.

“Indonesia sebagai contoh, tidak ada clash antara Islam dan demokrasi,” kata penulis buku Geger Tengger ini kepada wartawan Republika, Nashih Nashrullah.  

Menurut pakar antropologi ini, bangsa Indonesia dituntut mampu mengatasi beragam fenomena termutakhir yang muncul sebagai dampak globalisasi. Pluralitas adalah sebuah keniscayaan yang mesti dikelola dengan baik.

Tantangan besar bagi negara di belahan bumi manapun saat ini dalah menghadapi  populisme exclusive, motivasi ketegangan yang menganggap entitas lain yang berbeda adalah ancaman.   

Di temui di sela-sela Diskusi Pra-Simposium Internasional Kehidupan Keagamaan (International Symposium on Religious Life) yang diselenggarakan Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Agama, Selasa (4/10) di Jakarta, Hefner mengungkapkan sejumlah pandangannya terhadap dinamika Islam dan Muslim Indonesia dalam perspektif Barat. Berikut kutipan perbincangannya:   

 

Bagaimana Anda memotret secara umum Islam dan Muslim Indonesia saat ini?

 Umat Islam di Indonesia, telah mencapai keberhasilan di berbagai bidang yang cukup cemerlang dan mengesankan. Di bidang pendidikan, telah banyak berdiri perguruan tinggi berkualitas seperti UIN dan universitas Islam swasta, seperti perguruan-perguruan tinggi Muhammadiyah. 

Perguruan tinggi itu, termasuk terbaik di dunia. Kalau boleh saya bilang begitu. Mereka unggul dari segi kualitas dan menampakkan semangat menghidupkan geliat keilmuan Islam pada Abad Pertengahan.

Ketika itu terjadi persinggungan antara sarjana Muslim, Persia, India, dan Yunani. 

Mereka tidak hanya belajar dari Yunani, tetapi juga di beberapa bidang, mengkaji lalu melakukan inovas-inovasi lebih lanjut, agar tradisi itu lebih kaya.

Kita tinggal di suatu era, dunia Muslim mengalami periode yang sedemikian kaya dengan ilmu pengetahuan. Dan saya mengapresiasi, perguruan tinggi Indonesia, termasuk deretan perguruan tinggi yang mengambil jalan ke sana. 

Kedua, di bidang politik, kita bisa melihat, Indonesia adalah contoh keberhasilan negara demokrasi dengan mayoritas Muslim sebagai penduduknya.

Bahkan, tidak terlalu berlebihan, terbaik di dunia, dalam konteks ini. Bukan demokrasi palsu dan pura-pura. 

Indonesia adalah demokrasi yang benar, dengan semua tantangan dan kekayaan. Indonesia sebagai contoh, tidak ada clash antara Islam dan demokrasi.

Menurut saya Indonesia contoh terbaik di dunia dan harus dipublikasikan ke seluruh dunia, agar benturan peradaban, yang kerap dibicarakan baik oleh pengamat, di Barat seperti Samuel P Huntington beliau sudah wafat dalam tesisnya The clash of civilizations, tetapi juga kelompok yang sedikit ekstrem di dunia Muslim sendiri yang memandang seolah-oleh ada kecurigaan dan benturan, itu terbantah dengan sendirinya.

Indonesia sebagai pilot project demokrasi yang riil, memberikan banyak pelajaran kepada seluruh dunia. Dua hal ini yang saya tekankan. Dan saya sangat optimis masa depan Indonesia.  

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement